MALUKUnews: Tak terasa Lebaran tinggal hitungan hari. Pasti sudah tak sabar, ya, menyambut momen ini! Namun, Lebaran kali ini akan berbeda dari sebelumnya karena ada pandemi virus corona yang menyebabkan banyak orang tidak bisa pulang kampung.

Bahkan, tidak hanya pulang kampung saja yang tidak diperbolehkan oleh pemerintah, tapi bersilaturahmi ke rumah para kerabat pun sebaiknya dihindari karena bisa meningkatkan risiko penyebaran virus corona di wilayah tersebut.

Kabar terbarunya, para ahli memprediksi bahwa akan ada lonjakan kasus positif virus corona di Indonesia pasca Lebaran. Peningkatan Kasus Positif COVID-19 di Indonesia Bisa Capai 40 Ribu Sebagian besar masyarakat di Indonesia, khususnya di Jakarta, pasti sudah paham bahwa Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan larangan mudik Lebaran pada momen Idul Fitri tahun 2020. Meski begitu, para ahli memprediksi bahwa kenaikan kasus di Indonesia akan melambung tinggi saat memasuki minggu ke-2 bulan Ramadan.

Melansir Kompas, prediksi ini dibuat oleh Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono bersama dengan timnnya di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI).

Pandu menyebutkan prediksi ini dibuat berdasarkan kecenderungan tindak mobilitas masyarakat melalui perilaku mudik dan tidak mudik.

Menurutnya, pergerakan yang dilakukan masyarakat selama pandemi berlangsung sangat berpengaruh terhadap bertambahnya jumlah kasus pasien positif di Jakarta maupun non-Jakarta.

Hasil prediksinya ini dibuat melalui pemodelan data estimasi kumulatif berdasarkan data utama terkait orang dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, yang mulai melakukan mudik Lebaran ke provinsi Jawa lainnya.

Berdasarkan hasil survei, potensi pemudik Lebaran tahun 2019 oleh Kementerian Perhubungan, tercatat ada 14,9 juta orang atau sekitar 44,1% dari warga Jabodetabek.

Lalu, survei ini dilakukan kembali pada 2020. Hasilnya memprediksi ada 56% warga Jabodetabek yang tidak mudik, 37% masih mempertimbangkan, dan 7% telah mudik.

Pemodelan ini menunjukkan ada sekitar 20% warga Jabodetabek yang masih bandel untuk mudik keluar provinsi, dan akan tinggal di kampung halamannya selama 7 hari (rata-rata). (Qin)