MALUKUnews, Ambon: Masyarakat Maluku patut berbangga, karena wilayahnya berlimpa minyak dan gas (migas). Hal ini tentu membawa dampak yang baik untuk kehidupan perekonomian di wilayahnya.

Seperti dikutif dari cnbcindonesia.com, 8 Juli 2020, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memiliki rekomendasi 38 wilayah kerja (WK) minyak dan gas untuk bisa diekplorasi di Indonesia. Dari 38 WK yang direkomendasikan, ada 12 WK migas konvensional yang memiliki potensi.

Di antaranya, Teluk Bone Utara, Misool Timur, Atsy, Mamberamo, Boka, Buru, Aru-Tanimbar Offshore, Biak, Wamena, Sahul, Selaru, dan Arafuru Selatan. Lalu ada 2 WK non-konvensional yang memiliki potensi, yakni Kutai dan Kutai Timur.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Saleh Abdurrahman memparkan sumber daya terbesar ada di Arafura Selatan di mana skenario minyak sebesar 6144.54 MMBO (Million Barrels of Oil) dan gas sebesar 7.36 TCF (trillion cubic feet). Blok Teluk Bone Utara skenario minyak sebesar 239,79 MMBO dan gas sebesar 1.16 TCF.

Blok Atsy skenario minyak sebesar 750 MMBO dan gas sebesar 0,9 TCF. Blok Mamberamo skenario gas sebesar 7.58 TCF. Blok Boka Blok Boka total sumber daya potensial untuk minyak mencapai 930 MMBO dan gas mencapai 1.1 TCF.

Blok Buru sebesar 118.54 MMBO skenario minyak dan 118.13 BSCF skenario gas. Blok Aru-Tanimbar Offshore untuk gas mencapai 0.14 TCF. Blok Biak skenario minyak sebesar 8,44 MMBO dan gas sebesar 0.01 TCF.

Blok Wamena sebesar sekenario minyak 263.75 MMBO dan skenario gas 0.40 TCF. Blok Sahul skenario minyak 150.75 MMBO dan skenario gas 0,18 TCF. Blok Selaru skenario minyak 4.060 MMBO dan skenario gas 4,8 TCF. Blok Misool Timur skenario minyak 69,94 MMBO dan skenario gas 0,26 TCF

Saleh bilang, dari 12 WK konvensional, ada 4 WK yang sudah ditawarkan ke Dirjen Migas. Ia mengatakan, Badan Geologi melakukan analisis penelitian GnG di daerah-daerah yang bisa dinaikkan untuk menjadi usulan WK ke Dirjen Migas.

"Dari data-data eksisting data dikumpulin oleh tim. Harapan kita lain-lain yang kita rekomendasikan itu juga bisa segera ditawarkan," ungkapnya saat ditemui selepas RDP dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (8/07/2020).

Selain WK konvensional, masih ada 2 WK non-konvensional di antaranya Kutai dengan potensi shale gas 46,79 TCF. Kemudian, Kutai Timur potensi shale oil sebesar 1.472,46 MMBO dan potensi gas sebesar 37,94 TCF.

"Kalau kita sudah berikan usulan ke Dirjen Migas berarti kita sudah hitung kalau ini layak untuk dikembangkan dari size lain-lain bisa dikembangkanlah. Kami survei juga ngambil data dari kiri kanan, data-data lama kami kumpulin semuanya dikemas sedemikian rupa baru kami kirimkan ke migas," kata Saleh.

Lebih lanjut, dia menegaskan meski baru 4 WK yang ditawarkan, bukan berarti data lain tidak dipakai. Ia berharap data-data Badan Geologi bisa dijadikan bahan penawaran migas.

Ia menyebut dari 4 WK yang sudah ditawarkan ada juga WK yang sudah laku, misalnya Wamberamu. Namun, ia belum mau menyampaikan KKKS yang mengoperasikan.

"Mereka harus eksplorasi, pemboran lagi, macam-macam," ungkapnya.

Sayangnya besaran potensi dari total 38 WK ini belum bisa disampaikan karena masih pendugaan sehingga belum diketahui. Nantinya akan dibuktikan setelah pengeboran.

"Intinya gini kalau sudah ambil berarti dia prospek besar," kata Saleh. (Red/cnbcindonesia.com)