MALUKUnews: Biasanya, aliran urine hanya satu pancaran lurus. Namun, suatu hari saat sedang berkemih, Anda mendapati aliran kencing bercabang. Tentu saja kondisi ini bikin Anda bertanya-tanya sekaligus waswas! Apa yang sebenarnya terjadi?

Kencing bercabang atau split stream urination adalah kondisi pengeluaran urine atau air kencing yang terbelah menjadi dua arah yang berbeda. Meski bisa terjadi pada pria maupun wanita, tetapi fenomena ini lebih sering dijumpai pada kaum adam. Kabar baiknya, keadaan pancaran urine yang terbelah ini umumnya normal terjadi dan tidak berbahaya.

Berbagai Penyebab Kencing Bercabang

Dalam kondisi yang tidak berbahaya, bercabangnya pancaran urine disebabkan oleh bentuk atau susunan anatomi lubang saluran kencing yang berbeda-beda. Itulah mengapa, pria yang punya satu aliran kencing cenderung jarang mengalami kencing bercabang, sedangkan pada pria yang punya dua aliran urine akan lebih sering mengalami kencing bercabang.

Selain berkaitan dengan susunan anatomi saluran kencing, dr. Astrid Wulan Kusumoastuti dari KlikDokter mengatakan bahwa aliran buang kecil yang bercabang juga bisa diakibatkan oleh suatu kelainan. Kelainan yang dimaksud adalah penyempitan jalan keluar kencing atau striktur uretra.

“Penyempitan tersebut terjadi karena ada riwayat trauma atau benturan yang melibatkan saluran kencing, batu saluran kencing, atau pemasangan selang kateter atau prosedur medis lainnya yang melibatkan uretra,” jelas dr. Astrid.

Selain itu, pria yang tidak disunat lebih berisiko mengalami aliran kencing bercabang. Dokter Astrid mengatakan, preputium (kulup) memang dapat mengubah arah aliran kencing menjadi dua arah.

Namun, pria yang sudah disunat jangan lega dulu, karena tetap bisa mengalami kencing bercabang akibat terkena penyakit menular seksual dan kondisi ini lebih berbahaya.

Satu lagi, infeksi juga bisa mendasari gangguan berkemih tersebut.

“Infeksi di saluran kencing atau kelamin, seperti gonore, mampu membuat saluran kencing menjadi lebih sempit. Alhasil, aliran urine pun menjadi terpisah dan bercabang,” dr. Astrid menambahkan.

Perlukah khawatir?

Jika penyebabnya adalah perbedaan anatomi lubang saluran kencing atau penis yang tidak disunat, Anda tak perlu cemas. Karena, hal tersebut tidak menimbulkan gejala lain yang perlu dikhawatirkan.

Namun, bila tidak ada perbedaan anatomi lubang saluran kencing dan penis sudah disunat, inilah yang perlu dicurigai. Karena, bisa jadi keluhan urine yang terbelah disebabkan oleh kondisi medis tertentu, yaitu gonore atau striktur uretra.

Gonore, atau kerap disebut sebagai kencing nanah, gejala awalnya adalah rasa gatal dan panas di sekitar area saluran kencing. Nyeri pun dirasakan saat berkemih. Setelah selesai, akan keluar nanah dari ujung lubang kencing yang kadang disertai darah.

Bila infeksi sudah semakin lanjut, nyeri akan semakin bertambah dan nanah jadi semakin kental dan keruh. Tak cuma saat kencing, penderita gonore juga akan merasa nyeri dan mengalami pembesaran kelenjar getah bening di selangkangan ketika penis ereksi. Pada kasus striktur uretra, gejalanya adalah nyeri dan sensasi panas saat pipis, penderita tak mampu mengontrol proses buang air kecil, mudah beser tetapi urine yang dikeluarkan sedikit, ada darah pada air kencing dan sperma, hingga rasa nyeri di perut bagian bawah.

Kencing bercabang bisa menjadi suatu hal normal, tetapi bisa juga diakibatkan oleh kondisi medis yang perlu segera ditangani. Untuk mendapatkan diagnosis yang lebih pasti, lakukan pemeriksaan ke dokter, sesimpel saat merasakan gejala yang membuat Anda tak nyaman. Bila memang ditemukan adanya gangguan, maka dokter bisa segera memberikan terapi terbaik sesuai kondisi. (RN/RPA)

Sumber: klikdokter.com