MALUKUnews, Ambon: Gempa magnitudo 6,5 yang menimpa Ambon, Malteng dan SBB tanggal 26 September 2019, hingga kini gempa susulannya masih terjadi. Berdasarkan data BMKG, tertanggal 24 Oktober, jumlah gempa susulan telah terjadi sebanyak 1820 kali.

Partai Keadilan Sejahtrea (PKS) pun bergerak hati untuk menyalurkan bantuan sosial dan melakukan psiko sosial kepada korban dan pengungsi di Ambon dan Malteng. PKS Maluku dan DPD PKS SBB melanjutkan kegiatan sosialnya di wilayah SBB, terutama di Kecamatan Kairatu yang kena langsung korban gempa itu, Kamis (24/10), kemarin.

Ketua DPD PKS SBB, Ode Risno Judin, menyatakan kegiatan yang dilakukan sebagai bentuk khidmat PKS kepada masyarakat. Dirinya meminta masyarakat mendoakan PKS agar kokoh menjadi partai yang terus berkhidmat kepada rakyat.

"Alhamdulillah, kami bersama Tim Tanggap Bencana DPW bisa menyalurkan bantuan ini. Kami minta masyarakat doakan supaya PKS bisa terus berkhidmat," ucapnya.

Risno berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban pengungsi yang ada di tenda-tenda pengungsian. "Semoga bantuan ini, dapat sedikit meringankan beban bapak-ibu di pengungsian," tandasnya saat menyerahkan bantuan di lapangan.

Sementara itu, Ketua Tim Tanggap Bencana PKS Maluku, Abdul Gani Lestaluhu, merincikan ada tiga titik yang dijadikan sasaran bantuan yakni di Talaga Ratu, Leamahu dan Latu.

"Alhamdulillah. Kami kembali menyalurkan bantuan kepada pengungsi. Kali ini di SBB. Di antaranya di Dusun Talaga Ratu, Dusun Leamahu dan juga di Desa Latu," rincinya.

Menanggapi bantuan PKS, Kasrudin, kepala Dusun Talaga Ratu, Desa Kairatu menyampaikan apresiasi kepada relawan PKS yang hadir memberikan bantuan.

"Saya ucapkan terima kasih banyak kepada PKS karena sudah mengunjungi kami dan memberi bantuan. Sumbangsih seperti ini sangat kami harapkan," jelasnya.

Selain Kasrudin, Mulkani Nurlette, Tokoh Pemuda Leamahu juga menyampaikan apresiasi kepada PKS atas penyaluran bantuan di Dusun Leamahu.

"Terima kasih banyak kami ucapkan kepada PKS yang sudah menyerahkan bantuan kepada warga di Leamahu. Ini cukup membantu warga disini," kata Nurlette.

Untuk diketahui, gempa susulan yang sering terjadi membuat warga takut kembali ke rumahnya. Apalagi kondisi ini diperparah dengan maraknya isu hoax tentang tsunami. Akhirnya warga memilih bertahan di tenda-tenda walau kondisi semakin sulit. Air bersih yang terbatas, minimnya kebersihan di lokasi pengungsian, panasnya udara serta kurangnya bahan makanan menambah lengkapnya kesulitan para pengungsi. (Red)