MALUKUnews, Jakarta: Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan Pasal 247 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemilu Legiatif. Dengan pembatalan itu, hasil survei dan jajak pendapat tentang pemilu tetap boleh dilakukan pada masa tenang.

"Mengabulkan permohonan pemohon untuk seluruhnya," ujar Ketua MK Hamdan Zoelva saat membacakan putusan uji UU Pileg di Gedung MK, Jakarta Pusat, Kamis (3/4/2014).

Dalam pasal tersebut, dinyatakan bahwa pengumuman hasil survei atau jajak pendapat pemilu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang dilakukan di masa tenang. Hakim Konstitusi Maria Farida Indrati mengatakan, pertimbangan MK memutus hal tersebut karena pada 2009 MK pernah membatalkan aturan yang sama yang tertuang dalam UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pileg.

"Putusan tersebut mutatis mutandis berlaku pula terhadap permohonan a quo," ujar Maria.

Saat itu, kata dia, MK berpendapat bahwa survei maupun penghitungan cepat hasil pemungutan suara adalah bentuk pendidikan, pengawasan, dan penyeimbang penyelenggaraan pemilu. Maria menyebutkan, pengumuman hasil survei pada masa tenang juga tidak mengganggu ketertiban umum. "Sejauh dilakukan sesuai prinsip metodologis-ilmiah," kata dia.

Selain membatalkan aturan tersebut, MK juga membatalkan aturan pemidanaan sebagaimana dituangkan dalam Pasal 291 UU Pileg. Pasal tersebut menyebutkan bahwa setiap orang yang mengumumkan hasil survei atau jajak pendapat tentang pemilu dalam masa tenang sebagaimana dimaksud dalam pasal 247 ayat (2), dipidana kurungan paling lama satu tahun dan denda paling banyak Rp 12 juta.

Uji UU tersebut diajukan oleh Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) pada Januari 2014. Melalui UU tersebut, Komisi Pemilihan Umum (KPU) membuat Peraturan KPU (PKPU) Nomor 23 Tahun 2014 yang melarang media dan lembaga survei mengumumkan hasil survei pada masa tenang pemilu, yaitu pada 6, 7, dan 8 April 2014 mendatang. Komisioner KPU Sigit Pamungkas mengatakan, pengumuman hasil survei pada masa tenang dikhawatirkan memengaruhi kecenderungan pemilih untuk menentukan pilihannya pada pemungutan suara. (sumber: kompas)