MALUKUNEWS, Ambon: Ny. Rini Tengko, Isteri Bupati Kepulauan Aru Kolonel (Pur) Teddy Tengko SH, MH, mengaku sangat kaget dengan cara eksekusi oleh tim gabungan dari Kejaksaan Agung, TNI dan Polri terhadap suaminya di Bandara Gwamar Kota Dobo, Rabu kemarin. Ia menyatakan, cara eksekusi ini seperti operasi menangkap seorang teroris kelas kakap. “Tidak sedikitpun ada tanda-tanda atau pemberitahuan untuk eksekusi. Suami saya bukan teroris, kok kejaksaan melakukan eksekusi dengan cara menjebak, menipu dan melibatkan pasukan TNI/ Polri begitu banyak di bandara ?. Cara jemput paksanya malah dengan cara tipu muslihat, sangat tidak prosedural. Bapak malah dengan senang hati menjemput Pak Danrem dan rombongan sebagai tamu di wilayahnya. Kenapa tiba-tiba dipaksa masuk dalam pesawat dan diterbangkan segera ke Ambon. Saya rasa sangat tidak adil, dengan cara membawa-bawa jemputan Pak Danrem, “ ungkap Ny Rini sedih seperti diberitakan Suara Maluku hari ini. Ia menegaskan, suaminya sudah berbicara kepadanya untuk kalau terus terjadi tekanan, maka dirinya akan menyerahkan diri dan sehubungan dengan itu suaminya telah dua kali berkomunikasi dengan Kepala Rumah Tahanan (Rutan) Dobo untuk mengatur cara penyerahan diri dan ditahan di Rutan setempat. Namun belum ada kelanjutan rencana tersebut, malah sudah di eksekusi paksa dengan cara-cara seperti mau menggebrek teroris. “Sekali lagi saya tekankan, suami saya bukan teroris. Karena itu saya menyesal cara kejaksaan agung lebih mengedepankan pasukan TNI dan Polri, bahkan seperti mengumpankan Pak Danrem untuk bapak harus datang kemudian ditangkap dan dibawah ke Ambon. Saya sebagai isteri saja kaget di rumah, ketika diberitahu bahwa sudah di bawah ke Ambon, sebab yang saya tahu bapak itu menjemput Danrem dan rombongan,” bebernya. Ny. Rini mengungkapkan lagi, kalau kejaksaan agung berkoordinasi dengan baik, karena suaminya sudah menyatakan akan menyerahkan diri sesuai prosedural, terbukti dengan niat baik Bupati Aru ini untuk mengontak kepala Rutan Dobo sampai dua kali guna membahas pelaksanaannya. Lanjut Rini, suaminya ingin kalau harus menjalani hukuman maka dilaksanakan di Kota Dobo. Ditambahkan, dirinya baru bisa berkomunikasi dengan suaminya saat beliau sudah tiba di Lembaga Permasyakatan Nania Ambon. “ Bapak menghubungi saya melalui telepon rumah dari sambungan telepon di penjara. Beliau meminta saya tabah dan meminta saya segera ke Ambon. Beliau merasa dibohongi dengan cara eksekusi seperti begitu. Karena beliau punya maksud baik menjemput Danrem, kok tiba-tiba dipaksa masuk ke pesawat dan dibawah ke Ambon, “ tuturnya. Rencananya, Ny. Rini akan tiba di Ambon hari ini dan bersaman dengan itu pengacara Teddy Tengko, Mantan Mensesneg dan Menkum HAM Yusril Ihsa Mahendara juga akan tiba untuk berkonsultasi hukum dengan kliennya itu. (SM)