MALUKUnews, Jakarta: Kabar mengejutkan datang dari Brazil. Belakangan ini, jumlah kasus positif virus corona di negara itu bertambah pesat. Bila sebelumnya Rusia pernah capai 11.000 dalam sehari, kini kasus COVID-19 di Brazil capai 15.000 sehari! Tentu angka ini bikin khawatir masyarakatnya.

Angka Kematian Coronavirus di Brazil Capai 16 Ribu!

Dilansir dari WorldOMeters, kasus kematian virus corona di Brazil berjumlah lebih dari 16.000 (18/5). Bahkan, negara tersebut kini menduduki peringkat ke-5 dengan kasus COVID-19 terbanyak. Di atas Brazil, masih ada Inggris, Spanyol, Rusia, dan Amerika Serikat (AS).

Meningkatnya kasus di Brazil sebenarnya bukan tanpa sebab. Pasalnya, ketika negara lain sedang berusaha mengencangkan pengawasan terhadap virus corona, Presiden Brazil, Jair Bolsonaro, justru meremehkan COVID-19 sebagai “flu kecil”.

Untuk lingkup Amerika Latin, Brazil sekarang menjadi episentrum virus berbahaya tersebut. Kendati menjadi pusat wabah di wilayah Amerika Latin, Presiden Brazil menyerang langkah lockdown yang dilakukan oleh para gubernurnya.

Presiden Brazil Menentang Adanya Lockdown

Selama ini, tindakan lockdown memang kerap dilakukan oleh beberapa negara sebagai upaya untuk menghentikan penyebaran virus corona. Di masa pandemi ini, hal tersebut dibuktikan pertama kali oleh Negeri Tirai Bambu, Tiongkok.

Karena dianggap berhasil, banyak negara yang mengikuti keputusan lockdown, termasuk Italia, Malaysia, dan negara-negara lain di Eropa.

Namun, ada juga negara yang tidak melakukan lockdown tetapi berhasil menekan penyebaran virus corona di wilayahnya, yaitu Korea Selatan.

Nah, meski kasus terus melonjak tajam dan para gubernur di Brazil sudah menyarankan lockdown kepada presiden, tetapi pemimpin negara tersebut tetap menolaknya.

Itu karena, menyetujui lockdown sama saja dengan membiarkan masyarakat kehilangan pekerjaan, kelaparan, dan sengsara akibat tak punya penghidupan yang layak. Menanggapi alasan yang dilontarkan Presiden Brazil, begini penjelasan dr. Devia Irine Putri.

Kepada KlikDokter, ia mengatakan, “Sangat dipahami bahwa seorang pemimpin negara takut perekonomiannya turun drastis. Maka dari itu, ia tidak memberlakukan lockdown.”

“Tapi sayangnya, kebijakan yang diambilnya seakan-akan membuat masyarakatnya bakal mendapatkan herd immunity secara alami untuk selesaikan pandemi coronavirus di Brazil,” tambah dr. Devia.

Bagi yang belum tahu soal herd immunity, ini adalah sebuah kondisi untuk membuat sekelompok besar orang memiliki kekebalan terhadap suatu infeksi tertentu.

"Teorinya, semakin banyak yang kebal, maka semakin sulit menyebar penyakit itu. Jika herd immunity diterapkan, maka sebenarnya jumlah yang terinfeksi bisa semakin tinggi. Orang-orang yang meninggal karena infeksi ini juga akan semakin banyak," ujar dr. Devia.

Respons Presiden Dianggap Buruk, Menkes Brazil Mengundurkan Diri

Respons kacau Pemerintah Brazil terhadap pandemi COVID-19 semakin memburuk ketika Menteri Kesehatan terbarunya, Nelson Teich memutuskan berhenti.

Padahal, ia baru mengambil alih pekerjaan Menteri Kesehatan Luiz Henrique Mandetta, seorang ortopedi pediatrik dan politisi. Menteri sebelumnya dipecat oleh presiden setelah berselisih berminggu-minggu.

Karena keputusan presiden yang dianggap cuek terhadap coronavirus di Brazil, Teich pun tak sanggup untuk mengatasinya. Tindakan karantina yang longgar menyebabkan meningkatnya penularan.

Selama presiden, menteri kesehatan, dan para gubernur tidak menemukan titik tengah, penanganan kasus virus corona di Brazil diprediksi akan berantakan. Padahal, Brazil sendiri belum mengalami puncak pandemi.

Rumah Sakit Brazil Mulai Kelebihan Kapasitas

Sementara itu, rumah sakit, kamar mayat, dan pemakaman Brazil sedang “bergulat” dengan meningkatnya jumlah kasus virus corona di sana. Belum diketahui bagaimana kondisi APD dan tenaga medis di sana.

Sebagai informasi, kasus COVID-19 pertama kali dibawa ke negara itu oleh orang-orang yang bepergian dari Eropa dan AS pada Februari silam.

Meski ada kekhawatiran bahwa Brazil akan mencatat angka kematian lebih tinggi, Presiden Jair Bolsonaro cenderung abai. Bolsonaro terus mengecilkan ancaman virus. Bahkan, ia menghadiri protes anti-lockdown dan memulai perselisihan dengan gubernur negara bagian.

WHO menyatakan, Benua Amerika saat ini berstatus sebagai pusat pandemi. Para ahli mengatakan, jumlah pasien virus corona di Brazil bisa saja 15 kali lebih tinggi karena pengujian di negara itu minim.

Brazil sendiri memiliki area kumuh yang cukup banyak (favela). Menurut Direktur Surat Kabar Voz das Comunidades, Rene Silva, orang-orang yang tinggal di wilayah kumuh menganggap bahwa COVID-19 adalah penyakit bagi orang kaya. Menurut mereka, itu tidak akan memengaruhi mereka.

Jika pola pikir sudah terbentuk seperti itu, maka tidak terbayang bagaimana penuhnya rumah sakit di Brazil bila mereka sampai terinfeksi virus corona. Sebagai masyarakat Indonesia, tentu kita berharap bahwa negara kita tidak bernasib sama dengan Brazil.

Semoga saja penanganan di sini jauh lebih baik dibanding penanganan kasus virus corona di Brazil. KlikDokter bersama Kementerian Kesehatan RI dan BNPB menyelenggarakan tes coronavirus online dan rapid tes corona. (FR/AYU)

Sumber: klikdokter.com