MALUKUnews, Jakarta: Meski beberapa program telah dicanangkan oleh Kemenko Kesra dan Kemenkes, namun Angka Kematian Ibu (AKI) tetap tinggi dan bahkan mengalami peningkatan. Apa saja faktor penyebabnya?

"Dari hasil analisis, ternyata 82 persen kematian terjadi di usia muda, kurang dari 15 tahun dan di antara 15-20 tahun. Ini ditengarai karena tingginya nikah muda dan perilaku seksual remaja yang bergeser lebih muda," papar staf ahli Menkokesra bidang MDGs, Dr dr Tb. Rachmat Sentika, SpA, MARS, dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Gedung Kemenko Kesra, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (6/5/2014).

Perubahan perilaku ini dikhawatirkan meningkatkan angka kehamilan di usia muda, aborsi, serta kematian ibu maupun bayi saat proses melahirkan. "Karena itu kampanye untuk menunda pernikahan usia dini harusnya dilakukan bukan pada siswa SMA atau mahasiswa lagi, tapi pada siswa SMP," terang Rachmat.

Selain itu, faktor lain seperti kurangnya ketersediaan, keterjangkauan, dan kualitas layanan fasilitas kesehatan untuk ibu turut mempengaruhi. Jumlah bidan memang mengalami peningkatan, namun karena berbagai penyebab kompetensi dan kualitasnya masih perlu diperbaiki.

"Dokter umum hanya 5 persen yang bisa menolong persalinan. Selain itu terjadi pula kelangkaan dokter spesialis, misalnya anestesi di Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Papua Barat," papar Rachmat.

Infrastruktur juga hampir pasti ditengarai menjadi penyebab utama sulitnya seorang ibu mencari pelayanan kesehatan, terutama di wilayah pedalaman. Data Riskesdas 2010 mencatat 84 persen ibu meninggal di rumah saat proses melahirkan karena sulitnya infrastruktur dan jarak tempuh ke fasilitas kesehatan.

"Pada jam-jam pertama di hari Sabtu atau Minggu juga angka kematiannya tinggi. Ini membuktikan sulitnya akses ke rumah sakit sehingga tenaga kesehatan kesulitan menolong pasien dalam kondisi sangat gawat," terang Rachmat. (detik.com)

(ajg/vit)