MALUKUnews, Ambon: Provinsi Maluku yang kaya akan potensi sumber daya alam dan memiliki luas lautnya 92 persen memungkinkan provinsi ini dijadikan sebagai sentra perikanan dunia dan tidak sekedar lumbung ikan nasional, karena memiliki potensi perikanan yang sangat potensial.

“Tantangannya adalah sampai dengan hari ini kekayaan tersebut belum dikelola dengan sebaik-baiknya, untuk memberikan suatu perhatian. Fokus kepada Provinsi Maluku, saya memiliki suatu pemikiran bahwa, ada baiknya Provinsi Maluku ini kita jadikan bukan saja lumbung ikan nasional, tetapi lebih dari pada itu, karena semua persyaratan sudah dipenuhi. Provinsi Maluku kita jadikan sentra perikanan dunia. Sehingga betul-betul focus. Sehingga bangun sesuai dengan apa yang ada,” jelas Capres Peserta Konvensi Partai Demokrasi, Hayono Isman kepada sejumlah wartawan di Ambon, Selasa (11/3), kemarin.

Anggota Komisi I DPR ini berpendapat, Provinsi Maluku tidak saja dilihat dari sisi pemerataan dan pembagian kue pembangunan, tetapi lebih dari itu, Provinsi yang memiliki karakteristik kepulauan ini harus diberikan perhatian menjadi sentra perikanan dunia.

“Ini yang harus diutamakan oleh negara. Ini memang tidak mudah, tetapi kalau ini menjadi kesepakatan bersama bukan saja Pemerintah Pusat dengan Provinsi Maluku, tetapi juga provinsi lainnya. dan menurut saya ini akan lebih mudah. Seperti Makasaar bagaimanya jadi Singgapuranya Indonesia. Maluku jadi Perikanan Dunia. Atau Bulu Kumbang jadi perikanan itu tidak cocok, karena itu lebih tepatnya di Ambon atau di Tual. maka kita saling mengisi dan saling memperkuat, termasuk kebijakan perimbangan keuangan,” ujar mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Kabinet Pembangunan VI periode 1993-1998 ini.

Selain komitmen bersama, kebijakan lainnya bisa ditempuh melalui Rancang Undang-Undang Provinsi Pembangunan Daerah Kepulauan.

“Jangan RUU itu muncul dengan merasa imperior padahal Maluku tidak imperior, dimana Tuhan sudah memberikan kekayaan bagi Maluku. dan Ini harus diperhatikan. dan karena itu, program saya yang pertama adalah jadikan Maluku sebagai sentra perikanan dunia,” jelasnya.

Dengan pembangunan sentra perikanan dunia, lanjutnya, akan diikuti dengan memperkuat nelayan untuk melakukan pengelolaan atas ikan di Maluku.

“Ini bisa dilakukan dengan kerjasama perusahaan yang besar seperti di Tual, bagaimana bergandengan tangan membantu penguatan nelayan. profesi nelayan tidak dijadikan kelas II, atau III atau IV dan ini diubah menjadi profesi yang bisa meningkatkan kesejahteraan,” jelasnya.

Sambungnya, pelatihan dan pembinaan koperasi nelayanan penguatan managemen yang profesional, dan ini bukan subsidi tetapi investasi yang diberikan kepada kelompoj masyarakat yang sudah berproduksi, namun sayangnya belum dihargai oleh negara, dan ketidakadilan masih terjadi baik untuk petani dan nelayan.

Disisi yang lain, untuk menjaga potensi perikanan, maka penguatan terhadap nelayan mutlak. Karena tidak ada gunanya TNI yang kuat tetapi nelayan lemah, otomatis potensi ikan akan dicuri.

Ia menambahkan, di era reformasi kedepan dengan dua ujung tombaknya yaitu demokrasi dan keterbukaan yang didalamnya terdapat otonomi daerah. Sehingga Indonesia dapat bangkit apabila daerah bangkit, tanpa ada kebangkitan daerah, tidak ada kebangkitan nasional.

UU Korupsi Harus Dirubah

Maraknya kasus korupsi di Indonesia membuat keprihatinan tersendiri bagi seluruh warga negara Indonesia termasuk Hayono Isman.

Hayono berpendapat, sanksi hukuman yang diberikan oleh aparat penegakan hukum belum memberikan efek jera, karena hukuman yang diberikan masih ringan termasuk menghilangkan adanya suap.

Menurutnya, Partai Demokrat hingga saat ini dalam pengamatannya ada bersih dan yang terlibat dalam berbagai kasus korupsi adalah oknum-oknum, dimana partai sudah memberikan sanksi. (S5)