Oleh: Griennasty Clawdya Siahaya ( Dosen UKIM )

MALUKUnews: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) merupakan salah satu kegiatan tridharma perguruan tinggi selain Penelitian dan Pengajaran yang menjadi kewajiban dari tiap Dosen untuk dijalankan dalam aktivitas akademik.

Dalam kesempatan ini, salah satu Tim PkM UKIM Ambon yang diketuai oleh Griennasty Clawdya Siahaya, STP, M.Si (Dosen Fakultas Kesehatan) bersama Anggota Grace Persulessy, SE, M.Sc dan Ns. Mevi Lilipory, S.Kep, M.Kep dipercayakan untuk mendapat Hibah dari Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristek BRIN untuk pendanaan kegiatan PkM dengan Mitra yang digandeng adalah Kelompok Yayasan Sagu Salempeng GPM.

Kelompok Yayasan Sagu Salempeng (YSS) merupakan kelompok masyarakat yang hadir akibat dampak konflik social di Maluku dimana salah satu aktivitas dari kelompok ini adalah meningkatkan kondisi ekonomi komunitas kelompok.

Salah satu cara yang dilakukan untuk menjawab kondisi tersebut adalah melalui aktivitas usaha yang mengarah ke ekonomi produktif, yakni pengelolaan tanaman sagu menjadi produk diantaranya produk setengah jadi “tepung sagu” dan “kerupuk sagu”.

Berdasarkan hasil diskusi dengan Ketua Mitra Kelompok Yayasan Sagu Salempeng Ibu Pdt. Jeny Elna Mahupale, S.Si., MA terkait masalah apa saja atau hal-hal apa saja yang saat ini ditemui/dibutuhkan dalam pengelolaan kerupuk sagu oleh kelompok YSS, disimpulkan bahwa butuh inovasi atau pengembangan lebih lanjut terhadap pengolahan kerupuk sagu untuk meningkatkan nilai gizi dan kualitas kerupuk sagu.

Dalam hal ini, mitra juga membutuhkan penambahan pengetahuan tentang pengolahan kerupuk terlebih dalam cara meningkatkan nilai gizi kerupuk sagu dan juga strategi pemasaran sehingga dapat laris dipasaran. Mitra mengharapkan produk kerupuknya bisa dikembangkan sampai memiliki ijin usaha (PIRT) dan sebisa mungkin dibantu untuk uji kandungan gizi.

Untuk mengatasi masalah tersebut, maka Tim PkM meberikan intervensi kepada mitra untuk melalui beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Tim PkM UKIM, antara lain: 1) Memberikan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan kelompok mitra tentang diversifikasi pangan dalam pengolahan sagu dengan penerapan nutrifikasi (subsitusi) pangan lokal ke dalam kerupuk sagu.

Dalam hal ini, komponen bahan pangan yang ditambahkan untuk pembuatan kerupuk sagu adalah tepung daun kelor dan tepung cacing laor.

Pemilihan bahan nutrifikasi untuk disubstusi merupakan rekomendasi kami selaku Tim PkM UKIM, karena kita tahu bersama bahwa tanama kelor dikenal sebagai Miracle Tree, yang memiliki kandungan gizi yang sangat baik, bahkan beberapa penelitian telah membuktikan bahwa daun kelor sangat berkhasiat bagi pertumbuhan dan perkembangan anaka Balita, terlebih dapat mencegah gizi kurang dan stunting.

Selain itu, mudah didapat bahkan pohonnya mudah ditanam dimana saja. Sedangkan Laor merupakan cacing laut yang kaya zat gizi, dan umumnya dipanen 1 tahun sekali di Ambon.

Karena cacing laor ini hanya satu tahun sekali dipanen, maka kami Tim PkM mengolahnya terlebih dahulu menjadi Tepung Cacing Laor, sehingga bisa tahan lama untuk dapat dimanfaatkan dalam pembuatan kerupuk sagu.

Selain penyuluhan diversifikasi pangan, tim memberikan juga penyuluhan terkait keamanan pangan dalam pengolahan kerupuk di era pandemic covid 19; dan strategi pemasaran. Setelah meningkatkan pengetahuan mitra.

Tim PkM melatih kelompok mitra dalam pengolahan kerupuk sagu dengan proses nutrifikasi sehingga dapat menghasilkan produk kerupuk yang berkualitas, baik dari kandungan nutrisi, sensorik, aman dikonsumsi, terlebih sudah tampil dengan kemasan yang menarik.

Dalam kesempatan ini, Tim PkM memberikan beberpa peralatan yang dapat menunjang kelompok mitra dalam mengolah kerupuk sagu. Hal ini sangat disambut baik oleh Ketua Mitra.

Kegiatan tidak hanya sampai di pelatihan, tetapi Tim PkM UKIM melakukan Monev dan pendampingan terus kepada mitra sehingga diharapkan mitra dapat terus berkembang dengan produk kerupuk sagu. Adapun atas kesepakatan bersama antara Tim PkM dan Mitra YSS, maka kerupuk sagu laor dan kelor ini diberi nama dengan Kerupuk SALOR (Sagu Laor/Sagu Kelor).

Setelah memiliki nama produk yakni Kerupuk Salor, selanjutnya kerupuk tersebut dianalisis kandungan gizi di BARISTAN Industri Ambon dan diperoleh kerupuk sagu salor tidak hanya tinggi karbohidrat,, tetapi kaya akan protein, kalsium dan zat besi.

Tahapan terkahir yang dilakukan oleh Tim PkM yakni mendampingi dan membantu dalam pengajuan ijin PIRT di Dinas Kesehatan Kota, dan akhirnya pada tanggal 08 September 2020, ijin PIRT untuk Sagu Kelor dan Sagu Laor dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kota Ambon. Setelah ijin dikeluarkan, produk mulai dipasarkan baik secara online dan didistribusi ke swalayan (Fris Fresh Market).

Akhir kata kami Tim PkM UKIM mengucapkan Terima Kasih buat Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan-Kemenristek BRIN yang sudah membiayai kegiatan PkM ini, juga buat Kelompok Yayasan Yayasan Sagu Salempeng yang telah bermitra dengan kami.

Harapan kami Mitra YSS dapat berkembang terus, produktif dan berinovasi dalam menghasilkan produk pangan bagi masyarakat. (***)