MALUKUnews, Ambon: Setelah disetujui Plan of Development (POD) Blok Gas Masela oleh Presiden Jokowi tahapan pembangunan blok Masela akhirnya dimulai. Menurut rencana, tahun 2027, blok masela telah dapat memproduksi gas.

Pengurus Wilayah Muhammadiyah Provinsi Maluku menyambut baik rencana tersebut. Pihak PW Muhammadiyah mengambil bagian dengan menyiapkan SDM dengan pendidikan kejuruan lewat pendirian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Migas di Maluku.

Ketua PW Aisyiah Maluku memaparkan ide pendirian SMK Migas pada pertemuan menjaring aspirasi dalam rangka reses bersama tokoh agama, tokoh masyarakat dan jajaran pengurus Wilayah Muhamadiyah Maluku bersama anggota DPR RI Dapil Maluku, Saadiah Uluputty, yang berlangsung di gedung Muhammadiyah Maluku di Ambon, Selasa (28/07).

“Muhamamdiyah lewat organisasi otonom Aisyiah ingin berkontribusi menyiapkan SDM anak – anak Maluku yang terampil dan siap pakai, menyambut beroperasinya Blok Masela,” ujar Aisa Manilet, S.Ag, M.A, Ketua Wilayah Aisyiah Maluku.

Aisa Manilet menandaskan, beroperasinya Blok Masela akan memberi dampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Maluku. “Kemiskinan yang menjadi wajah Maluku saat ini dapat perlahan dientaskan. Blok Masela memberi kontribusi secara ekonomi bagi kesejahteraan rakyat di Maluku”, lanjut akademisi IAIN Ambon ini.

Karenanya, Aisyiah ingin memastikan SDM asal Maluku dapat terlibat untuk berkarya di Blok Masela, termasuk kebutuhan pada tenaga teknis. “SMK Migas telah kami sampaikan pada tanwir Aisyiah di Surabaya. Sudah disetujui. Kami butuh dukungan agar segera terealisasi di Maluku”, harap Aisa.

Aisa memaparkan, jika pengembangan dan operasionalisasi SMK Migas membutuhkan SDM khusus. Karena bidang pengembangan pendidikannya juga spesifik. “Kami berharap ada sinergi dan dukungan dari pemerintah provinsi Maluku terutama pada alokasi anggaran untuk pengembangan SDM. SMK Migas adalah kontribusi Aisyiah dan Muhamadiyah bagi Maluku”, papar dia.

Penguatan SDM untuk mendukung operasinya Blok Masela diamini oleh DR Marzuki Ilyas, salah satu pimpinan Wilayah Muhammadiyah Maluku. Ia menyebut jika kebutuhan SDM Maluku untuk mensupport pengembangan blok Masela terutama pada SDM Vokasi. “Maka harus ada kejelasan MoU antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan vokas dengan pemegang kendali blok masela”, kata Marzuki.

Menurutnya, MoU ini untuk memastikan SDM anak – anak Maluku dapat memiliki kepastian untuk terserap di Blok Masela.

Anggota DPR RI Fraksi PKS, Saadiah Uluputty memberi apresiasi atas ide SMK Migas yang digagas oleh Pengurus Wilayah Muhammadiyah Maluku. Menurutnya, pendirian SMK ini sejalan dengan keinginan pemerintah pusat yang telah mewanti-wanti agar putra-putri daerah Maluku dapat berperan dalam pengelolaan Blok Masela. “Investasi blok Masela nilainya signifikan, 20 Milyar US Dollar. Serapan tenaga kerja juga besar. Diperkirakan pada kisaran 73.000 tenaga kerja”, detail anggota Komisi VII ini.

Maka, lanjut Saadiah, sejatinya anak – anak Maluku tidak boleh hanya jadi penonton. “Anak – anak Maluku perlu dididik pada SMK berbasis pendidikan Migas, Pendidikan Vokasi dan pelatihan khusus sehingga ikut terlibat di blok Masela”, tegasnya.

Selain SMK Migas, PW Muhammadiyah Maluku juga meminta dukungan Saadiah dan Fraksi PKS DPR RI untuk mendorong percepatan Universitas Muhammadiyah Maluku (Unimma). (Red)