MALUKUnews, Ambon: Indonesia merupakan negara bahari dengan wilayah perairan lebih luas dibanding daratan sehingga potensi ini memiliki peran penting dalam mendukung perekonomian nasional.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) selama ini merangkul berbagai pihak untuk bekerjasama dalam mengelola lautan dan wilayah pesisir yang berkelanjutan. Salah satunya dengan United States Agency for International Development (USAID) Indonesia.

USAID Sustainable Ecosystems Advanced (USAID SEA) Project merupakan kerja sama hibah antara Kementerian Kelautan dan Perikanan dan USAID Indonesia yang berlangsung selama lima tahun (2016-2021).

Tujuannya memperkuat tata kelola sumber daya perikanan dan kelautan, serta konservasi keanekaragaman hayati di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 715.

Selama masa proyek, berbagai program telah diinisiasi meliputi pengelolaan perikanan berkelanjutan, kawasan konservasi perairan, rencana tata ruang laut, serta penegakan hukum dalam penanggulangan perikanan yang merusak (destructive fishing) dan IUU Fishing.

“Saya yakin kita semua dapat belajar banyak dari semua hal yang diciptakan dan dikerjakan di lima tahun terakhir ini. Ada di tangan dan pundak kita semua, tanggung jawab untuk mengembalikan bumi dan lautan serta segala sumber daya yang ada di dalamnya ke anak cucu kita di masa depan dalam kondisi yang baik dan tetap melimpah,” ujar Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP, Prof. Sjarief Widjaja saat membuka acara Serial Simposium Virtual Pembelajaran Proyek USAID SEA, seperti dalam rilis yang diterima Malukunews.co, Kamis (29/10).

Acara simposium digelar dalam rangka berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pembelajaran selama masa implementasi program yang sebentar lagi akan berakhir. Kegiatan dijadwalkan berlangsung dalam 8 sesi mulai 26 Oktober 2020 hingga 18 November 2020.

Sjarief menjelaskan, sebagai negara penghasil perikanan tangkap terbesar kedua di dunia, Indonesia berpotensi menjadi produsen perikanan laut kelas dunia dan berkelanjutan. Sumber daya laut yang dimiliki, selama ini memberikan sumber pendapatan bagi nelayan, menjaga kestabilan pangan nasional dan sumber protein bagi sekitar 267 juta penduduk Indonesia.

Untuk memastikan potensi perikanan Indonesia dikelola dengan baik, sambungnya, diperlukan kebijakan yang dapat secara jelas menjabarkan fungsi-fungsi dari pengelolaan perikanan berbasis saintifik di berbagai tataran.

“Berbagai capaian kinerja telah kita raih di tataran kebijakan perikanan dan kelautan dan itu menjadi prestasi buat kita semua. Namun jangan mudah berpuas diri, masih banyak yang harus kita benahi guna mengoptimalkan potensi kelautan dan perikanan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat," terang Sjarief.

Sementara itu, Wakil Direktur Lingkungan Hidup USAID Indonesia Jason Seuc mengatakan, pihaknya menggunakan ecosystem approach untuk pengelolaan perikanan yang berkelanjutan di Indonesia. Pendekatan ini untuk melindungi ekosistem laut Indonesia sehingga dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

“Selama 20 tahun terakhir Pemerintah Amerika Serikat melalui USAID, telah menjalin kerja sama yang sangat baik dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Bersama-sama, kami telah meningkatkan pemanfaatan dan konservasi sumber daya laut Indonesia secara berkelanjutan,” akunya.

Serial Simposium Virtual Pembelajaran Proyek USAID SEA membahas sejumlah tema penting yang merupakan pilar-pilar utama kegiatan proyek USAID SEA. Meliputi perikanan berkelanjutan; kawasan konservasi perairan dan jejaringnya; penegakan hukum pelanggaran perikanan di kawasan pesisirdan tata kelola perikanan berkelanjutan dan konservasi perairan.

Sebagai informasi, proyek USAID SEA bekerja di tiga provinsi di Indonesia bagian Timur serta di tingkat nasional melalui KKP. USAID SEA menggunakan pendekatan yang terintegrasi antara pengelolaan sumber daya perikanan dan konservasi laut dengan cara yang memungkinkan keduanya untuk saling mendukung. (Red)