Oleh: Tion Rinaldi Ulath ( Tokoh Pemuda Kawa )

MALUKUnews: Pada hari Rabu, 14 Oktober 2020 telah dilaksanakan mandi safar yang merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan Pemerintah Negeri Kawa, Penjabat Raja Negeri Kawa Ril Ely mengundang. Hadir dalam acaar ini Sekda SBB, Mansur Tuharea bersama Ketua DPRD SBB, Rasid Lisaholit serta sejumlah anggota dewan lainnya.

Dibawah garis litoral pesisir pantai bingkahua Negeri Kawa Kecamatan, Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), kembali menajadi perhelatan tradisi mandi safar. Lembaga Adat dalam hal ini Saniri Negeri yang dipimpin sekaligus sebagai Ketua BPD Anuwar Rotasow dan Kepala Pemuda Negeri Kawa, Samaun Ely serta panitia sudah kesekian kalinya menggelar tradisi budaya ini.

Acara mandi safar ini dilaksanakan dibawa sorotan tema: “Mempererat Silaturahmi, Menumbuhkan Kearifan Lokal”.

Acara ini sekalgus akan mempersatukan masyarakat Negeri Kawa antara penghuni adat dan menghuni adat negeri Kawa yang terdiri dari berbagai komunitas.

Acara ini dimuaki dengan dilakukan prosesi ritual adat taru tampa siri oleh tokoh adat dan Saniri Negeri, berkisar pukul 05.00 WIT, guna memperlancar proses membuka sasi laut di Pantai Bingkahua Negeri Kawa, mulai dari jam 6 pagi sampai dengan jam 6 sore.

Buka sasi laut ini, tujuannya untuk masyarakat mengambil hasil laut berupa ikan dengan menggunakan alat tangkap jaring tradisional.

Tradisi mandi safar sendiri sudah ada dalam khazanah budaya Melayu Lingga sejak zaman kesultanan Abdulrahman Muazamsyah (1883-1911). Mandi Safar sendiri merupakan mandi dengan air yang sudah didoakan atau air yang direndami dengan wapak, yang dikemas dalam bentuk kearifan lokal.

Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun sehingga menjadi bagian dari budaya di masyarakat lokal Negeri Kawa Mandi Safar di lakukan pada hari Rabu terakhir di Bulan Safar. Seluruh masyarakat Kawa berbondong menuju ke pesisir pantai bingkahua untuk acara ritual itu.

Menurut catatan sejarah, Sultan Abdul Rahmansyah yang bertahta di Pulau Penyengat rela pulang ke Daik Lingga untuk melakukan kegian mandi safar ini sehingga beliau di makzulkan oleh Belanda. Dengan kajian ini membuktikan, bahwa mandi safar begitu pentingnya bagi masyarakat Melayu di Indonesia, khususnya Maluku dan paling utama di Negeri Kawa. (***)