Oleh: Subair (Dosen non Aktif IAIN Ambon, Anggota Bawaslu Provinsi Maluku)

MALUKUnews: Kita baru saja memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas), tanggal 29 Juni 2020. Harganas tahun ini tidak dirayakan seperti pada tahun-tahun sebelumnya karena karena pertimbangan situasi adanya Pandemi Covid-19.

Tapi bukan berarti Harganas tahun ini tidak bermakna karena kita bisa menjumpai ucapan selamat Hari Keluarga di banyak media, baik oleh lembaga pemerintah maupun pribadi di laman media sosial masing-masing. Meski dirayakan secara berbeda, namun pada dasarnya Hari Keluarga dimaknai sebagai momen berkumpulnya anggota keluarga untuk saling mendekatkan diri satu sama lain.

Pandemi yang melanda dunia saat ini membuat banyak perubahan dalam seluruh aspek kehidupan yang mengarah kepada krisis yang mengkhawatirkan. Tak terkecuali keluarga di seluruh dunia juga merasakan kekhawatiran dalam menghadapi hal tersebut. Perubahan demi perubahan juga dihadapi oleh keluarga-keluarga akibat dampak dari wabah ini terutama perubahan kebiasaan baik yang terjadi pada sektor pendidikan, ekonomi, sosial, kesehatan, dan sebagainya. Perubahan yang terjadi akibat wabah tersebut tentu saja mempengaruhi kehidupan seluruh anggota keluarga di dalamnya.

Di sisi lain, situasi ini justru merekatkan hubungan keluarga, semakin guyub, semakin akrab. Peran keluarga makin terasa. Kita harus kembali ke lingkup terkecil dan yang sangat berharga, yaitu keluarga. Keluarga adalah sumber yang selalu menghidupkan, memelihara, memantapkan serta mengarahkan kita. Keluarga adalah sumber kebahagiaan dan keceriaan, pusat cinta dan kasih sayang yang senantiasa menopang semangat kita. Keluarga adalah perisai dalam menghadapi segala persoalan.

Dampak Pandemi Covid-19 pada Keluarga

Survei Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terhadap 20 ribu keluarga di Indonesia mengungkapkan bahwa sebagian besar keluarga di Indonesia tangguh dalam menghadapi COVID-19 karena mampu menerima, saling mendukung, serta menghindari pertengkaran di masa pandemi ini. Hasil survei itu menemukan bahwa 49,1 persen pekerjaan di rumah dilakukan oleh suami istri, 34,3 persen dominan dilakukan oleh istri dan 15,9 persen dilakukan oleh istri saja.

Terkait pengasuhan anak, survei BKKBN mengungkapkan bahwa suami dan istri melakukannya bersama-sama (71,5 persen). Namun 21,7 persen menyatakan bahwa istri lebih dominan dan 5,8 persen mengatakan istri saja. Untuk pemenuhan atau pembelian kebutuhan rumah tangga, 53,8 persen keluarga mengatakan bahwa peran tersebut dibagi rata antara suami dan istri. Namun 22,8 persen menyatakan bahwa istri lebih dominan dan 11,1 persen hanya istri saja. Hanya 8,3 persen yang menyebut suami lebih dominan dan 4 persen yang mengatakan hanya suami saja. Selain itu, soal bagaimana mengingatkan hidup sehat dalam keluarga, 82,5 persen menyatakan membagi peran tersebut rata antara suami dan istri dengan 12,4 persen mengatakan istri lebih dominan.

Kemudian mengenai siapa yang mengingatkan berdoa dan beribadah, 86 persen suami istri, tapi 7,2 persen jauh lebih tinggi daripada suami adalah istri. Hanya dalam mengingatkan berpikir dan berperilaku positif peran suami lebih besar yaitu 5,3 persen. Namun angka ini lebih tinggi sedikit dengan peran istri yaitu 5,2 persen. Sementara 87,9 persen mengatakan bahwa suami dan istri punya peran dalam tugas tersebut.

Tetapi tampaknya kedekatan fisik selama masa pandemik nyatanya tidak mendekatkan anggota keluarga secara emosional dan batin, terlihat dari meningkatnya KDRT selama masa pandemi. Meskipun tinggal di rumah tetapi anggota-anggota keluarga sibuk dengan diri masing-masing. Suami dengan beban kerja dan anak-anak dengan gadgetnya.

Menurut catatan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), hingga 23 April 2020, paling tidak terjadi 205 kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dilaporkan perempuan. Tingkat stres yang tinggi muncul dan dialami perempuan dalam keluarga akibat tekanan kebutuhan hidup, beban perempuan yang meningkat dalam mengurus rumah tangga, maupun perasaan tidak nyaman lainnya yang timbul bersamaan dengan meluasnya pandemi Covid-19.

Berbeda dengan masa normal, di mana laki-laki dan perempuan terbiasa mengembangkan pembagian kerja yang disepakati bersama di sektor publik, saat ini ketika mereka semua terpaksa berdiam diri di rumah, pola pembagian kerja domestik seperti apakah yang dikembangkan umumnya menjadi titik awal munculnya konflik dalam keluarga. Di samping itu, berbagai tekanan yang terjadi akibat imbas meluasnya pandemi Covid-19 bukan tidak mungkin melampaui batas kemampuan keluarga.

Sekurang-kurangnya ada tiga faktor yang membuat kemungkinan terjadinya tindak kekerasan berbasis gender meningkat selama masa isolasi diri karena pandemi Covid-19, termasuk pada masa penerapan new normal. Pertama, ketika laki-laki yang tidak terbiasa terlibat mengerjakan tugas-tugas domestik di rumah mau tidak mau harus berpartisipasi untuk membantu atau bersama dengan istri menyelesaikan tugas pengasuhan anak, memasak, dan lain-lain.

Sepanjang laki-laki mau mereposisi diri dan bersedia terlibat menyelesaikan tugas-tugas domestik, tentu tidak menjadi masalah berapa lama mereka harus mengisolasi diri. Tetapi, lain soal ketika suami bersikap pragmatis dan lebih mengedepankan ideologi patriarkis. Suami yang bersikukuh hanya mau berperan di sektor publik, dan tidak mau mengerjakan tugas domestik meskipun tinggal di rumah, tentu berpotensi memicu masalah dengan pasangannya. Ketika tidak ada salah satu pihak yang mengalah, konflik yang timbul niscaya akan menempatkan perempuan dalam posisi yang lebih tertekan. Bukan tidak mungkin konflik akan berujung pada terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan.

Kedua, ketika keluarga mulai menghadapi kesulitan ekonomi akibat berkurangnya pendapatan yang diperoleh. Di kalangan keluarga yang berasal dari golongan menengah ke bawah dan terbiasa mengandalkan penghasilan yang sifatnya harian, mereka niscaya berpotensi menghadapi masalah dalam keluarga karena tekanan kebutuhan hidup.

Perselisihan dalam keluarga mungkin akan meningkat tatkala sumber pemasukan keluarga berkurang. Pada saat kebutuhan keluarga dapat dipenuhi lewat santunan atau bantuan dari pemerintah, barangkali tekanan kebutuhan hidup yang dihadapi keluarga-keluarga terdampak Covid-19 tidak akan terlalu keras. Tetapi, ketika mereka luput dari intervensi pemerintah, dan dari hari ke hari makin kesulitan menghadapi tekanan kebutuhan hidup, jangan kaget jika persoalan rumah tangga akan mencuat –yang berujung pada terjadinya tindak kekerasan dalam keluarga.

Ketiga, ketika keluarga harus menghadapi beban kerja rumah tangga yang meningkat, termasuk ketika mereka harus mendampingi anak belajar di rumah. Bagi orang tua yang tidak terbiasa dan tak mampu mendampingi anaknya belajar, tambahan kerja pengasuhan anak seperti itu tentu akan menjadi beban tersendiri yang memicu terjadinya stres yang berkepanjangan. Bukan tidak mungkin tekanan dan beban psikis seputar pengasuhan anak akan membuat orang tua mengalami ketidaknyamanan dan kecemasan yang berlebihan. Ketidakmampuan orang tua untuk mengembangkan pendekatan yang bervariasi, menjaga agar anak tidak jenuh di rumah, sering justru berpotensi meningkatkan tekanan psikologis orang tua. Studi yang dilakukan Kementerian PPPA menemukan bahwa sebagian besar anak (58 persen) cenderung tidak senang selama belajar dari rumah.

Membangun Resiliensi Keluarga

Istilah ‘resiliensi’ keluarga dipahami sebagai kemampuan keluarga mempertahankan fungsi sosial dan ekonominya di tengah pelbagai ketidakpastian (Walsh, 2011). Sebuah keluarga yang resilien adalah keluarga yang mampu menanggapi perubahan atau tekanan dengan cara yang positif dan mampu mempertahankan fungsi inti sebagai sebuah keluarga meskipun dalam tekanan atau krisis.

Mengapa resiliensi keluaraga dibutuhkan dalam situasi krisis? Resiliensi keluarga bukan sekadar bertahan di tengah krisis, tetapi memberi solusi untuk tumbuh dari kesulitan. Sekalipun memaknai resiliensi tidak hanya menghitung seberapa jumlah dari ketahanan anggota keluarga, namun resiliensi dipandang dari proses relasi yang memfasilitasi kelangsungan hidup dan pertumbuhan keluarga. Dalam pandangan lain, resiliensi digunakan sebagai strategi oleh keluarga dalam menghadapi tekanan. Permasalahan yang ada dalam hal ini adalah situasi krisis saat ini, yaitu terjadinya pandemi Covid-19.

Mengutip dari laman https://www.esaunggul.ac.id/membang­…­a-ketika-menghadapi-wabah-covid-19/, Walsh (2016) mengemukakan proses atau komponen kunci yang menjadi dasar untuk mengembangkan resiliensi keluarga. Komponen resiliensi keluarga tersebut yaitu:

1. Sistem Keyakinan Keluarga

Sistem keyakinan di dalam keluarga dapat membantu anggota keluarga untuk mengelola dan menghadapi situasi krisis. Kepercayaan yang penting di dalam keluarga untuk membentuk resiliensi keluarga meliputi memberi makna pada situasi krisis, pandangan positif, dan transedens dan spiritualis.

Keluarga yang dapat memaknai situasi krisis merupakan keluarga yang dapat berfungsi dengan baik untuk menjalani proses yang terjadi di sepanjang kehidupannya. Mereka akan melihat bahwa kesulitan yang dihadapi sebagai tantangan yang harus dilalui yang dapat membentuk pribadi mereka menjadi lebih baik. Keluarga yang resilien akan berpikir untuk memahami situasi yang mereka hadapi, apa penyebab kesulitan tersebut dan hal apa yang dapat mereka lakukan untuk dapat mencari alternatif pemecahan masalah terhadap hal tersebut. Pandangan positif di dalam menghadapi kesulitan biasanya akan dimiliki oleh keluarga yang optimis dan memiliki harapan akan masa depan. Hal ini akan membantu keluarga tersebut untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi.

Keyakinan transenden membuat keluarga memiliki makna, tujuan dalam hidup dan hubungan yang berada melebihi batas di luar hubungan individu, keluarga dan masyarakat. Keyakinan ini biasanya dibangun dari sesuatu yang berasal dari agama dan spiritual manusia. Aktivitas yang biasanya dilakukan yang berhubungan dengan keyakinan ini adalah berdoa, meditasi, berkumpul dengan komunitas yang dapat membentuk keimanan manusia sehingga dapat memberikan dukungan kepada keluarga.

2. Proses Organisasi

Keluarga perlu menyediakan struktur untuk dapat menciptakan adanya kesatuan, keterhubungan dan komunikasi antar keluarga (Minuchin, 1974 dalam Walsh, 2016). Pola organisasi ini dibentuk untuk menciptakan fleksibilitas, keterhubungan, ketersediaan sumber daya ekonomi antar anggota keluarga. Contohnya, apabila seorang anggota keluarga membutuhkan bantuan tertentu, yang bersangkutan mengetahui cara untuk mendapatkan bantuan tersebut dari anggota keluarga yang lain, dilain pihak anggota keluarga lain dapat secara cepat mengetahui situasi dari anggota keluarga yang lain sehingga dapat secara proaktif memberikan dukungan baik moral maupun materi. Pola organisasi yang dapat mendukung resiliensi keluarga, meliputi fleksibilitas, keterhubungan dan sumber daya sosial ekonomi.

Keluarga yang resilien akan mampu untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang mereka hadapi dalam situasi yang sulit. Mereka juga berupaya untuk dapat mengatur keadaan keluarga mereka agar mereka dapat mempertahankan kehidupan mereka selanjutnya dengan cara menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru yang dapat mereka jalani bersama.

Keterhubungan mencakup adanya komitmen di dalam keluarga yang berasal dari ikatan emosional yang kuat antara anggota keluarga yang satu dengan yang lainnya. Dengan ikatan emosional yang kuat di antara anggotanya maka akan terbentuk hubungan yang saling mendukung di setiap situasi terutama ketika menghadapi krisis. Selain itu, keluarga yang memiliki keterhubungan akan berupaya untuk bersama-sama bangkit dalam menghadapi kesulitan.

Sumber daya sosial dan ekonomi di dalam keluarga merupakan salah satu yang penting untuk membentuk resiliensi di dalam keluarga. Melalui pola organisasi di dalam keluarga yang baik, maka keluarga tersebut akan memiliki keterbukaan dalam sumber daya ekonomi yang dimiliki dan memberikan dukungan sosial yang optimal ketika menghadapi krisis. Sumber daya ekonomi yang dapat didistribusikan dengan baik dan dipikirkan bersama antar anggota keluarga merupakan ciri keluarga yang resilien. Selain itu dukungan sosial juga dapat dilakukan dengan cara saling menguatkan, memberikan informasi yang lebih memberdayakan, membangkitkan semangat dan harapan di dalam keluarga di tengah-tengah krisis dan berupaya untuk membuat segalanya menjadi suatu hal yang normal untuk dijalani.

3. Proses Komunikasi dan Pemecahan Masalah

Komunikasi merupakan hal yang penting untuk meningkatkan fungsi dan resiliensi keluarga. Komunikasi memungkinkan adanya pertukaran informasi, keyakinan, ekspresi emosi dan proses pemecahan masalah. Dengan adanya komunikasi maka keluarga dapat bersama-sama bersinergi untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi. Aspek komunikasi didukung oleh adanya kejelasan, keterbukaan ungkapan emosi, dan penyelesaian masalah yang kolaboratif.

Contohnya, apabila ada anggota keluarga yang menyampaikan kesulitannya, maka anggota keluarga yang lain mendengarkan dengan empati serta tidak menggunakan kata-kata yang negatif maupun intonasi yang memprovokasi. Komunikasi yang baik akan menciptakan dukungan moral yang signifikan bagi masing-masing anggota keluarga. Aspek komunikasi di dalam keluarga meliputi kejelasan, keterbukaan ungkapan emosi dan enyelesaian masalah yang kolaboratif.

Kejelasan merupakan hal yang penting di dalam komunikasi. Informasi yang jelas yang disampaikan di dalam keluarga baik dengan kata-kata, sikap dan perbuatan maka akan membantu anggota keluarga untuk dapat memaknai situasi secara menyeluruh, mengembangkan keterbukaan dalam hal emosi, dan tindakan yang diambil dalam situasi krisis.

Keluarga yang resilien mampu melakukan komunikasi dengan terbuka dalam mengungkapkan emosi atau perasaan antar anggota keluarga. Dengan keterbukaan antar anggota keluarga maka mereka akan dapat saling menghibur dan dapat saling menunjukkan empati antar anggota keluarga.

Keluarga yang resilien memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah bersama-sama ketika menghadapi krisis. Mereka akan berupaya untuk memberikan ide, saran yang konstruktif untuk dapat bangkit dari krisis yang dialami oleh keluarga.

Kemampuan keluarga untuk saling mendukung dan saling bekerjasama dalam situasi seperti ini sangat dibutuhkan. Tantangan terbesar adalah membuat keluarga tetap dapat memikirkan dan mengerjakan sesuatu yang memberdayakan di situasi yang tidak kondusif.

Idealnya semua yang dibutuhkan oleh satu anggota keluarga perlu diupayakan oleh anggota keluarga yang lain, seperti ketika menghadapi penurunan dalam tingkat ekonomi atau ada anggota keluarga yang sakit, maka hal-hal tersebut perlu dipikirkan atau menjadi bahan refleksi, apa makna positif yang dapat saya ambil terhadap peristiwa ini? Misalnya pada saat perekonomian sedang menurun maka seluruh anggota keluarga mengupayakan penghematan terhadap barang-barang kebutuhan makanan, dan sebagainya, yang biasanya ingin makanan tertentu dengan menggunakan pesan antar online dapat dijadikan sarana untuk menciptakan ide kreatif dalam memasak makanan yang diinginkan.

Selain itu, yang biasanya di dalam keluarga tidak pernah memikirkan cara melakukan penghematan namun di saat kondisi perekonomian menurun, keluarga bersama-sama berupaya untuk menghitung adanya pemasukan dan pengeluaran serta melakukan penghematan di berbagai hal di dalam rumah tangga seperti lebih memperhatikan penggunaan listrik, air, dan sebagainya.

Selain itu, jika menjumpai anggota keluarga yang sakit. Hal itu memang tidak diharapkan, namun dibalik hal yang tidak menyenangkan ada anggota keluarga yang belajar untuk dapat bekerjasama, berempati, bertoleransi, dan lebih memperhatikan kesehatan dirinya dan anggota keluarganya. Beberapa keluarga saat ini juga mampu mensyukuri kesehatan, kebersamaan, dan semua hal-hal yang dalam situasi normal tidak menjadi prioritas untuk dilakukan. Memang semua kondisi yang dialami oleh keluarga khususnya dalam menghadapi Covid-19 ini merupakan sebuah proses yang mungkin akan cukup panjang berlangsung dan perlu dihadapi.

Sebagian keluarga atau individu dapat merasakan lelah, kecewa, putus asa, dan sebagainya dalam menghadapi situasi ini. Namun resiliensi keluarga dapat tercapai ketika terdapat anggota keluarga di dalamnya yang meskipun berada di situasi yang buruk atau situasi penuh tekanan seperti adanya wabah Covid-19 ini tetap dapat bangkit dan menciptakan pikiran, aktivitas yang dapat memberdayakan diri dan keluarganya. Dengan demikian, kita tidak hanya sekedar menjalani keadaan tapi lebih dari itu yaitu dapat menciptakan keadaan yang lebih baik bagi keluarga kita.

Pada akhirnya, untuk dapat beradaptasi dengan krisis yang diakibatkan oleh pandemi Covid 19, terutama mencegah agar tindak kekerasan berbasis gender tidak meluas bersamaan dengan terjadinya wabah Covid-19, yang dibutuhkan kesadaran keluarga untuk menyadari posisi mereka masing-masing dalam konteks equal family. Semua harus menyadari bahwa kebijakan isolasi diri di masa pandemi Covid-19 niscaya akan menimbulkan beban dan tekanan tersendiri dalam keluarga.

Yang terpenting sekarang adalah bagaimana masing-masing anggota keluarga bersedia mereposisi diri dan menempatkan kepentingan keluarga dan anak sebagai dasar pertimbangan mereka dalam bersikap. Di masa pandemi penyakit mengancam keselamatan jiwa, rumah haruslah menjadi ruang yang paling aman bagi semua anggota keluarga, terutama perempuan dan anak untuk berlindung.

Hari Keluarga adalah momentum yang tepat untuk menumbuhkan kesadaran bagi setiap individu Indonesia akan pentingnya keluarga sebagai sumber kekuatan untuk membangun bangsa dan negara, melawan Covid-19 di masa new normal. Selamat Hari Keluarga Nasional. (***)