MALUKUnews, Jakarta: Juru Bicara KPK Johan Budi mengaku penangkapan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar berdasarkan informasi yang didapat dari laporan warga. Lantaran itu, Johan mengapresiasi masyarakat yang turut mendorong pemberantasan korupsi di Indonesia.

Demikian diakui Johan dalam wawancara bersama Metro TV di depan Gedung KPK, Jakarta, Kamis (3/10). Ia mengaku KPK mendapat informasi rencana serah terima uang suap terkait sengketa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gunung Mas, Kalimantan Tengah.

Penyidik kemudian mendalami laporan tersebut sejak Senin (30/9). Hingga akhirnya, KPK melakukan operasi tangkap tangan di rumah dinas Akil di Perumahan Chandra Wijaya Jakarta, sekitar pukul 21.45, Rabu (2/10).

Kemudian penyidik menemukan uang berbentuk Dolar Singapura dan Dolar Amerika Serikat dalam operasi itu. Total jumlah uang itu sekitar Rp2 miliar hingga Rp3 miliar.

Selain Akil, KPK juga menangkap anggota DPR berinisial CHN dan pengusaha berinisial CN di rumah tersebut. Saat itu, CHN dan CN bertamu ke rumah Akil serta diduga membawa uang suap.

Kemudian, penyidik mengembangkan penyidikan dan menangkap dua lainnya di sebuah hotel di Jakarta. Keduanya yaitu kepala daerah di Kabupaten Gunung Mas, HB dan pengusaha DH. Johan menegaskan penangkapan kelimanya berkaitan dengan dugaan pemberian suap sengketa di Gunung Mas.

Selain uang, Johan mengatakan tak ada penggeledahan maupun penyitaan dalam operasi itu. Penyidik hanya memasang KPK Line di dua mobil milik Akil di rumahnya serta sebuah ruangan di Gedung MK. Sedangkan mobil Toyota Fortuner berwarna putih dibawa ke Gedung KPK. Mobil itu digunakan CHN dan CN saat bertamu ke rumah Akil.

Lalu bagaimana nasib kelimanya? Johan mengaku kelimanya masih dalam status terperiksa. Setelah menjalani pemeriksaan selama 1 x 24 jam, penyidik akan menetapkan status hukum kelimanya. Bila menjadi tersangka, kata Johan, maka mereka langsung ditahan. Itu sesuai dengan prosedur operasi tangkap tangan di KPK. (Sumber: Metrotvnews)

Editor: Laela Badriyah