Oleh: Saadiah Uluputty ( Anggota Fraksi PKS DPR RI )

MALUKUnews: Sayamengikuti RDP Komisi VII DPR RI bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui virtual zoom meeting. Dalam RDP bersama kami menyepakati asumsi dasar sektor energi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN).

Dalam rapat kerja ini asumsi yang dibahas di antaranya yakni ICP, lifting migas, volume BBM dan LPG bersubsidi, subsidi tetap minyak solar (Gasoil 48), dan subsidi listrik.

Beberapa kesepakatan asumsi sektor Energi dalam RAPBN 2021 diantaranya, Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$ 42 per barel - US$ 45 per barel.

Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam paparannya mengatakan asumsi ICP dengan mencermati kembali pergerakan harga minyak mentah dunia. Sedangkan untuk lifting migas pada 2021 tidak banyak mengalami perubahan dari outlook 2020.

Di lifting migas disepakati besarnya asumsi dalam RAPBN 2021 adalah 1,68 juta BOPD - 1,72 juta BOPD dengan rincian lifting minyak bumi 690 ribu BOPD - 710 ribu BOPD dan lifting gas bumi 990 ribu BOEPD - 1,01 juta BOEPD, besarnya Cost recovery anatara US$ 7,5 miliar - US$ 8,5 miliar.

Volume BBM dan LPG bersubsidi: Volume bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi 15,79 juta - 16,30 juta kilo liter dengan rincian volume minyak tanah 0,48 juta kilo liter - 0,50 juta kilo liter dan volume solar 15,31 juta kilo liter - 15,80 juta kilo liter.

Sedangkan untuk volume subsidi LPG 3 kg antara 7,5 juta metrik ton - 7,8 juta metrik ton.

Subsidi tetap minyak solar adalah sebesar Rp 500 per liter dan subsidi listrik Rp 50,47 triliun - Rp 54,55 triliun. Fraksi PKS memberikan beberapa catatan terkait asumsi dasar makro sektor ESDM dalam RAPBN 2020, yang disampaikan oleh juru bicara FPKS DR Mulyanto.

Fraksi PKS mengusulkan agar batas minimum lifting minyak bumi sebesar 705 BOPD. “Kami Fraksi PKS mengusulkan agar batas minimum lifting minyam bumi sebesar 705 BOPD.

FPKS juga mengusulkan agar besarnya subsidi listrik sama dengan outlook 2020 sebesar 58 trillun. Kami ingin pemerintah tidak mengilangkan subsidi untuk rakyat kecil, khususnya subsisi LPG 3 Kg dan listrik. Minimal untuk subsidi listrik sama dengan outlook 2020 yaitu sebesar 58 trillun.

Terkait Proyeksi ICP tahun 2021 pada kisaran 42-45 dollar per barel FPKS sangat sepakat.

Kalau assesnya karena resiko ketidakpastian maka angka 40-42 dollar per barel saya kira realistis. Karena per hari ini harga minyak dunia dikisaran 37 dollar (per barel) menurut WTI dan 39 dollar (per barel) menurut BRENT. Dua sumber ini khan yang selalu menjadi benchmark utama pemerintah menetapkan ICP. Bahkan ESDM sendiri membuat proyeksi rata2 ICP tahun 2020 hanya di angka 35-37 dollar (per barel). Jadi penetapan ICP di angka 42-45 dollar per barel bagus sekali. Tidak terlalu pesimis, tidak juga terlalu optimis.

Penetapan angka ICP tahun 2021 yang terukur dalam kondisi ketidakpastian saat ini sebagai asumsi dasar Makro Ekonomi sangat penting karena resultante nya berpengaruh ke Postur APBN. Jangan sampai antara outlook APBN dengan realisasi nantinya terjadi deviasi yang terlalu lebar.

Kondisi tahun ini seperti Mei 2020 lalu menjadi bahan evaluasi. Harga ICP yang dipatok dalam APBN 2020 adalah sebesar US$ 38 per barel. Harga ICP terus turun hingga mencapai angka US$ 30,9 per barel. Atas kontraksi harga ini maka diperkirakan tambahan defisit anggaran mencapai Rp 12,2 triliun.

Per Maret lalu, tercatat realisasi PNBP minyak bumi Rp 28,64 triliun, terkontraksi 4,41 persen (yoy). Dalam Perpres No. 54 Tahun 2020, target penerimaan PNBP minyak bumi dipangkas dari Rp 96,8 triliun menjadi tinggal Rp 40,38 triliun.

Sebagai informasi, angka asumsi makro sektor ESDM doatas bukan menjadi angka final. Hasil kesepakatan antara menteri ESDM dan komosi VII DPR RI nantinya akan dibahas dibadan anggaran DPR RI dan selanjutnya akan disahkan oleh presiden RI dalam pidatonya. (***)