MALUKUnews, Ambon: Ketua DPD Golkar Kota Ambon, yang juga Walikota Ambon, Ricard Lohenapessy, dinilai tak punya kontribusi bagi partai Golkar pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 kemarin.

Sikap pasif Louhenapessy ini membuat gerah Ketua Bidang OKK Partai Golkar Maluku, Richard Rahakbauw. Menurut Rahakbauw, jika Louhenepssy tidak peduli dengan partai Golkar lagi, lebih baik mundur saja dari ketua DPD Golkar Kota Ambon.

Seperti dilansir dari harian Kabar Timur, Rahakbauw, mengatakan, Louhenapessy sebaiknya meletakan jabatan ketua Golkar sebelum dipecat. “Eloknya mundur dari sekarang, ketimbang dipecat.Harus berjiwa besar letakan jabatan. Harus ksatria dan legowo dong letakan jabatan di Golkar,’’ pintahnya.

Menurutnya, percuma tetap bertahan sebagai Ketua DPD Golkar Kota Ambon, tapi tidak ada kontribusi bagi partai. ‘’Jangan pertahankan jabatan tapi, tidak berikan kontribusi. Pak Ris sebaiknya istirahat dari aktivitas politiknya,’’ saran Rahakbauw yang juga Wakil Ketua DPRD Maluku ini.

Ditanya kenapa Ketua DPD Golkar Kota Ambon didesak mundur ketimbang, Ketua DPD Golkar Buru dan Ketua DPD Golkar Seram Timur? Ditanya demikian, Rahakbauw mengatakan, Buru dan Seram Timur beda. “Kedua daerah itu, gagal, tapi ada prestasinya. Tapi, Kota Ambon tidak ada prestasi, malah gagal total,” sambungnya.

Dia lantas mencontohkan, suara DPR di Buru anjlok, tapi Ramly Umasugy mengirim dua Caleg Golkar ke DPR Provinsi. Abdul Mukti Keliobas, meski kursi Golkar di SBT hilang, tapi suara DPR RI di Pileg, cukup signifikan. “Umasugy dan Keliobas ada plus minusnya. Tapi, pak Ris minus semua. Ini yang mesti kita diminta pertangungjawaban,’’tandasnya.

Dia menjelaskan, ketika Pileg 17 April 2019 lalu, Caleg DPRD provinsi dan kota Ambon, berdarah-darah kerja sendiri tanpa bantuan atau uluran tangan Louhenapessy. “Saya lolos karena hasil kerja saya sendiri. Begitu juga caleg Golkar Kota Ambon, yang lolos itu hasil kerja mereka. Walikota tidak bantu kerja bagi kita kader Golkar,’’tuturnya.

Louhenapessy, lanjut dia, justeru kerja memenangkan caleg NasDem dan PPP. Padahal, Rahakbauw mengaku, dirinya sebagai ketua tim pemenangan Richard Louhenapessy-Syarif Hadler untuk perebutkan kursi Walikota dan Wakil Walikota Ambon, tahun 2017 lalu. “Ketika itu militansi kader kerja di Pilwakot luar biasa. Rekomendasi Golkar juga cuma-cuma.Tapi, apa yang kami dapat. Tidak ada,’’ingatnya.

Menyinggung ini sebagai kekecewaannya akibat Golkar gagal raih kursi Ketua DPRD Maluku, ’’Saya tidak kecewa. Saya malah bersyukur kita wakil ketua dewan. Saya tidak ambisi,’’elaknya.

Dalam waktu dekat, lanjut dia, hasil evaluasi terkait kinerja ketua DPD II Golkar akan disampaikan ke DPP Golkar. “Kita akan sampaikan hasil evaluasi. Kita minta kepala daerah yang tidak maksimal pecat saja. Utamanya, Walikota yang hanya memperhatikan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Ini fakta,’’pungkasnya. (Qin/KTM)