MALUKUnews, Ambon: Kecurangan terhadap hasil pelaksanaan Pileg yang dilakukan pihak penyelenggara berbuntut pada upaya proses hukum yang akan diambil oleh caleg.

Pieter Demon Leiwakabessy caleg DPRD Maluku yang diusung Partai Gerindra dari dapil Maluku-6 (Kabupaten Malra, Aru dan Kota Tual) misalnya, mengancam akan mempidanakan KPU Maluku.

Melalui Penasehat Hukum (PH), Fileo Pistos Noija, Leiwakabessy dalam waktu dekat akan memasukan laporan pidana tersebut ke pihak kepolisian.

Menurut Noija, saat rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara KPU Malra khususnya untuk per­olehan suara DPRD Maluku ternyata terjadi mark up suara yang dilaku­kan oleh KPU Malra. Akibatnya Lei­wakabessy yang seharusnya lolos sesuai fakta di lapangan, ternyata tergantikan dengan caleg lainnya.

“Berdasarkan bukti yang dimiliki klien kami itu ada mark up yang dila­kukan pihak penyelenggara di ting­kat kabupaten. Saat pleno ternyata ada koreksi yang hasilnya fatal hi­ngga menghantarkan caleg lain lolos ke kursi DPRD Maluku menggeser klien kami,” ungkap Noija.

Dikatakan, modus yang dipakai penyelenggara untuk menggeser kliennya dilakukan dengan meng­ambil sebagian suara dari caleg lain untuk mendongkrak caleg tertentu.

Seperti caleg Partai Gerindra Dapil Maluku-6 terdapat Jules Chevalier Dumatubun (nomor urut 2) dengan perolehan suara sebenarnya 1.062, hasil koreksi saat pleno di KPU men­jadi 1.012. Di nomor urut 3, Saudah Tuankotta/Tethol, perolehan suara sebenarnya 2.931, setelah dikoreksi menjadi 2.981 dan Pieter Leiwa­ka­bessy (nomor urut 4) perolehan suara sebenarnya (2.976 suara) namun setelah dikoreksi jumlah tetap 2.976.

“Bukti kami untuk membawa kasus ini ke ranah pidana yakni pada pleno terdapat perubahan koreksi yang berbuntut pada mark up suara untuk mendongkrak caleg Saudah Tuanakotta/Tethol. Dimana mark up diambil dari suara caleg nomor urut 2 untuk ditambahkan ke caleg de­ngan nomor urut 3 atas nama Saudah Tuankotta/Tethol,” katanya.

Noija menjelaskan, berdasarkan bukti yang dikantongi pihaknya, koreksi dilakukan pihak penyele­nggara untuk mendongkrak suara calon nomor urut 3 diambil dari tingkat kecamatan yakni Kei Kecil.

Dari 374 suara sebenarnya untuk nomor urut 2 dikurangi menjadi 322 suara, sehingga 50 suara hasil “nyo­long” pihak penyelenggara itu ditambahkan kepada calon nomor urut 3 menjadikan suaranya 1.346 padahal yang seharusnya hanya 1.296.

“Perubahan ini terjadi pada jumlah akhir tanpa mengoreksi angka pada TPS 3 di 24 desa di Kecamatan Kei Kecil. Dengan demikian merubah angka secara keseluruhan dalam dapil Maluku-6 atas nama Jules Che­valier Dumatubun dari perolehan suara sebenarnya 1.062 turun men­jadi 1.012. Sedangkan nomor urut 3 Saudah Tuankotta/Tethol dari suara sebenarnya 1.931 ditambah menjadi 2.981 dan nomor urut 4 yang adalah klien kami jumlah suara tetap 2.976. Perubahan suara tersebut otomatis mengantarkan calon dengan nomor urut 2 melaju ke DPRD Provinsi dari Gerindra,” tandas Noija.

Ia menambahkan, pihaknya dalam waktu dekat akan melakukan ber­bagai terobosan yakni selain pidana penyelenggara, menyurat juga ke majelis etik Partai Gerindra untuk diselesaikan di internal partai.

Selain itu, pihaknya juga me­nyurat ke KPU Maluku agar lembaga tersebut tahu terdapat kecurangan yang cukup fatal di dapil Maluku-6. (S5)