MALUKUnews, Jakarta: Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI bersama Menteri Perindustrian (Menperind) dan jajaran Kementrian Perindustrian berlangsung di Jakarta (09/12).

Hendrik Lewerissa dari Fraksi Gerindra daalm RDP itu menyampaikan beberapa catatan kritis kepada Menteri Peridustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita.

Catatan kritis apa saja yang disampaikan Lewerissa itu. Pertama, menteri harus menyampaikan road map rencana kerja kementrian perindustrian untuk 5 tahun ke depan. Rencana kerja ini menjadi penting, karena saat ini kondisi industri nasional dalam keadaan yang tidak mudah.

Rendahnya daya saing produk industri nasional di pasar regional maupun global. Adalah potret yang tidak menggembirakan. Untuk barang-barang import membanjiri pasar dalam negeri. Sementara produk industri nasional sulit sekali menembus pasar regional di Asia, apalagi pasar global. Saat ini pertumbuhan industri nasional hanya 4, 3 %. Sementara pada zaman orde baru industri kita bertumbuh 14 %. " Ini kemunduran yang nyata," tegas Lewerissa.

Catatan kedua, lanjut Lewerissa, perlunya menghilangkan ego sektoral antar kementrian. Ego sektoral ini penghambat terciptanya relasi antar kementrian yang produktif dan saling mendukung. Bahkan cenderung saling menghambat. Ini kan ironis, sama sama pemerintah tapi tidak saling mendukung.

Ketiga, kebijakan membangun kawasan industri di tanah air cenderung Jawa sentris. Kawasan industri harus disebar di wilayah-wilayah di luar Jawa, sehingga pembangunan dapat dinikmati juga oleh daerah lain di luar Jawa.

Contohnya di Maluku misalnya, mestinya ada kawasan industri perikanan. Aneh khan, ikannya dari Maluku tapi industrinya di Jawa atau Sulawesi. Untuk membangun industri perikanan di Maluku semua syarat teknis terpenuhi, yang belum ada hanya kehendak yang kuat (strong will) dari pemerintah pusat saja.

“ Saya menantang menteri perindustrian untuk menyebar pertumbuhan industri yang merata di tanah air berdasarkan kluster keunggulan lokal daerah masing masing. Khusus untuk Maluku, selain industri perikanan, pemerintah juga harus mendorong berkembangnya industri pariwisata karena Maluku juga memiliki potensi yang sangat besar.

Di tahun 2027 mendatang akan direncanakan Blok Gas Abadi/ Blok Masela akan mulai berproduksi. Ini sentra produksi gas terbesar di tanah air. Pemerintah sudah harus merencanakan membangun industri turunan dari melimpahnya gas alam cair ini. “ Jangan hanya sektor hulunya saja (pertambangan gas), tapi juga sudah harus merencanakan industri di sektor hilirnya juga. Industri petrokimia itu 70 % tergantung kepada gas,” tegas Lewerissa dalam RDP itu.

Dan, terakhir, kementrian perindustrian harus juga dapat bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan untuk mendorong kurikulum pendidikan yang link and match (terhubung dan cocok) dengan kebutuhan sektor industri. “ Harus ada produk SDM yang berkualitas dan memiliki ketrampilan dan keahlian yang lain,” demikian sejumlah catatan kritis Lewerissa kepada Menteri Agus Gumiwang. (Red)