MALUKUnews, Islamabad: Gempa berkekuatan 7,7 skala Richter di Pakistan dua hari lalu memunculkan sebuah pulau di lepas pantai di laut dangkal dekat Kota Gwadar, sekitar 380 kilometer barat daya dari pusat gempa. Kemunculan pulau beberapa jam setelah gempa ini menimbulkan sejumlah pertanyaan.

Tim ahli geologi dari Angkatan Laut Pakistan telah mengumpulkan sampel dari pulau itu. Dari gambar dan deskripsi, mereka menyatakan pulau itu adalah gunung berapi lumpur yang kerap meletus setelah terjadi gempa kuat di dekat Laut Arab. "Munculnya pulau dipicu oleh gempa bumi," ujar mereka, Kamis, 26 September 2013.

Pulau baru itu berbentuk kubah. Tingginya 18 meter, lebar 30 meter, dan panjangnya 76 meter. Tumpukan batuan di puncak pulau menunjukkan letusan gunung lumpur dari dalam laut terjadi sangat kencang. "Melihat ukuran batunya, letusannya pasti sangat dahsyat," kata Michael Manga, seorang ahli geofisika dan ahli gunung lumpur di University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Ia memperhitungkan kecepatan letusan lumpur mencapai beberapa meter per detik sehingga mampu melemparkan batu besar.

Ada sekitar 1.000 gunung berapi lumpur di seluruh dunia. Beberapa yang meletus di bawah garis permukaan laut segera hilang ditelan gelombang. Pada 2001, gempa berkekuatan 7,7 skala Richter di India melahirkan gunung berapi lumpur sejauh 480 kilometer dari pusat gempa. Setidaknya lima gunung lumpur muncul di Laut Arab pada 1945 setelah gempa berkekuatan 8,1 skala Richter mengguncang zona subduksi Makran di lepas pantai Pakistan, termasuk satu di dekat Gwadar.

Menurut hasil penelitian University of Houston, gempa dahsyat di Pakistan berpusat di selatan patahan Chaman. Daerah sekitar patahan ini sejak lama rawan gempa. Pada 1935, gempa bumi di utara patahan Chaman menghancurkan Kota Quetta dan menewaskan lebih dari 30 ribu orang. Ini adalah salah satu gempa paling mematikan di Asia. "Gempa menghancurkan rumah-rumah di Awaran, distrik di dekat pusat gempa," ujar Shuhab Khan, seorang geoscientist di University of Houston.

Gempa mematikan ini muncul akibat benturan tiga lempeng tektonik, yaitu India, Eurasia, dan Arab. Lempeng India dan Eurasia saling bertabrakan di sepanjang patahan Chaman, memicu getaran gempa yang sangat merusak. Khan mengatakan, gempa lebih banyak terjadi di sebelah utara patahan. Kasus ini serupa dengan yang terjadi pada patahan San Andreas di California dan patahan East Anatolian di Turki. "Di beberapa tempat, batas lempeng besar tidak berupa retakan tunggal," ujarnya.

Di Pakistan selatan, patahan Chaman terbagi menjadi banyak bagian. Perbedaan kondisi antara utara dan selatan patahan mempengaruhi jumlah gempa bumi. Menurut Incorporated Research Institutions for Seismology di Seattle, dalam 40 tahun terakhir, hanya ada satu gempa lebih besar berkekuatan di atas 6 skala Richter yang mengguncang Pakistan selatan seperti gempa dua hari lalu.

Secara keseluruhan, gempa di patahan Chaman mengguncang hingga sejauh 860 kilometer, melintasi Afganistan dan Pakistan. Di utara di dekat Kota Chaman, tempat lempeng tektonik India menunjam ke lempeng Pakistan, patahan telah bergeser sejauh 33 milimeter per tahun selama 38 ribu tahun terakhir. "Ini sangat cepat," kata Khan. Data ini menunjukkan adanya sejumlah gempa besar yang terjadi selama kurun waktu itu.

Khan mengatakan, munculnya pulau tidak bisa dilepaskan dari tubrukan lempeng tektonik di Pakistan. "Setiap kali ada gempa bumi besar selalu ada lumpur," katanya. Gunung-gunung besar dan sungai-sungai deras dari Pamir dan Himalaya menyumbang tumpukan besar lumpur basah ke Laut Arab. Ketika lapisan yang basah dan mengandung gas ini digoyang gempa, maka terjadi letusan berisi air yang terperangkap. Ibarat tumpukan raksasa tanah jenuh yang tiba-tiba mencair. (Sumber: Tempo)

MAHARDIKA SATRIA HADI | BERBAGAI SUMBER