MALUKUnews, Jakarta: Sejak kemunculannya sekitar akhir bulan Desember 2019, virus corona memang tidak ada hentinya membuat masyarakat resah dan panik. Bahkan, sejak kemunculannya itu, virus corona telah mewabah ke lebih dari 100 negara di dunia.

Ada Kenaikan Tajam Jumlah Kasus Virus Corona

Jumlah pasien positif virus corona semakin meningkat setiap harinya. Data yang didapat dari Johns Hopkins CSSE menyebutkan jumlah pasien terinfeksi virus corona di seluruh dunia sudah mencapai angka 9 juta per Selasa (23/6) pagi ini.

Hingga saat ini, Amerika masih menduduki peringkat teratas jumlah pasien positif virus corona dengan kasus terinfeksi sebanyak 2,3 juta. Lalu, diikuti Brazil dengan jumlah pasien positif mencapai 1,1 juta lebih.

Untuk Indonesia, ada di peringkat ke-29 dengan jumlah pasien positif COVID-19 mencapai 46.000 lebih. Adanya peningkatan tajam jumlah kasus virus corona di dunia terjadi pada akhir pekan kemarin.

Melansir CBS News, dunia melihat adanya peningkatan harian terbesar dalam kasus virus corona selama akhir pekan. Meski begitu, angka infeksi justru menurun di beberapa negara, seperti China dan Korea Selatan.

Sebanyak 9 juta orang telah terinfeksi dan lebih dari 468.000 orang meninggal, menurut angka yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins.

Para ahli mengatakan jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi, diberikan batasan untuk pengujian dan sebagian besar kasus asimptomatik.

Pada Minggu (21/6) malam, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan adanya peningkatan satu hari terbesar dalam kasus penyebaran virus corona, yakni lebih dari 183.000 kasus baru dalam waktu 24 jam.

Di negara Brazil sendiri, terhitung ada 54.771 kasus dan di Amerika ada 36.617 kasus. Sedangkan untuk India, ada lebih dari 15.400 kasus dalam waktu kurang dari 24 jam.

Para ahli mengatakan meningkatnya jumlah kasus bisa disebabkan oleh banyak faktor, termasuk adanya banyak pengujian dan penyebaran infeksi di seluruh dunia.

Lemahnya Kepemimpinan dan Solidaritas Bisa Jadi Faktor Naiknya Kasus

Melansir laman The Times of India, kurangnya kepemimpinan global dan solidaritas masyarakat untuk melawan virus corona adalah ancaman yang lebih besar ketimbang wabahnya itu sendiri.

Hal ini pun dikatakan oleh WHO, Senin (22/6) kemarin. Menurut WHO, kedua kondisi ini justru bisa memperburuk kondisi wabah setiap harinya.

Tidak terperinci negara mana saja yang “disindir” oleh WHO. Namun, beberapa anggota mengatakan bahwa Amerika Serikat jadi salah satu negara yang dimaksud.

Ketua WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan dalam forum kesehatan, saat ini dunia sangat membutuhkan persatuan nasional dan solidaritas global.

“Ancaman terbesar yang sedang kita hadapi adalah kurangnya solidaritas dan kepemimpinan global, bukan wabah virus corona itu sendiri. Kita semua harus memiliki satu tujuan, yaitu membangun negara jadi lebih solid dan mau memberantas virus corona,” ujar Tedros.

Ia juga mengatakan semua negara harus menjadikan perawatan kesehatan universal sebagai prioritas. Jika ini bisa dilakukan dengan kerja sama yang baik, pemberantasan virus corona bisa dilakukan dengan cepat.

Menanggapi hal ini, dr. Devia Irine Putri pun setuju dengan apa yang dikatakan Tedros. Ia menyebut, masyarakat yang cuek dan sistem pemerintahan yang kurang tegas memang bisa jadi penyebab terbesar mengapa kasus virus corona terus melonjak angkanya.

“Melihat masyarakat yang masih berkeliaran, pemerintah yang kurang tegas, dan aturan yang membingungkan, ini bisa jadi faktor lainnya mengapa jumlah virus corona di dunia semakin meningkat setiap harinya. Jika dari pemerintahnya kurang tegas, masyarakatnya jadi ikut meremehkan,” ujar dr. Devia.

Meningkatnya Kasus Bukan Akibat Tes Lab yang Semakin Banyak

Dalam beberapa minggu terakhir, beberapa pemimpin negara bagian dan federal di AS meremehkan peningkatan baru dalam kasus di seluruh AS.

Dilansir dari CNBC, Presiden Donald Trump mengatakan ia meminta para pejabat untuk "memperlambat” pengujian. Dirinya menegaskan kembali klaimnya bahwa lebih banyak pengujian adalah alasan AS memiliki kasus terbanyak di dunia.

Namun, hal itu berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan Direktur Eksekutif Program Kedaruratan WHO, Mike Ryan. Ia mengatakan fenomena pengujian yang mengatakan bisa meningkatkan kasus virus corona itu tidak benar.

“Ketika Anda datang ke rumah sakit, maka jumlah pasien yang datang secara otomatis akan meningkat. Tes itu wajib, kalau untuk peningkatan jumlah setelah tes memang pasti ada. Namun balik lagi, bila tesnya negatif, maka itu tidak akan terhitung. Tapi kalau hasilnya positif, itulah data yang akan masuk dan tercatat,” kata Mike.

Menurut dr. Devia, tes atau pengujian virus corona memang jadi satu hal yang wajib untuk dilakukan.

Ini harus dilakukan guna mendeteksi siapa saja orang yang telah terinfeksi virus corona. Bukan jadi alasan mengapa suatu negara memiliki kasus yang tinggi.

Kemunculan Kasus Baru Bisa Terjadi karena Pelonggaran Lockdown

Selain karena kurang tegasnya pemerintah dan kurangnya solidaritas dari masyarakat, peningkatan jumlah kasus di berbagai negara juga bisa terjadi karena pelonggaran lockdown.

Pembukaan kembali di negara tersebut beralasan guna membangun perekonomian masyarakat kembali.

Mengenai hal ini, dr. Devia pun sangat setuju. Menurutnya, adanya sistem kelonggaran yang ditetapkan di berbagai negara memang jadi alasan lain mengapa angka kasus virus corona tetap meningkat.

“Seperti di Indonesia, angkanya terus bertambah, bukan? Ini bisa disebabkan karena kelonggaran PSBB dan beberapa kantor sudah kembali masuk seperti biasa.

Padahal, kalau melihat kondisi di lapangan, sistem seperti ini belum siap diterapkan di Indonesia, melihat jumlah kasusnya masih tinggi dan kebiasaan masyarakatnya yang masih ‘bandel’,” tutup dr. Devia.

Jadi, sebagai masyarakat Indonesia, kita semua harus menyikapi masa new normal ini dengan lebih bijak, ya. Jangan sampai melupakan protokol kesehatan yang akhirnya justru memperburuk keadaan. (FR/AYU)

Sumber: klikdokter.com