MALUKUnews, Ambon: Rapat Kerja dengan Menteri Ristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro. Badan Riset dan Teknologi Nasional akan menjadi institusi perencana semua kegiatan penelitian dan pengembangan dari lembaga penelitian.

Regulasi mengenai BRIN akan diatur melalui peraturan presiden (perpres) dan akan mengintegrasikan semua riset di berbagai kementrian dibawah Menristek yang juga sebagaj kepala BRIN. Sejumlah lembaga penelitian dibawah Kemenristek sekarang seperti BPPT, LIPI, BANTEN, BARANG, LAPAN, akan menjadi tulang punggung BRIN dalam melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan.

Dalam rapat bersama menteri saya meminta kepada BRIN agar fokus riset harus betul-betul terarah dan sebaiknya dibawa ke kerangka kerja pembangunan ekonomi dan teknologi tepat guna yang bisa menjadi nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat.

“ Saya juga meminta kepada menteri agar menentukan topik Prioritas Riset Nasional. Olehnya itu kemenristek perlu Melakukan identifikasi potensi untuk penelitian dan inovasi serta merilis produk apa saja berupa teknologi tepat guna yang sudah dilakukan oleh kemenristek selama ini,” ujar Srikandi Maluku ini kepada Malukunews.co, melaui pesan singkatnya, Kamis (23/01).

Dalam rapat kerja itu, Saadiah juga juga mempertanyakan upaya apa saja yang sudah dan akan dialkukan dalam meningkatkan efektifitas kegiatan riset ditingkat universitas. Dan upaya apa saja yang dilakukan untuk meningkatkan hilirisasi hasil riset dan pengembangan inovasi di perguruan tinggi.

Apa saja kriteria lembaga yang dapat dijadikan sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) sebarannya di Indonesia, bagaimana koordinasi antara pusat dan daerah, bagaimana mengingat kelembagaan di daerah tidak ada.

Sebagai puteri daerah perwakilan Maluku, kata Saadiah, telah mengetahui, merasakan, mendengar dan melihat langsung berbagai kekayaan dan potensi Maluku, baik di laut dan juga di darat. “ Dengan kekayaan yang ada itu saya ingin daerah saya dikembangkan dalam riset-riset yang akan menjadi nilai tambah bagi masyarakat Maluku yang saat ini masih hidup dibawah garis kemiskinan,” ujar Saadiah dalam peryataan kerasnya itu saat rapat kerja bersama Menteri Ristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro.

Lanjut Saadiah, Maluku merupakan daerah maritim terluas di Indonesia laut terdalam di dunia, Cengkeh, Pala, Kelapa dan kayu putih yang terhampar luas yang diminati dunia yang oleh bangsa dikenal sebagai julukan :"ILHAS DE CRAFO".

Potensi luas areal cengkeh 44.082 ha, Pala 30.543 ha dan kayu putih 250.000 ha tersebar di Maluku. Betapa curahan hati ibu-ibu saat saya reses kemarin ke Pulau Ambon dan Pulau Seram, selalu terngiang meminta agar saya menyuarakan ini. Baik perjuangan harga cengkeh dan komoditi mereka bisa bernilai dimata pemerintah.

Mengapa komoditi Maluku kini tinggal sejarah ? Terakhir saya menyampaikan aspirasi juga dari Universitas Pattimura (Unpatti) untuk mendukung kegiatan riset penelitian dan pengabdian masyarakat dengan judul PENGEMBANGAN AGROFORESTRI BERBASIS CENGKEH DAN PALA SEBAGAI KOMODITAS UNGGULAN MALUKU.

“ Di ruangan itu saya menyerahkan dokumen langsung kepada Menteri Riset dan Teknologi disaksikan pimpinan dan anggota komisi VII yang hadir dalam Rapat kerja di gedung nusantra II. Saya juga minta supaya Kementerian Riset bisa gandeng Unpatti dalam melakukan riset-riset di Maluku,” ujar Saadiah.

Saadiah berharap dan memastikan benar agar perguruan tinggi yang menjadi ujung tombak Science Techno Park berperan aktif mendapat perhatian sungguh-sungguh dari pemerintah pusat (Qin)