MALUKUnews, Solo: Pasangan Wiranto dan Hary Tanoesoedibjo, Capres dan Cawapres dari Partai Hanura mengikuti sarasehan budaya bersama kelompok pelaku seni dan budaya di Ndalem Wuryoningratan Surakarta.

Sarasehan budaya dengan topik memilih pemimpin berbudaya ini berlangsung hingga tengah malam, sarasehan yang belangsung dalam suasana kekeluargaan tersebut ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan peserta kepada Win-HT, khususnya seputar komitmen Win-HT dalam memajukan kebudayaan Indonesia dan perhatian terhadap pelaku seni dan budaya tradisional Indonesia.

"Saya setuju 100 persen, bahkan kalau ada 2000 persen. Kementerian Kebudayaan harus ada dan berdiri sendiri, sehingga persoalan pengembangan kebudayaan benar-benar fokus," ujar Wiranto, Selasa (29/1/2014), disambut tepuk tangan peserta sarasehan.

Wiranto menjelaskan, majunya budaya dalam satu negara sangat tergantung oleh pemimpinnya. Peran pemimpin dalam membangun budaya sungguh besar, karena sangat terkait pada kebijakan untuk mendukung tumbuh kembangnya budaya tersebut.

Kemudian lanjutnya, alasan pentingnya satu kementerian kebudayaan yang berdiri sendiri adalah banyaknya Pekerjaan Rumah (PR) di bidang tersebut, ia mengisahkan pengalaman mudahnya seni dan budaya Indonesia diklaim sebagai milik negara lain, seperti Reog Ponorogo, tari Tor-Tor dan angklung.

"Kami punya kesadaran, kehendak, budaya sebagai bagian peradaban bangsa harus benar-benar menjadi perhatian, baik sebagai saringan maupun sebagai potensi yang menjadi keharusan untuk jadi perhatian," ujarnya.

Hary menambahkan, mengembangkan kebudayaan juga sangat berkaitan dengan pelaku seni dan budaya itu sendiri. Bila ditinjau dari sudut pandang ekonomi, HT melihat budaya dan kesenian yang dimiliki dengan jumlah beraneka ragam itu sesungguhnya adalah potensi yang sangat besar.

"Budaya dan seni bisa dikembangkan sejalan, harus mendapat dukungan, dikembangkan dan dipromosikan. setelah itu berjalan maka pelakuknya secara pasti juga bisa berkembang," ujar CEO MNC Group ini.

Tampak hadir dalam sarasehan tersebut Seniman Ki Seno dari Padepokan Geduh putih, Dalang Gusti Benowo serta beberapa seniman lain dari berbagai kelompok seni di Surakarta. Di akhir acara Wiranto ditantang untuk melantunkan tembang yang dipenuhi dengan membawakan sebuah tembang berjudul ngidam sari. (ydh)

Sumber: okezone.com