Oleh: Windu S Manusiwa (Mahasiswa Fakultas Bioteknologi, Universitas Kristen Duta Wacana)

MALUKUnews: Malaria merupakan salah satu jenis penyakit mematikan yang disebabkan oleh protozoa dari genus Plasmodium, dengan nyamuk Anopheles betina yang berperan sebagai vektornya. Menurut Soedarto tahun 2009 pada manusia sendiri terdapat empat jenis spesies Plasmodium yaitu, P. falciparum, P. vivax, P. ovale, P. Malaria. Namun dari keempat spesies tersebut P. falciparum dan P. vivax dinilai menjadi penyebab kasus malaria terbanyak dan terberat di Indonesia. Pada umumnya gejala yang muncul setelah gigitan nyamuk malaria adalah demam, menggigil, berkeringat, diare, mual, muntah, sakit kepala, dan kemungkinan besar berujung pada komplikasi berupa gangguan pernapasan, gagal ginjal dan malaria serebral.

Di Kota Ambon sendiri malaria dinilai masih menjadi penyakit endemis dengan jumlah penderita yang cukup tinggi. Ambon dinyatakan tergolong kedalam daerah endemis sedang dengan nilai Annual Paeasite Incidence (API) sebesar 1-5%. Berdasarkan data yang diperoleh dari Bagian Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP&PL) Dinkes Kota Ambon, dapat dilihat bahwa kasus malaria cenderung mengalami penurunan setiap tahunnya. Dimana pada tahun 2010 tercatat 8.257 kasus malaria klinis dan 3.490 kasus malaria positif dengan nilai API sebesar 2,18%. Kemudian pada tahun 2011 terjadi peningkatan kasus malaria klinis dan malaria positif menjadi 5.592 dan 1.662 kasus secara berturut dengan API 4,73 %. Di tahun 2012 terjadi penurunan dengan total kasus sebanyak 8.308 kasus (API 4,49%), dan 9.021 kasus pada tahun 2013 (API 4,14%). Kemudian di tahun 2014 sampai dengan tahun 2016 diperoleh nilai API setiap tahunnya secara berturut adalah sebesar 4.31%, 3.6% ,dan 3.14%.

Dalam upaya eliminasi malaria pada daerah endemis rendah, Kementerian Kesehatan menyusun sebuah program khusus. Beberapa diantaranya adalah dilakukannya riset mengenai pengobatan tepat dan kasus aktif (Mass Blood Survey), penguatan surveilans migrasi, surveilans daerah yang rawan perindukan vektor (reseptif), serta penguatan rumah sakit rujukan. Namun dari sekian program tersebut, pembagian kelambu anti nyamuk kepada kelompok beresiko tinggi dinilai menjadi program paling efektif dalam hal percepatan eliminasi malaria di Kota Ambon. Menurut Elizabeth Jane Soepardi selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, "Secara umum upaya yang efektif adalah tidur menggunakan kelambu, penyemprotan dinding rumah dan menggunakan repellent. Sementara yang lain adalah dengan manajemen lingkungan, termasuk menebarkan ikan pemakan jentik, seperti ikan mujair dan cupang," dilansir dalam kutipan Kemkes.

Hari malaria sedunia yang akan diadakan pada 25 April mendatang, seolah menjadi alarm bagi setiap masyarakat untuk bersinergi mengupayakan eliminasi malaria di Kota Ambon. Masyarakat tentunya dapat ikut berpartisipasi dengan cara menerapkan metode-metode eliminasi malaria yang telah dipaparkan pada pernyataan diatas. Dengan demikian Kota Ambon dinilai mampu mencapai target bebas malaria secara nasional pada tahun 2030 mendatang. (***)