MALUKUnews, Ambon: Kegiatan penanaman anakan mangrove yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Darussalam Ambon pada kawasan pulau Buntal Teluk Kotania Kabupaten Seram bagian Barat merupakan kegiatan akhir semester sekaligus kegiatan akhir tahun 2013 lalu.

Kegitan ini selain bertujuan untuk merehabilitasi hutan mangrove sekaligus memperkenalkan mahasiswa akan besarnya potensi sumberdaya hayati laut Teluk Kotania Kabupaten Seram Bagian Barat.

Hutan mangrove tersebar di Teluk Kotania meliputi Dusun Wael, Pulau Buntal, Pulau Tatumbu, Pulau Burung, Pulau Osi, Pelita Jaya sampai dengan pulau Marsegu mampu menyumbangkan beragam sumberdaya hayati laut seperti ikan, krustasea, moluska, dan sumberdaya hayati laut lainnya yang selalu menjadi tujuan penangkapan masyarakat nelayan setempat.

Jika keberadaan hutan mangrove tetap terjaga maka masyarakat setempat dapat memanafaatkan sumberdaya hayati laut secara berkelanjutan, selain itu berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowista bahari dan laboratorium alami untuk melakukan penelitian dan praktek lapang bagi mahasiswa mapun peneliti. Inilah yang menjadi alasan dilakukannya kegiatan Field Trip dan Rehabilitasi mangrove dengan tema “Save our Mangrove” oleh mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Darussalam Ambon dengan melakukan penanaman 100 lebih anakan mangrove pada kawasan Pulau Buntal.

Menurut Husain Latuconsina,S.Pi,M.Si staf dosen sekaligus Ketua Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, ini merupakan kegiatan perdana yang dilakukan oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Darussalam Ambon di luar Pulau Ambon, dan rencananya akan dilakukan secara reguler setiap tahun sebagai bentuk tanggug jawab Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Darussalam untuk turut berperan aktif dalam upaya pelestarian ekosistem hutan mangrove.

Hutan Mangrove, menurut Latuconsina bukan saja menyediakan potensi sumberdaya hayati laut seperti ikan dan non ikan serta dapat dijadikan objek wisata, namun kedepannya akan menjadi andalan program pengurangan emisi karbon di Indonesia yang menjadi penyebab pemanasan global. Mengutip dari berbagai hasil penelitian disimpulkan bahwa menebang 1 ha hutan mangrove,emisinya setara dengan menembang 3-5 ha hutan konvensional yang berada di daratan, karena pelepasan CO2 oleh vegetasi mangrove lebih kecil daripada hutan di daratan. Selain itu proses dekomposisi serasah (luruhan daun, batang dan buah) pada ekosistem hutan mangrove tidak melepaskan emisi karbon ke udara, sementara tanaman hutan tropis di daratan yang mati akan melepaskan 50 % CO2 ke udara.

Untuk itulah upaya mepertahankan keberadaan hutan mangrove wajib dilakukan, karena dengan menanam satu pohon mangrove maka akan ada seribu harapan dan manfaatnya bagi manusia baik sekarang maupun dimasa yang akan datang, lanjut Latuconsina. (Qin)