Oleh: Muhammad Levia Dava Rezeki Effendi (Mahasiswa Fisip Universitas Muhammadiyah Malang)

MALUKUnews: Pada era sekarang teknologi dan informasi dapat membawa dampak positif dan negatif bagi kehidupan kita. Salah satu dampak negatif dari hadirnya teknologi informasi adalah munculnya cyberbullying.

Lalu pertanyaannya apakah cyberbullying itu? Cyberbullying adalah perlakuan yang di tunjukan untuk mempermalukan, menakut-nakuti, melukai, atau menyebabkan kerugian bagi pihak yang lemah dengan menggunakan sarana komonikasi teknologi informasi.

Pemanfaatan teknologi dan informasi di Indonesia sekarang ini bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi banyak keuntungan dan manfaat yang bisa di kita dapatkan, di antaranya dapat mempermudah manusia dalam menjalani tugas kehidupanya serta meningkatkan kualitas hidupnya.

Tetapi di sisi lainya tidak sedikit kerugian dalam bentuk hal-hal negatif. Salah satunya adalah munculnya fenomena cyberbullying di kalangan anak-anak maupun remaja. Cyberbullying atau kekerasan dunia maya ternyata lebih menyakitkan jika di bandingkan dengan kekerasan secara fisik.

Korban cyberbullying menurut smith adalah seseorang yang mengalami kerugian atau di sakiti dan dilecehkan orang lain dengan sengaja secara berulang-ulang karena kesalahan dari penggunaan teknologi informasi. Bisa di bilang dengan intiminasi secara fisik atau verbal yang menimbulkan depresi.

Dampak dari cyberbullying untuk para korban tidak berhenti sampai pada tahap depresi saja, melainkan sudah sampai pada tindakan yang lebih ekstrim yaitu bunuh diri. Melihat maraknya fenomena cyberbullying ini, penulis mencoba mengkritik tentang fenomena cyberbullying di kalangan remaja kita di Indonesia.

Pro Dan Kontra

Pengguna internet di Indonesia menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2018 berjumlah 171,17 juta pengguna . Di samping itu prosentase terbanyak pengguna social media yaitu pada kalangan remaja (milenial).

Sekjen Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Henri Kasyfi Soemartono pada tahun 2019 menyebutkan bahwa pengguna social media terbanyak dengan prosentase 91% yaitu pada rentang umur 15-19 tahun.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi telah menyebabkan pro dan kontra terhadap perubahan yang signifikan dalam pola jaringan sosial remaja.

Ada dua perspektif pada orientasi perubahan ini. Salah satunya adalah bahwa, semakin seorang individu menghabiskan lebih banyak waktu di Internet, semakin berkurang waktu yang tersedia untuk berinteraksi dengan orang lain. Akibatnya, penggunaan internet berdampak pada penurunan intensitas interaksi sosial di dunia nyata.

Perspektif kedua adalah bahwa, Internet yang dapat memperluas kesempatan bagi orang untuk berinteraksi dengan orang lain, memberikan kontribusi tidak hanya terhadap peningkatan intensitas interaksi tetapi juga terhadap lingkup interaksi social Cyberbullying ?

Cyberbullying adalah istilah yang digunakan pada saat seseorang anak atau remaja mendapat perlakukan tidak menyenangkan seperti dihina, diancam, dipermalukan, disiksa, atau menjadi target bulan-bulanan oleh anak atau remaja yang lain menggunakan teknologi Internet, teknologi digital interaktif maupun teknologi mobile.

Jika orang dewasa ikut terlibat tidak lagi disebut sebagai cyberbullying tetapi disebut cyber harassment atau cyber stalking. Cyberbullying biasanya bukan hanya komunikasi satu kali, ini terjadi secara berulang kali, kecuali jika itu adalah sebuah ancaman pembunuhan atau ancaman serius terhadap keselamatan orang. Pada cyberbullying pastinya ada bentuk atau macam-macam penyerangan cyberbullying terhadap korban.

Macam-macam metode cyberbullying yaitu seperti direct attacks pesan-pesan dikirimkan secara langsung ke anak, posted and public attacks yang dirancang untuk mempermalukan target dengan memposting atau menyebarkan informasi atau gambar-gambar yang memalukan ke publik, dan cyberbullying by proxy memanfaatkan orang lain untuk membantu mengganggu korban, baik dengan sepengetahuan orang lain tersebut atau tidak Pencegahan Cyberbullying.

Untuk mencegah terjadinya cyberbullying, orang tua harus memberikan edukasi kepada anak-anak mereka tentang perilaku online yang benar dan aman. Orang tua juga harus melakukan pemantauan terhadap aktivitas online anak-anak mereka yang bisa dilakukan baik secara informal maupun formal.

Seringkali orang tua tidak mengetahui jika anak mereka mengalami cyberbullying. Oleh sebab itu orang tua harus dapat melihat tandatanda yang menunjukkan bahwa cyberbullying telah dialami oleh anak mereka.

Jika anak mengalami cyberbullying hal terbaik yang dapat dilakukan orang tua adalah meyakinkan bahwa mereka merasa aman dan nyaman serta memberikan dukungan yang dibutuhkan. Orang tua harus bisa meyakinkan anak mereka bahwa mereka semua menginginkan akhir yang sama yaitu bullying akan berhenti dan hidup tidak akan menjadi lebih sulit lagi.

Sekolah juga memiliki tanggung jawab dalam ikut serta mencegah terjadinya cyberbullying. Langkah penting yang bisa diambil sekolah adalah dengan memberikan edukasi kepada komunitas sekolah tentang tanggung jawab dalam penggunaan internet dan teknologi digital yang lain.

Bagi anak sendiri, penting bagi mereka untuk terus menjalin komunikasi dengan orang dewasa yang mereka percayai, baik itu orang tua, guru, maupun orang lain sehingga jika ada pengalaman yang tidak menyenangkan mereka dapat menceritakannya kepada mereka. Jika anak atau remaja mengalami cyberbullying penting untuk menyimpan semua bukti sehingga orang dewasa bisa membantu mengatasi situasi. Bukti ini bisa berupa catatan log atau catatan tanggal dan waktu dan isi dari pesan yang mengganggu itu sendiri.

Para penegak hukum juga memiliki peran dalam mencegah dan merespon terjadinya cyberbullying. Telah diatur dalam undang undang no 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) untuk menindak tindak pidana cyberbullying. UU no 11 tahun 2008 tentang ITE pasal 45 ayat 1 yang dimaksud dalam pasal 27 ayat (1), ayat (3), ayat (4) pelaku akan dipidana penjara paling lama 6 tahun dan/ atau denda paling banyak Rp.1.000.000.000 (satu milyar).

Cyberbullying bukan semata-mata masalah remaja saja namun juga menjadi tanggung jawab semuan komponen yang lain termasuk orang tua, sekolah, masyarakat, para penegak hukum dan lain sebagainya. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi cyberbullying ini. Masing-masing komponen memiliki tugas untuk melakukan sesuatu sesuai dengan perannya agar cyberbullying ini dapat dicegah dan dihentikan. (***)