Oleh: Zulfikar Halim Lumintang, SST ( Statistisi Ahli Pertama BPS Kolaka, Sultra )

MALUKUnews: Selama ini mungkin kita hanya terfokus bahwa hasil dari budidaya perikanan adalah untuk konsumsi pangan saja. Tidak salah memang, karena pemanfaatan terbesar budidaya perikanan memang untuk konsumsi pangan.

Kita sering melupakan bahwa budidaya perikanan itu bisa dimanfaatkan sebagai alat rekreasi. Contohnya adalah Taman Akuarium Air Tawar, Taman Mini Indonesia Indah, dan Sea World Ancol.

Hal berikutnya yang sering dilupakan adalah proses budidaya perikanan itu membutuhkan proses sedemikian rupa untuk mencapai target. Mulai dari pengadaan induk dan benih, pengadaan fasilitas produksi dan obat-obatan. Hingga diakhiri dengan pemasaran produk pasca panen.

Satu saja tahapan terganggu, imbasnya akan mengganggu tahapan berikutnya. Contohnya yang baru-baru ini terjadi. Kebijakan ekspor benih lobster yang menjadi polemik. Ekspor benih lobster tentu sangat merugikan bagi Indonesia.

Ibarat bahan baku, Indonesia hanya mengirim mentahan saja ke luar negeri. Bisa dibayangkan nilai tambah yang diterima Indonesia pasti jauh lebih kecil jika hanya mengekspor benih lobster. Daripada lobster dewasa yang siap konsumsi.

Dengan terganggunya pembenihan lobster akibat polemik ekspor benih. Tentu akan berdampak pada berkurangnya jumlah produksi budidaya lobster. Hal ini tentu akan berpengaruh juga terhadap kesejahteraan pembudidaya ikan, khususnya lobster.

Menyusul beberapa bulan kemudian, pandemi Covid-19 pun turut meramaikan drama perekonomian di Indonesia. Tentu ini perlu perhatian khususnya bagi tingkat kesejahteraan pembudidaya ikan. Lalu, separah apakah tingkat kesejahteraan pembudidaya ikan selama pandemi Covid-19?

Tren NTP Perikanan Budidaya

Selama awal pandemi Covid-19 hingga sekarang (Februari 2020-April 2020), Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) selalu menurun, atau memiliki tren negatif. Pada awal masa pandemi (Februari 2020) NTPi tercatat mencapai 101,17. Dalam kondisi ini, pembudidaya ikan masih mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik lebih besar dari pengeluarannya. ndeks Harga yang Diterima Pembudidaya Ikan (It) Februari 2020 mencapai 106,10. Indeks tersebut menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi pembudidaya ikan. Komoditas yang masuk dalam hitungan budidaya air tawar, budidaya laut, dan budidaya air payau. It dari komoditas budidaya air tawar mencapai 104,52, It dari komoditas budidaya laut mencapai 106,20, dan It dari komoditas budidaya air payau mencapai 105,72.

Indeks Harga yang Dibayar Pembudidaya Ikan (Ib) Februari 2020 mencapai 104,87. Indeks tersebut menunjukkan perkembangan harga kebutuhan rumah tangga pembudidaya ikan, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun untuk proses produksi pertanian. Ib terdiri dari Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencapai 105,47 dan Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) mencapai 104,37.

Pada Maret 2020, NTPi ternyata mengalami penurunan menjadi 100,67. Atau turun sebesar 0,49% dari bulan Februari 2020. Turunnya NTPi disebabkan oleh turunnya It Maret 2020 yang mencapai 0,33% dari Februari 2020 menjadi 105,75. Jika dilihat lebih jauh, diantara ketiga komoditas tersebut, sebenarnya hanya It dari budidaya air payau yang mengalami penurunan dari Februari 2020 sebesar 0,61%. Sedangkan It budidaya air tawar justru mengalami peningkatan sebesar 0,08%. Dan It budidaya mengalami peningkatan It sebesar 0,13%.

Selain itu, Ib Maret 2020 yang mengalami kenaikan 0,17% dari Februari 2020 juga menjadi penyebab turunnya NTPi. Tercatat IKRT meningkat 0,20% dari Februari 2020 menjadi 105,69 dan Indeks BPPBM meningkat 0,11% dari Februari 2020 menjadi 104,49.

Selanjutnya, pada April 2020, NTPi kembali mengalami penurunan, kali ini penurunannya lebih tajam sebesar 1,64% menjadi 99,02. Dalam kondisi tersebut berarti pembudidaya ikan mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani turun, lebih kecil dari pengeluarannya.

Sama halnya dengan kondisi Maret 2020. Penurunan NTPi pada bulan April 2020 ini disebabkan oleh turunnya It April 2020 dan naiknya Ib April 2020. It April 2020 turun sebesar 1,58% menjadi 104,08. Kali ini, It yang mampu mengalami kenaikan di bulan April 2020 hanya It budidaya laut (0,52%). Sedangkan Ib April 2020 naik sebesar 0,06% menjadi 105,11.

Dari fakta tersebut, bisa kita lihat bahwa hanya fluktuasi harga barang yang dihasilkan pembudidaya lautlah yang masih memiliki surplus. Namun secara keseluruhan, para pembudidaya ikan mengalami defisit pada April 2020. Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan, mengingat pandemi belum jelas kapan akan berakhir.

Solusi Alternatif

Budidaya perikanan merupakan upaya manusia dalam rangka untuk meningkatkan produktivitas alamiah pada suatu perairan (laut, sungai, danau, atau waduk). Peningkatan produktivitas tersebut bisa mencapai ratusan kali.

Maka dari itu, sudah jelas rasanya bahwa mendapatkan profit sebesar-besarnya adalah target utama budidaya perikanan. Namun, berdasarkan sajian data diatas, jangankan untuk mendapatkan keuntungan. Untuk balik modal atau impas saja mungkin adalah hal yang sulit dicapai.

Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai ini jadi salah satu penyebab. Tapi yang menarik adalah secara kasat mata, pembudidaya ikan seharusnya tidak terkena dampak wabah Covid-19. Mengingat dalam bekerjanya, mereka minim sekali berinteraksi dengan manusia.

Pada kenyataannya, NTPi terus anjlok dari bulan ke bulan selama wabah Covid-19 merajalela. Permintaan pasar yang turun drastis selama pandemi mungkin jadi salah satu alasan. Tetapi apakah benar hanya itu saja?

Dibalik kesulitan ada kemudahan. Prinsip ini yang mungkin belum dipegang. Pandemi Covid-19 ini seharusnya dimanfaatkan menjadi peluang bisnis baru bagi produk budidaya perikanan. Namun penelitian dari para ahli harus dilakukan terlebih dahulu.

Peneliti mungkin bisa menemukan penambah daya tahan tubuh dari produk budidaya perikanan, semisal rumput laut dan lain sebagainya. Atau bahkan penemuan vaksin Covid-19 bisa berawal dari produk budidaya perikanan. Setelah penemuan produk obat maupun vaksin Covid-19 yang berasal dari produk budidaya perikanan ditemukan, maka para pembudidaya perikanan bisa fokus memperbanyak produk tersebut. (***)