MALUKUnews, Ambon: Dua ekor ikan duyung atau dugong mati ditemukan warga di perairan sebelah barat Ur Pulau, Kepulauan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara. Warga dan instansi terkait kemudian mengubur dua dugong malang itu.

Dua ekor duyung ditemukan oleh Amus Rumheng, nelayan asal Ur Pulau. Awalnya, Amus memasang jaring benang dengan lebar mata jaring 3 inc, pada Minggu (20/10), lalu.

Saat Amus mengangkat jaringnya pada Senin (21/10), tak sengaja terdapat dua ekor dugong yang tersangkut dalam jaring tersebut (bycatch/tangkapan sampingan). Ketika jaring sudah dinaikkan, dua ekor dugong tersebut telah mati karena mengalami luka lecet di bagian tubuh dan ekornya.

Amus segera membawa dua ekor dugong ke pesisir Ur Pulau dan meminta bantuan Petrus Rahakauw untuk melaporkan kejadian pada instansi terkait agar peristiwa ini ditindaklanjuti. “Saya pikir hewan ini kalau masih hidup, sudah saya lepas. Tetapi sayangnya mereka sudah mati,” ucap Amus.

Laporan yang diterima langsung ditindaklanjuti oleh Kepala Resort KSDA Tual Justinus P. Yoppi Jamlean bersama Pangkalan PSDKP Tual, Dinas Perikanan Maluku Tenggara dan WWF-Indonesia untuk menuju lokasi kejadian. Menempuh perjalanan sekitar 1 jam tim evakuasi yang dipimpin Resort KSDA Tual tiba di Ur Pulau pukul 16.00 WIT.

Proses dimulai dengan pengambilan data morfometri dugong, interview kronologi kejadian kemudian proses pemusnahan bangkai. Diduga 2 individu satwa dugong tersebut merupakan induk betina dan anak jantan dengan ukuran masing-masing panjang moncong ke lekukan pada pangkal ekor 260 cm dan 207 cm.

Andreas Hero Ohoiulun, Project Executant WWF Indonesia–Inner Banda Arc Subseascape mengungkapkan, perairan Kepulauan Kei adalah rumah yang kaya akan aneka ragam spesies laut yang indah dan kharismatik. Termasuk spesies laut yang langka dan dilindungi seperti penyu, paus, lumba-lumba, dugong/duyung dan lainnya.

Menut Hero, keberadaan spesies langka dan dilindungi di Kepulauan Kei menjadi potensi untuk meningkatkan pengembangan sektor pariwisata bahari.

“Oleh karena itu perlu peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan dan kelestarian terhadap spesies-spesies langka yang dilindungi. Ini memerlukan kerjasama dan kepedulian semua pihak baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama dan organisasi peduli lingkungan lainnya,” ujar Hero. (Red)