Oleh: Aidjarang Kaplale, S.Sos (Pemerhati Politik)

MALUKUnews: Tahun 2020 telah berakhir dan kini kita memasuki awal 2021, situasi politik kabupaten Maluku Tengah (Malteng) kian menjadi rame. Hal ini ditandai dengan munculnya bursa bakal calon Bupati Malteng dari berbagai kalangan. Adalah dari politisi, birokrat dan pengusaha.

Meskipun Pesta demokrasi pemilihan bupati Malteng masih kurang lebih satu tahun lagi jika berlangsung 2022, namun aroma dan suhu politik mulai memanas.

Masing - masing bakal calon Bupati keluar dengan kemasan jualan isu - isu politik atau take line politik, misalnya : Maluku Tengah baru, Maluku Tengah Perubahan, Maluku Tengah yang adil, Trik mediasi For Malteng dan lain - lain.

Jualan isu atau take line politik dimaksud pasti publik juga akan bertanya apa maksud dari jualan isu tersebut apakah hanya sementara ataukah hanya sekedar mencari popularitas/pencitraan, waktu dan proses jualah akan menjawab semuanya.

Tercatat ada 8 nama bakal calon Bupati yang sudah terpublikasi bahkan mendeklasikan diri antara lain : Djar Wattiheluw, Amein Ruati, Ibrahim Ruhunusa, Mirati Dewaningsi, Rudi Lailosa, Sukri Wailisa, Bujair Wasolo, dan masih diperkirakan akan masih bertambah.

Selaku pemerhati dari periode ke periode terus mengikuti dinamika pembangunan di Malteng. Kabupaten ini terbilang tertua dan terbesar di provinsi Maluku, dengan luas wilayah sangat besar, demikian juga jumlah penduduk.

Publik Malteng akan merasakan dan menilai sendiri tetang progres pembangunan di Malteng yang kurang lebih selama 10 Tahun terakhir. Sejauh mana progres pembangunan ? Jawabannya ada pada masing - masing orang khususnya masyarakat Malteng.

Perhelatan 2022 agak berbeda dengan perhelatan sebelumnya karena tidak ada "Petahana", kundisi ini kemudian mendorong figur - figur baru tampil mencalonkan diri sebagai bakal calon Bupati Malteng 2022.

Nama - nama bakal calon Bupati tersebut memiliki latar belakang yang berbeda, meskipun memiliki latar belakang berbeda pasti punya tekad yang sama yaitu "Maluku Tengah" lebih baik.

Mari kita sambut dan berikan spirit kepada semua bakal calon Bupati untuk terus berproses dan kepada Parpol - parpol pemilik kursi, kiranya dapat membuka kran Demokrasi secara luas pada saatnya kepada bakal calon Bupati untuk berproses.

Demikian juga kepada masyarakat agar berikan dukungan kepada bakal calon yang mencalokan diri dengan mengambil jalur independen, sepanjang memenuhi persyaratan.

Kemajuan pola pikir yang cerdas akan melahirkan satu proses pendidikan politik kepada masyarakat, artinya kalau ada banyak calon Bupati yang maju, maka pilihan politik menjadi menarik dan baik. Kita berupaya untuk hindari proses yang menjurus kepada istila "Demokrasi Terpasung" sesungguhnya ini tidak baik, karena akan menutup ruang dan tidak kredibel, menciptakan model birokrasi semua dalam membangun daerahnya. (***)