Oleh: Mahmud Tuasikal ( Kolomnis )

MALUKUnews: Masa-masa menjelang pemilu serentak 2019 baru saja usai, beberapa pekan lalu. Menyisihkan cerita tersendiri bagi sang maestro politik Maluku Abdullah Tuasikal (AT). Fase itu bisa dibilang lumayan berat. Cacian, makian, cibiran bahkan penghinaan bertubi-tubi silir berganti menerpah beliau. Mulai dari kalangan bawah yang teracuni otaknya oleh sebagian elit, hingga kalangan elit sakit hati phobia itu sendiri.

Media sosial adalah wadah yang paling sering digunakan oleh sekelompok orang yang tidak menyukai beliu. Menyerang membabibuta wilayah privasinya. Mereka para heeters ini hanya sebagian kecil orang yang memang belum moveon hingga sekarang.

Padahal adagium politik itu sendiri "tidak ada kawan sejati dan tidak ada lawan abadi dalam politik, yang ada hanya kepentingan yang abadi".

Narasi yang sering mereka jadikan senjata untuk sasaran tembak kepada beliau adalah. Istilah dinasti, postpower sindrom dan lain-lain.

Kalangan ini, herannya mereka kebanyakan kaum tercerahkan, yang bisa dibilang suda sarat pengalaman juga. Tapi itulah sisi manusiawi dari tiap-tiap orang.

Politisi sejati itu tidak lekang oleh waktu dan ruang. Kita ambil misal, seorang Mahatir Muhammad. Beliau pernah menjabat Perdana Menteri Malaisia dari tahun 1981 hingga tahun 2003. Dua puluh tiga tahun lamanya. Dan kemudian menjabat jabatan yang sama pada tahun 2019. baru beberapa bulan berlalu. uniknya, diusia yang terbilang ujur, ukuran manusia zaman skarang, mestinya suda tutup usia 92 tahun. Toh beliau masih kepingin menjabat.

Sampel yang paling dekat lagi adalah, Megawati Soekarno Putri. Semenjak partai masi PDI, sampai berganti dengan PDIP kurun waktu setengah abad. Mega wati masih yang terbaik, kekuasaan tak tergoyahkan di partai bentukan sang Proklamator itu. Beliau pernah menjadi Wapres di erah Gusdur kemudian Presiden, dan mengulang mencalonkan diri kembali. Untuk dua periode berturut-turut 2004 dan 2009, meski selalu kalah oleh sang Jenderal cerdas SBY. Tetapi itulah politik. politik itu bukan tentang dinasti, kekuasaan dan lainnya semata. Tetapi politik itu lebih kepada seni memainkan sebuah peran, seni mengambil dan memenangkan hati rakyat.

AT pun demikian. Kalau kita menelisik lebih dalam tentang perjalanan dan karier politiknya. maka, ada istilah anak zaman now, beliau (AT) BUKAN KALENG-KALENG.

Beliau bermula dari seorang kontraktor sekaligus konsultan perencanaan, pengawasan dan pemetaan yang sangat sukses di Maluku.

Karier organisasinya juga sangat cemerlang. Bermula dari ketua Ikatan Pencaksilat Indonesia (IPSI) Maluku, Ketua Komite Pemuda Indonesia (KNPI) Maluku, Ketua Himpunanan Pengusaha Muda (HIPMI) Maluku, Ketua Gabungan Pelaksana Konstruksi Indonesia (GAPENSI) Maluku, Ketua Kamar dagang dan industri (KADIN) Maluku, Ketua DPD II Golkar Malteng, kemudian lanjut Ketua DPD I Golkar Maluku.

Spektakulernya lagi, beliau mampu menciptakan jabatan Bupati Maluku Tengah untuk dirinya 2 periode, menjadikan kak kandungnya menjadi Bupati Maluku Tengah selama dua periode pula, menjadikan istrinya melenggang ke senayan 2 periode 2004 dan 2009, membuat anaknya ikut melenggang juga ke senayan tahun 2014. Dan rekor fenomenal terakhir yang belum pernah terjadi selama ini adalah, mereka berdua suami istri melangkah pasti ke senayan, dalam tensi politik yang sangat tinggi di tengah hadangan, kepungan lawan politik yang sangat tidak pair.

Banyak perkiraan AT sudah the end paskah kekalahannya pada Pilgub dua kali, satu kali melawan incumben Ralahalu, kemudian satu kali melawan Asagaf. Dan satu kali tidak sukses membawa asagaf menjungkirkan Murad Ismail.

Arah mata angin politik Maluku itu berbalik paskah kemenangannya, yang membawa suami istri ini merumput di bursa senayan 2019. Yang jelas segala kemungkinan masih akan terjadi kedepan, politik itu tidak pernah pasti, dia akan selalu berubah seiring dinamika.

Jadi dipertegas sekali lagi, bahwa politik itu bukan ansih kekuasaan ataupun jabatan saja, tapi lebih ke seni memenangkan hati rakyat. Publik sudah lebih cerdas dalam memilih dan memilah. Isu premordialime seiring waktu akan tergilas zaman.

Generasi Maluku cerdas berkarakter seperti AT, akan mampu hidup disemua zaman. Generasi letoi yang menjadikan SARA sebagai tamengnya, akan dilindas waktu. Mari bersama senator dan legislator baru, katong baku keku dan baku kele untuk bangun maluku lebih baik. (Tulisan ini diambil dari FB bernama Mahmud Tuaikal)