MALUKUnews, Ambon: Petani Cengkih di Dusun Erang, Desa Luhu, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) keluhkan harga jual cengkeh yang cenderung mengalami penurunan.

Para pemilik tanaman cengkih di dusun ini berharap, pada masa panennya kali ini harga jual komoditas cengkih kering bisa stabil dari harga biasanya kendati hasil panen menurun. Biasanya harga jual cengkeh kering dikisaran Rp. 100 ribu per kilo gramnya kini turun menjadi Rp. 80 ribu per kilo gram.

Kondisi ini tentu dirasakan cukup sulit bagi warga setelah dua tahun terakhir ini produktifitas hasil panen mengalami penurunan akibat dampak cuaca yang tidak menentu.

Djeni (40), salah seorang petani cengkih di Dusun Erang yang ditemui di Ambon mengungkapkan, saat ini harga komoditas cengkih kering memang cenderung menurun. Jika biasanya mencapai Rp 90-100 ribu per kilogram, saat ini harga jual cengkih kering di tingkat petani berkisar Rp 80 ribu hingga Rp 85 ribu per kilogram. Walaupun hasilnya menurun, ia berharap harganya tidak semakin anjlok.

" Harapan saya sebagai petani, paling tidak panen kali ini benar-benar dapat dirasakan hasilnya, dengan harga cengkeh stabil jangan sampai turun harga, apalagi setelah dua tahun ini cengkih babuah seng bagus," kata Djeni kepada Malukunews.co usai menjual hasil panennya itu disalah satu tokoh penimbang cengkih di kawasan Batu Merah Ambon, Selasa (25/09).

Lanjutnya, jika harga cengkih ini stabil, setidaknya para petani di Dusun-Dusun pesisir Huamual itu akan bisa merasakan keuntungan, setelah dua tahun produktivitasnya menurun drastis.

Hal ini juga diamini oleh La Suriadi (36), pemilik kebun cengkih lainnya di Dusun Amaholu Desa Luhu, Kecamatan Huamual mengatakan, di bulan September hingga bulan November tahun ini hampir sebagian besar pemilik tanaman cengkih di Dusun itu telah memasuki musim petik cengkih (panen). Hanya saja menurutnya, saat ini buah cengkih kategori paparuru (produksinya menurun).

“ Ya, beta berharap harga cengkih ini naik, kalau seng katong seng bisa penuhi katong punya kebutuhan hari-hari, karena cengkih ini sudah menjadi satu-satunya hasil pendapatan ekonomi keluarga, “ ujar Suriadi dengan dialeg Ambonnya penuh harap. (MN-02).