MALUKUnews, Bandung: Bandung:Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring mengatakan, operator seluler di Indonesia sudah terlalu banyak. "Terus terang operator Indonesia itu kebanyakan, ada 14 operator Indonesia baik seluler maupun CDMA. Ini gak Sehat," kata dia di Bandung, Jumat, 27 September 2013.

Tifatul membandingkan dengan jumlah operator yang ada di berbagai negara. Dia menyebutkan, Jepang, serta Cina misalnya hanya memiliki 3 operator seluler. "Negara-negara Eropa itu 2 atau 3 (operator seluler), kita 14 (operator seluler)," kata dia.

Menurut dia, jumlah operator di Indonesia idealnya maksimal 5 operator. "Sekarang ada yang merger, ada akuisisi antara XL dengan Axis, saya sih senang saja. Kalau perlu yang lainnya juga, karena dari persaingan sudah tidak sehat. Anda lihat layanan sudah mulai terganggu, tidak puas pelanggan," kata Tifatul.

Hal lain, Tifatul menyoroti, konsentrasi income-revenue bisnis layanan telpon yang terkonsentrasi di 3 operator seluler, yakni Telkomsel, XL, dan Indosat. "Tiga besar ini mengambil 92 persen porsi pemasukan (income-revenue bisnis layanan operator seluler)," kata dia.

Dengan porsi itu, 11 operator bergelut merebut 8 persen income-revenue bisnis layanan telpon yang tersisa. "Yang 8 persen ini diperebutkan 11 operator. Ini yang saya sebutkan sudah gak sehat. Kalau mereka mau gabung biarin ajalah. Semakin sedikit, semakin fokus kita mengurusinya. Kita bisa menuntut lebih," kata Tifatul.

Presiden Direktur Dan CEO Indosat Alexander Rusli mengamini bahwa saatm ini jumlah operator di Indonesia terlalu banyak. Dia menyambut positif langkah bisnis merger XL dengan Axis. 'Orang banyak tanya tanggapan saya masalah Xl beli Axis, menurut saya itu Alhamdulillah bagus. Itu berarti ada satu berkurang lagi dalam peta persaingan," kata dia. (Sumber: Tempo)

AHMAD FIKRI