Oleh: Sheny Kaihatu (Peneliti pada BPTP Maluku)

MALUKUnews: Tanaman padi (Oryza sativa L) merupakan komoditi pangan terpenting di Indonesia bahkan setelah bulir/gabah (sink) yang merupakan hasil fotosintat diproses menjadi beras maka merupakan salah satu komoditas strategis pangan nasional serta kestabilan stok beras sangat besar pengaruhnya terhadap ketahanan pangan, kestabilan politik maupun ekonomi bangsa.

Usaha untuk meningkatkan produksi telah berhasil dilakukan walaupun produksi padi nasional masih didominasi oleh sumbangan dari lahan beririgasi di luar provinsi Maluku terutama pulau Jawa dan Sulawesi. Beras sudah djadikan bahan makanan pokok rakyat Indonesia walaupun ada di sebagian wilayah Indonesia Timur selain beras komoditi jagung, sagu, umbi dan lainnya juga dijadikan sebagai makanan pokok.

Usaha untuk meningkatkan produksi telah berhasil dilakukan oleh pemerintah dengan konsep revolusi hijau , namun belum diikuti dengan penanganan panen dengan baik. Berbagai faktor yang mempengaruhi kehilangan hasil panen di tingkat petani salah satu diantaranya adalah varietas, untuk itu pililah varietas yang tahan rontok tapi tahan rebah seperti INPARI 20 dan HIPA 3 serta alat dan cara panen yang menentukan besar kecilnya kehilangan hasil selain itu perilaku petani, umur panen, alat perontok, lokasi dan musim saat panen turut menentukan kehilangan hasil panen.

Penekanan titik kritis kehilangan hasil terjadi pada tahapan pemanenan dan perontokan dengan tingkat kehilangan yang masih cukup tinggi, yaitu pada tahapan pemanenan kehilangan masih berkisar 9%, dan pada tahapan perontokan masih lebih dari 4%. Wadah penampungan hasil panen yang memadai (Terpal) turut berpengaruh terhadap kehilangan hasil panen. Sebaiknya dipanen pada musim panas dan secara berkelompok atau beregu dan perontokan padi dilakukan dengan menggunakan mesin perontok atau power thresher berkapasitas 6 - 7 kw/jam mampuh menyelamatkan hasil panen 6 kw/ha.

Teknologi Penanganan Kehilangan Hasil Panen

  1. Teknologi Penentuan Umur Panen. Umur panen dapat ditentukan berdasarkan pengamatan visual dengan penampakan hamparan sawah pada umur panen optimal padi yang dicapai setelah 90-95% butir gabah pada malai padi sudah berwarna kuning atau kuning keemasan. Padi yang dipanen pada kondisi tersebut akan menghasilkan gabah yang berkualitas sangat baik, dengan kandungan butir hijau dan butir mengapur yang rendah. Padi yang dipanen pada kondisi optimum juga akan menghasilkan rendemen giling yang tinggi. Panen yang tidak tepat waktu susut nya lebih tinggi, terlambat panen 1 minggu susut panen bisa dari 3,35 % menjadi 8,64 % atau berkurang 5,29 %. Susut Saat Panen (SSP), Susut Penumpukan Sementara (SPS) dan Susut Perontokan (SPR) cukup tinggi 18, 6 %. Sedangkan penundaan perontokan bisa berpotensi meningkatkan susut jika perontokan tertunda 1 malam susut bisa mencapai 0,87 %, 2 malam 1, 35 % dan 3 malam bisa mencapai 3,12 %.

  2. Pengamatan Teoritis (diskripsi varietas dan pengukuran kadar air gabah) Penentuan umur panen padi dengan dengan pengamatan teoritis dapat dilakukan dengan cara : (1) berdasarkan rata-rata umur hari setelah berbunga antara 30 - 35 hari setelah berbunga (HSB) atau rata-rata umur berdasarkan Hari Setelah Tanam (HST) sesuai diskripsi varietas Genjah, Sedang dan Dalam, (2) penentuan umur panen berdasarkan kadar air gabah. Umur panen optimum dicapai setelah kadar air gabah mencapai 22-23% pada musim kemarau, dan antara 24-26% kadar air gabah pada musim penghujan.

  3. Teknologi Alat panen. Alat pemotong (panen) malai padi mulai berkembang dari ani-ani, kemudian menjadi sabit bergerigi dengan bahan baja yang sangat tajam bisa menekan kehilangan sebesar 3 % dan terakhir dengan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) seperti menggunakan Combine Harvester bisa menekan presentase kehilangan hasil sampai 0,8 %.

Cara panen padi yang biasa dilakukan petani ada 3 (tiga) cara yaitu, panen potong bawah, panen potong tengah dan cara panen potong atas. Cara panen ini akan dipilih berdasarkan jenis dan alat atau cara perontokan yang digunakan. Jika padi digebot dengan membantingkan malai padi pada tatakan bambu atau kayu atau dirontokan dengan alat Pedal Thresher maka padi dipanen dengan cara potong bawah.

Sedangkan cara panen potong atas atau potong tengah jika padi dirontok dengan alat perontok Power Thresher. Potensi kehilangan hasil yang dapat terjadi pada proses pemanenan padi adalah pada saat pengumpulan dan penumpukan padi untuk dirontok. Untuk menghindari atau mengurangi terjadinya kehilangan hasil saat panen sebaiknya menggunakan alas Terpal yang tebal sehingga gabah yang rontok dan tercecer dapat ditampung dalam wadah tersebut. Penggunaan alas dan wadah yang tebal (tidak mudah rusak) pada saat penumpukan dan pengangkutan dapat menekan kehilangan hasil antara 0.94 - 2.36%. Perontokan adalah proses melepaskan butiran gabah (Sink) dari malai padi yang dapat dilakukan melalui proses mekanis yaitu dengan proses menyisir atau membanting malai padi pada benda yang lebih keras ataupun alat perontok tertentu.

Beberapa hal yang mungkin terjadi selama proses penundaan antara lain :

(1) terjadi kehilangan hasil yang disebabkan oleh gabah yang rontok selama penumpukan atau dimakan binatang, dan (2) terjadi kerusakan gabah karena adanya reaksi enzimatis, sehingga gabah cepat tumbuh berkecambah, terjadinya butir kuning, berjamur. Panen pada saat umur Optimum sangat penting untuk memperoleh mutu beras yang baik dan menekan kehilangan hasil. Umumnya panen optimum dilakukan pada saat gabah menguning 90−95%, kadar air gabah 25−27% pada musim hujan dan 21−24% pada musim kemarau atau pada umur 50−60 hari setelah pembungaan, bergantung pada varietas (Nugraha 2008). Menurut Marzempi et al. (1993) serta Iswari dan Sastrodipuro (1996), umur panen mempengaruhi persentase beras kepala dan beras patah.

Umur panen optimum varietas IR42 jatuh pada 29−30 hari setelah berbunga 50%. Pada saat tersebut, persentase beras kepala mencapai nilai tertinggi, yaitu 68,87%, dan beras patah terendah, yakni 24,77%. Pada varietas Batang Agam dan Batang Ombilin, umur panen optimumnya berkisar antara 42−45 hari dengan persentase beras kepala 53,66−54,56% untuk Batang Agam dan 65,77−67,27% untuk Batang Ombilin. Penundaan panen akan menurunkan persentase beras kepala dan meningkatkan persentase beras patah.

Hal ini disebabkan oleh terjadinya proses deregenerasi atau penuaan yang menurunkan kekompakan ikatan antara granula pati dan jaringan dalam biji. Perbedaan umur panen optimum pada masing-masing varietas disebabkan oleh faktor genetik (Juliano 2003). Sistem panen memengaruhi kehilangan hasil. Setyono (2009) melaporkan bahwa semakin banyak anggota kelompok pemanen, kehilangan hasil akan semakin tinggi karena setiap anggota berpotensi menyebabkan kehilangan hasil panen. Jumlah anggota pemanen 50 orang (sistem keroyokan) akan meningkatkan kehilangan hasil sampai 9,9%, sedangkan jika anggota pemanen 20 orang kehilangan hasil hanya 4,39%.

Hasbullah (2008) telah menguji coba pemanenan padi sistem kelompok dengan menggunakan kelompok jasa pemanen dan jasa perontok serta mengamati besarnya ceceran gabah, hasilnya menunjukkan bahwa kehilangan hasil pada pemanenan system kelompok relatif rendah, yakni 3,75%. Rinciannya adalah gabah rontok saat pemotongan padi 1,56%, gabah tercecer dari malai 0,85%, dan gabah yang ikut terbuang bersama jerami dari mesin perontok 1,34%, sebaliknya kehilangan hasil pada sistem keroyokan sangat tinggi yaitu 18,75%. Kehilangan hasil tersebut terdiri atas gabah rontok saat pemotongan padi 3,31%, gabah tercecer dari malai 1,86%, gabah tercecer saat penggebotan (peron- tokan) 4,97%, dan gabah yang tidak terontok 8,59%.

Titik kritis kehilangan hasil pada pemanenan padi terjadi pada tahap pemotongan dan pengumpulan potongan padi serta perontokan. Perbaikan teknologi penundaan perontokan dapat dilakukan dengan cara : menggunakan alas Terpal pada saat penundaan padi dan (2) penundaan boleh dilakukan tetapi tidak boleh lebih dari satu malam dengan tinggi tumpukan padi tidak lebih dari 1 m. Dengan implementasi teknologi penundaan tersebut dapat menekan kehilangan hasil antara 1,35 - 3,12% dan menekan terjadi butir kuning dan rusak antara 1,77 - 2,22%.

Padi dirontok dengan dua cara yaitu dengan cara manual (Gebotan) dipukul pada alat yang terbuat dari kayu atau bambu dan dengan cara Mekanis seperti mesin perontok yang telah dikembangkan, mulai dari mesin perontok manual, Pedal Thresher, Power Thresher dan Combine Harvester. Kinerja alat perontok dan kecepatan putaran silinder perontok akan menentukan tingkat kehilangan hasil.

Kecepatan putaran silinder perontok menentukan hasil perontokan. Penyebab utama kehilangan hasil pada perontokan padi adalah : (1) perilaku petani yang bekerja kurang hati-hati, (2) cara penggebotan dan frekuensi pembalikan padi, (3) kecepatan silinder perontok dan (4) besarnya wadah penampung yang digunakan pada saat merontok. Penggunaan mesin perontok selain dapat menekan kerhilangan hasil juga menjamin kualitas gabah.

Untuk kerja alat tersebut antara lain, Stiper dengan kapasitas pemanenan 17 jam/ha jauh lebih cepat dibandingkan dengan panen secara manual, sedangkan Combine Harvester kapasitas panennya 5,05 jam/ha. Penggunaan Stiper dapat menekan kehilangan panen dan perontokan 2,51%, sedangkan penggunaan Reaper dapat menekan kehilangan hasil 6,1%. Keberadaan sistem kelompok/regu panen berpengaruh terhadap jumlah gabah yang tidak terontok dan jumlah gabah yang tercecer. Solusi penanganan kehilangan hasil panen padi sawah perlu diperhatikan adalah bahwa secara ekonomis penerapan teknologi tersebut memberikan keuntungan dan manfaat bagi petani.

Adapun langkah- langkah yang harus ditempuh sebagai berikut.

1. Peningkatan Kemampuan dan Ketrampilan SDM

Pelatihan dan Pembinaan Sumber Daya Manusia Untuk menunjang keberhasilan dalam penerapan teknologi penanganan kehilangan hasil, sebaiknya disiapkan terlebih dahulu Upaya perbaikan penanganan pascapanen sebaiknya dimulai dengan peningkatan kemampuan dan ketrampilan petani dalam hal pascapanen padi, yang dimulai dengan pengenalan tahapan pascapanen, titik kritis tahapan pascapanen yang dapat menimbulkan potensi kehilangan serta cara mengatasi atau menekan kehilangan tersebut.

2. Teknologi Spesifik Lokasi

Teknologi penanganan kehilangan hasil yang dipilih untuk diterapkan harus teknologi yang sesuai dengan spesifik lokasi. Teknologi tersebut tidak bertentangan dengan masyarakat pengguna, baik secara teknis, ekonomis maupun sosial budaya masyarakat setempat.

3. Pembentukan dan Pemberdayaan Kelompok

Upaya perbaikan penanganan dan penanganan kehilangan hasil panen dengan penerapan teknologi panen yang baru, sebaiknya dilakukan secara berkelompok yang bersifat komersial dan mandiri, baik oleh kelompok tani, regu panen, dan pengusaha jasa alsintan dengan cara membentuk kelembagaan jasa pemanen, jasa perontok, jasa penjemuran, dan jasa penggilingan, sehingga nilai tambah yang diperoleh dapat dirasakan oleh seluruh anggota kelompok.

4. Intervensi Pemerintah

Sudah waktunya pemerintah memperdayakan petani dengan menggunakan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) wadah penampungan yang bermutu untuk menampung hasil panen padi sehingga kehilangan hasil panen padi bisa ditekan sehingga bisa tercapai tujuan pemerintah untuk swasembada beras. (***)