Oleh: Johan Tehuayo, S.Sos, M.Si ( Akademisi Fisip Unpatti )

MALUKUnews: Proses pemilihan Kepala daerah langsung tahun 2020 yng akan di selenggarakan pada tanggal 9 Desember 2020 hasil pendaftaran yang telah dilakukan memperlihatkan banyak calon dari incamben atau petahana.

Secara politik, yang dimaksudkan dengan calon incamben pada konteks ini, bukan berorientasi pada politisasi birokrasi, tetapi calon incamben adalah figur yang masih menjabat sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah. Mamun menurut undsng- undang, pilkada selama berkompetisi mereka harus cuti dan di gantikan dengan pejabat sementara, dalam rangka melaksankan proses pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik kepada masyarakat sampai kompetisi pilkada selesai atau terpilihnya calon kepla daerah dan Wakilnya.

Dalam konteks ini, tentunya calon incamben secara politik memiliki prospek atau peluang untuk memperoleh dukungan yang maksimal. Hal ini sangat di pengaruhi oleh berbagai factor, diamtaranya adalah: pertama, faktor kekuasaan politik dalam birokrasi pemerintahan daerah selama lima tahun.

Perespektif ini sebagai figur yang sudah mengimplementasikan berbagai program-pogram pembangunannya di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Tentunya akan mendapat dukungan yang kedua kalinya. Kalau terjadi perubahan atau progresif dan masyarakat.

Kedua, faktor kepemimpinan politik. Pada perspektif ini, incamben telah memiliki popularias dan elektabikitas yang tinggi di masyarakat lokal. Karena selama lima tahun telah membangun hubungan atau relasi yang maksimal dengan masyarakatnya, sehingga mrndapat respon yang baik atas kinerjanya dalam pemerintahan.

Ketiga, faktor jaringan struktur dalam birokrasi pemerintahan. Pada konteks ini, budaya politik dalam birokrasi yang masih mewarnai prilaku aparatur sipil nrgara, adalah patrimonial, sehingga selama lima telah terbangun secara baik dan terakmodatif dalam struktur birokrasi pemerintahan dari daerah sampai kedesa. Dengan demikian calon incamben akan mendapat dukungan yang maksimal.

Keempat, faktor modernisasi masyarakat. Pada konteks ini, dengan adanya perkembangan sosial ekonomi masyarakat, terutama adanya kemajuan peningkatan kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat, maka masyarakat akan mempertahankan figur incambent untuk periode selanjutnya . Faktor presepsi dan prilaku politik masyarakat.

Pada konteks ini, kalau presepsi dan prilaku politik masyarakat mengarah pada hal yang baik dan positif, maka secara simetrik akan memberikan dukungan politik kepada incamben.

Kelima, faktor Virus Covid 19. Pada konteks ini, kondisi masyarakat krisis seperti ini, masyarakat sangat dinpengaruhi oleh berbagai informsi yang relatif syarat dengan isu-isu politik melalui media publik maupun media sosal.

Oleh karena itu, keberpihakan kepada berbagai segmentasi masyarakat dalam rmberikan kontribusi dan solusi terhadap masyarakat, sangat mempengaruhi prilaku politik. Semakin banyak isu positif, maka presepsi masyarakat terhadap incamben semakin baik.

Berbagai faktor ini secara politik akan berpengaruh terhadap meningkatnya dukungan politik kepada incumben. Meskipun demikian setiap figur calon incamben atau tidak sangat di pengaruhi juga oleh strategi tim suksesnya dalam mensosialisasikan visi dan misinya kepada masyarakat.

Pada konteks ini visi pembangunan daerah lima tahun kedepan menjadi instrumen yamg dapat mempengaruhi presepsi dan dukungan politik masyarakat. (***)