Oleh: Petrus Oratmangun ( Wartawan Ambon Ekspres )

MALUKUnews: Ada yang pernah tahu gempa dasyat di Pulau Mangole? Nah, tahun 1998, Pulau Mangole di Maluku Utara diterpa gempa yang sangat dasyat.

Pada 11 November 1998, Gempa Bumi melanda pulau itu, menewaskan puluhan orang dan ratusan orang menderita luka-luka. Selama 12 hari kawasan itu dilanda gempa susul menyusul.

Saat ini, Pulau Mangole saat ini sudah masuk sebagai wilayah Kabupaten Kepulauan Sula, Propinsi Maluku Utara. Mangole adalah pulau terbesar di Kepulauan Sula.

Saat gempa dasyat terjadi, Mangole masih berada dlm wilayah Pemerintahan Propinsi Maluku dengan Gubernur, M. Saleh Latuconsina.

M. SALEH LATUCONSINA

M. Saleh Latuconsina adalah Gubernur Maluku ke-10. Dia dilantik pada 15 September 1998 dan selesai masa jabatan pada 11 Desember 2002.

2 bulan 4 hari setelah dilantik, pak Saleh lngsung diperhadapkan dengan musibah. Gempa melanda Falabisahaya di Pulau Mangoli. Gempa meluluhlantakkan fasilitas publik disana, juga merusak fasilitas industri plywood PT. Barito Pasific Timber Group di Falabisahaya. Sekira 4 tahun perusahaan milik taipan lekat keluarga Cendana itu lumpu total, ribuan karyawan di-PHK.

Dasyatnya gempa memaksa ribuan orang, terutama pendatang tinggalkan pulau itu. Digambarkan klinik pengobatan tidak mampu menampung korban, dan terpaksa ditempatkan di gedung olahraga.

Saleh Latuconsina, putra Maluku terbaik jebolan doktor dari Prancis ini terbilang punya garis tangan yang bisa dibilang 'kurang beruntung' saat memimpin. Dia selalu dirundung kemalangan saat memegang kendali.

Betapa tidak, sepulangnya dari Mangoli dan belum tuntas penanganan gempa disana, pada 19 Januari 1999, konflik berbau SARA menjemput. Konflik antar warga pecah di Kota Ambon. Maluku luluh lantak saat itu.

Praktis selama 5 tahun kepemimpinan sampai berakhir 11 Desember 2002, Pak Le (begitu biasa beliau disapa) hanya menangani musibah dan bencana kemanusiaan. Menghapus air mata dan mencegah darah bersimbah.

Belum lagi nuansa reformasi 1998 dari pusat menekan dari atas, dari samping politik daerah terus bergoyang ketika Maluku Utara menuntut pisah dengan Propinsi Maluku. Terwujud! 4 Oktober 1999, Maluku Utara dilepas berdiri sendiri.

Memang beban pak Le, berkurang ketika Maluku Utara lepas pisah dari Maluku, api dampak konflik di Maluku sangat menyengat ketimbang Maluku Utara (Malut). Malut pulalah yang terbilang duluan pulih dari Maluku.

Meski beban berkurang, tapi Pempus justru mengangkat dua Wagub untuk mmbantu pak Le. Wagub Pemerintahan dijabat pak Drs. S. Akyuwen dan satunya lagi Wagub bidang Kesra dijabat Brigjen Pol. Paula Renyaan. Dua Wagub ini mmbantu pak Le mengendalikan Maluku. Sebuah formasi tiga tungku untuk Maluku.

Sayang, seperti sudah digariskan, usai periode pertama, pak Le tidak terpilih pada Pemilihan Gubernur yang dipilih DPRD. Saat pemilihan, Brigjen Karel Albert Ralahallu unggul dan memimpin selama 2 periode dilanjutkan dgn Said Assagaf 1 periode.

Pak Le, termasuk sosok besar yang dimiliki Maluku. Dia lahir pada 15 juni 1948 dan Maluku Berduka ketika beliau meninggal pada tanggal yang sama 15 Juni 2016, atau bertepatan dengan HUT-nya yang ke-68.

MURAD ISMAIL

Gubernur Murad Ismail (MI), putra Waihaong, kelahiran 11 September 1961 ini terbilang cukup fenomenal.

Memulai karier di kepolisian dan mengakhiri kariernya dengan gemilang sebagai Kakorps Brimob RI (diangkat 31 Desember 2015 sampai 5 Januari 2018).

Sebelumnya, Irjen Murad menjabat Wakapolda Maluku dan diangkat menjadi Kapolda Maluku (15 Desember 2013 sampai 31 Desember 2015).

Jalan politik Murad terbilang fenomenal. Murad nekat melepas baju Kakorps Brimob dan maju bertarung di Pilgub Maluku. Apalagi awal mencalonkan diri, surveinya sangat rendah, dan semua orang seakan tidak yakin. Begitu NasDem menelorkan rekomendasi pertama, semua mulai terperangah.

Siapa nyana, MI mampu menumbangkan Said Assagaf, seorang pamong yang memiliki karier birokrat yang sempurna. Asagaff, menapaki karier di birokrat dari kepala seksi, kepala Bapedda, Sekda, Wagub dan Gubernur Maluku.

GEMPA LAGI

Murad Ismail, dilantik sebagai Gubernur Maluku ke-13 pada 24 April 2019 di Jakarta. Dan 5 bulan setelah dilantik atau 15 hari setelah MI merayakan HUT-nya yang ke-58, gempa datang menghantam Ambon, SBB dan Malteng.

Tidak ada pulau yang tenggelam memang, tapi 39 orang tewas, puluhan luka-luka dan ribuan rumah rusak. Saat ini puluhan ribu warga Maluku masih bertahan di terpal-terpal pengungsian.

Kalau di Mangole 12 hari masih ada gempa susulan, kita di Ambon sudah 2 minggu lebih gempa masih datang menerpa. Tercatat 1.300-an kali gempa susul-menyusul. Ini benar-benar badai gempa.

Kalau ribuan orang akhirnya tinggalkan Mangole, kita di ambon juga demikian.

Kalau di Mangole, gempa terjadi saat Malut lg menuntut pemekaran, kita di Ambon, saat ini malah Malra laga berjuang mekar. Beda memang, tapi serasa mirip 'saudara'. Sama-sama nyawa dan harta melayang.

DOA dan ZIKIR

Nah, apakah musibah ini karena pemimpin kita atau karena kita? Apakah ini garis tangan kita atau para pemimpin kita? Apakah bumi ini sudah tidak lagi ingin bersahabat dengan kita...? Dosa kita? Ataukah memang periode tektonik lg berputar dan lempengan lg mncari posisi dan mengorbankan kita...!?Wallahualam

Yang pasti, ini saatnya kita sedang memasuki masa dimana badai gempa menerpa.

Yang pasti, kita harus hati2 n siap menghadapi bencana ini. Sebab, kesiapsiagaan mengurangi rasa takut dan membuat kita semakin tangguh.

Yang pasti kita terus berdoa untuk kita, rumah kita, baileu, kota, benteng, bangsa, bumi kita dan untuk para pemimpin kita. Semoga kepemimpinan Murad Ismail tidak 'setragis' seperti semasa kepemimpinan M Saleh Latuconsina.

Semoga bencana ini lekas pergi, sebab, 'Badai (Gempa) Pasti Berlalu, sehingga kita bisa sudahi air mata dan darah ini. Semoga...!!! (***)