MALUKUnews, New York: Harga minyak dunia naik sekitar dua persen setelah jatuh sehari sebelumnya pada akhir perdagangan Kamis waktu New York atau Jumat (26/6) pagi WIB.

Kenaikan harga didukung oleh tanda-tanda peningkatan marjinal dalam ekonomi AS dan kenaikan permintaan BBM.

Namun, kenaikan harga dibatasi oleh meningkatnya kasus COVID-19 di beberapa negara bagian AS. Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus naik 74 sen atau1,8 persen menjadi ditutup pada 41,05 dolar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus naik 71 sen atau 1,9 persen menjadi menetap pada 38,72 dolar AS per barel.

Data yang diberikan oleh perusahaan teknologi lokasi TomTom menunjukkan lalu lintas jalan raya di beberapa kota besar dunia pada Juni telah kembali ke tingkat 2019.

Harga minyak turun pada awal sesi. Harga minyak kembali bangkit saat data menunjukkan lebih sedikit orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran pekan lalu. Namun, penurunan klaim pengangguran yang lebih rendah dari perkiraan analis.

Data lain mendukung ekspektasi bahwa PDB kuartal kedua dapat menyusut sebanyak 40 persen pada tingkat tahunan. Untuk memulai ekonomi dunia yang dihancurkan oleh virus corona, bank-bank sentral telah mengeluarkan triliunan dolar dalam bentuk stimulus.

"Bagian dari rebound di sini adalah gagasan bahwa semua langkah-langkah stimulus yang dipompa bank sentral dan pemerintah dunia ke dalam perekonomian akan memiliki dampak positif pada aktivitas ekonomi dan bahwa itu akan mendukung permintaan," kata Gene McGillian, wakil presiden riset pasar di Tradition Energy di Stamford, Connecticut.

"Satu-satunya penghalang adalah jika jumlah kasus COVID-19 meningkat dan kita harus memberlakukan kembali pernguncian," tambahnya.

Infeksi baru telah meningkat di negara-negara bagian AS termasuk Oklahoma, Texas dan Florida. Australia juga mencatat kenaikan harian terbesar dalam dua bulan.

Rem kenaikan harga

Meskipun ada peningkatan regional baru-baru ini dalam infeksi AS, lalu lintas kendaraan terus membaik. Penerbangan internasional kembali menguat, karyawan kembali bekerja dan aktivitas meningkat.

Namun, kekhawatiran investor tentang permintaan minyak tetap bertahan sehari setelah Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan resesi global yang lebih dalam dari yang diperkirakan sebelumnya.

Pemotongan rekor pasokan minyak mentah oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu telah membuat pasar minyak jauh lebih kuat daripada pada April. Saat itu, minyak Brent mencapai level terendah 21-tahun di bawah 16 dolar AS per barel dan minyak mentah AS berubah negatif. Investor menunggu untuk melihat apakah para produsen, yang dikenal sebagai OPEC+, memperpanjang rekor pemotongan produksi mereka melampaui Juli. (republika.co.id)