MALUKUnews, London: Dugaan penyadapan oleh Amerika Serikat dan Australia menumbuhkan satu ceruk baru: bisnis alat-alat penyadap canggih. Kini, beberapa perusahaan swasta Barat, baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, menjual alat mata-mata dan teknologi pengawasan massa ke negara-negara berkembang. Janji yang ditawarkan sama, yaitu mampu mengintip jutaan e-mail, pesan teks, dan panggilan telepon, seperti yang dilakukan National Security Agency (NSA), Amerika Serikat.

Sebuah dokumen yang diperoleh Guardian menunjukkan bagaimana perusahaan, termasuk puluhan dari Inggris, kerap berpameran di Afrika, Asia, dan Timur Tengah. Target mereka adalah instansi pemerintah. Pameran bersifat umum, namun bagi pembeli potensial akan mendapatkan akses ke pameran pribadi.

Dokumen itu disusun oleh Privacy International. Mereka menghabiskan waktu empat tahun untuk mengumpulkan 1.203 brosur dan transaksi penjualan di Dubai, Praha, Brasilia, Washington, Kuala Lumpur, Paris, dan London.

Database, dilabel sebagai Surveillance Industry Index, menunjukkan bagaimana perusahaan-perusahaan, terutama dari Inggris, Israel, Jerman, Prancis, dan Amerika Serikat, menawarkan pemerintah berbagai sistem yang memungkinkan mereka untuk diam-diam meretas jaringan Internet untuk menggangsir e-mail dan menyadap percakapan telepon.

Dalam daftar itu, dari 338 perusahaan, termasuk 77 dari Inggris, menawarkan total 97 teknologi yang berbeda. Salah satu perusahaan mengatakan alatnya mampu menangkap sampai 1 miliar penyadapan per hari. Beberapa menawarkan kamera tersembunyi di kaleng cola, batu bata, atau carseats anak-anak. Produsen lain mengklaim mampu meletakkan alat tanpa terdeteksi dalam mobil target dan melaporkan langsung secara real time seluruh percakapan di dalam mobil ke pusat-pusat kontrol pengawasan.

Tidak ada yang ilegal tentang penjualan peralatan tersebut, kata dokumen itu. "Perusahaan umumnya mengatakan teknologi baru itu untuk membantu pemerintah mengalahkan terorisme dan kejahatan," tulis Guardian.

Namun aktivis hak asasi manusia dan perlindungan privasi khawatir pada kecanggihan sistem ini. Mereka mengkhawatirkan rezim-rezim yang tidak bermoral bisa menggunakannya sebagai alat untuk memata-matai pembangkang dan kritikus.

"Ceruk pasar ini menuai keuntungan dari penderitaan pihak lain yang disadap di seluruh dunia, namun tak ada pengawasan atau akuntabilitas yang efektif," kata Matthew Rice, konsultan peneliti di Privacy International.

Tidak adanya pengaturan ini, kata dia, memungkinkan perusahaan untuk mengekspor teknologi pengawasan ke negara-negara yang menggunakan secara salah. "Misalnya, untuk memata-matai aktivis hak asasi manusia, wartawan, dan gerakan politik," katanya.

Ia berharap Surveillance Industry Index menggerakkan otoritas berwenang untuk menerapkan aturan pengawasan terhadap bisnis alat mata-mata ini. (Sumber: Tempoco)