MALUKUnews: Diera seperti ini, perilaku panjat sosial atau yang dikenal sebagai social climbing semakin sering ditemukan. Tak jarang, kita mendapati sosok yang belum maupun telah dikenal menggunakan akun media sosialnya untuk mencari ketenaran atau pengakuan dari publik.

Sesungguhnya, ini adalah perilaku manusia yang wajar. Apakah itu baik atau buruk? Itu tergantung motivasi dan bagaimana cara seseorang melakukannya.

Ada kebutuhan pengakuan sosial

Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan untuk bergaul dengan sesamanya. Kebutuhan ini umumnya didasari oleh adanya keinginan untuk berbagi, bercerita, atau berdiskusi.

Bagi sebagian orang, hal itu berakar dari kebutuhan yang lebih mendalam, yakni status dan pengakuan sosial untuk menancapkan eksistensinya di dunia. Bagi sebagian orang, adalah keistimewaan bila bisa menjadi yang pertama dalam segala hal atau memperoleh kesempatan yang tidak bisa didapatkan semua orang.

Misalnya, menjadi yang pertama mencicipi makanan baru, melakukan hal yang tak lazim dan ekstrem, serta berfoto atau bahkan berkawan dengan tokoh terkenal.

Inilah hal-hal yang kemudian memicu fenomena panjat sosial. Fenomena ini kian marak di antara generasi milenial, khususnya yang kerap menggunakan media sosial untuk mendapatkan status sosial tertentu.

Sisi buruk perilaku panjat sosial

Kemunculan perilaku panjat sosial kerap berakar dari rendahnya harga diri dan kecenderungan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Pada intinya, kebanyakan pelaku panjat sosial tidak pernah merasa aman atau percaya diri. Orang lain akan selalu dianggap lebih baik dalam hal karier, penampilan, kualitas, dan kepribadian.

Karena hal ini, mereka menggunakan keberadaan orang lain yang status sosialnya lebih tinggi untuk meningkatkan harga dirinya. Cara pertama, dengan sesering mungkin menyebut atau me-mention nama orang-orang yang terkenal atau merasa dirinya kenal baik dengan orang tersebut, meski pada kenyataannya tidak. Pada umumnya, mereka hanya mau berteman dengan orang-orang yang status sosialnya lebih tinggi agar terlihat ‘wow’ di mata orang lain.

Cara kedua, dengan memanfaatkan orang lain untuk naik status sosial. Tak perlu banyak-banyak, cukup satu dua orang yang berpengaruh dan memiliki status sosial yang lebih tinggi. Pelaku panjat sosial akan rela melakukan apa saja untuk teman barunya itu dan seiring berjalannya waktu, temannya ini akan ditinggalkan kala ia berhasil naik status sosial.

Karena niat berteman didasari oleh keinginan untuk populer saja, bukan karena tulus ingin berteman, pelaku panjat sosial tidak akan pernah membangun pertemanan yang sejati. Meski cara-cara ini tidak patut, banyak yang menggunakannya karena cepat menaikkan popularitas dan status sosial. Publik pun lebih tertarik untuk mencari tahu kala ada hal-hal yang berbau negatif ketimbang positif.

Sisi baik perilaku panjat sosial

Sebaliknya, pelaku panjat sosial yang menggunakan cara-cara positif dan membangun, akan memiliki banyak kawan. Memang butuh waktu lebih lama, tetapi ketika telah mencapai status sosial yang diinginkan, dia sudah memiliki basis pendukung yang setia.

Sebagian pendukungnya bahkan cenderung fanatik dan sebisa mungkin membela sang pelaku panjat sosial ketika di-bully. Bila dilakukan dengan cara-cara yang patut, perilaku panjat sosial juga bisa dimanfaatkan untuk melakukan pendekatan terhadap orang-orang penting atau mendapatkan beragam peluang positif yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Hal ini bisa menjadi sarana bagi para pelakunya untuk memajukan atau mencapai aktualisasi diri. Pelaku panjat sosial juga bisa melebarkan relasi, yang tentu bisa berdampak positif bagi dirinya.

Jadi, baik atau buruk?

Tak bisa dimungkiri bahwa setiap orang memiliki pilihan dan kesempatan yang terbatas untuk menjadi atau mendapatkan sesuatu. Meski tak selalu buruk, perilaku panjat sosial yang didasari oleh motivasi dan cara yang salah bisa menjadi tanda ada sesuatu yang tak beres dalam kehidupan para pelakunya.

Mungkin saja, para pelakunya tak pernah memahami atau merasakan arti yang sebenar-benarnya dari kebahagiaan, berkat, dan rasa syukur. Begitupun dengan rasa cinta dan makna sejati dari hubungan antarmanusia.

Melakukan panjat sosial boleh-boleh saja, tapi lakukan dengan elegan dan cara-cara yang patut. Jangan sampai, standar kesuksesan dunia membuat Anda rela melakukan apa saja demi mendapatkannya. Pada akhirnya, bukan status sosial yang akan diingat orang, melainkan kebaikan, cinta, dan hal-hal positif yang Anda tularkan kepada orang-orang di sekitar Anda. HNS/ RVS

Sumber: klikdokter.com