MALUKUnews: Stroke adalah penyakit yang bisa mengubah total hidup penderitanya. Setelah serangan, salah satu aspek perawatan yang penting adalah terapi rehabilitasi agar penderita bisa menjalani hidup dengan optimal.

Pasca serangan stroke, tak sedikit pasien yang mengalami masalah pada fungsi fisik, bicara, bahkan mental dan kognitif.

Nah, di sinilah pentingnya terapi stroke agar pasien bisa kembali beraktivitas dengan mengoptimalkan fungsi tubuh yang masih bisa dimaksimalkan.

Jenis-Jenis Terapi Stroke yang Bisa Dipilih

Ada berbagai jenis terapi rehabilitasi yang bisa diberikan pada pasien pasca serangan stroke. Pemilihannya sendiri harus disesuaikan dengan kondisi, kemampuan, dan kebutuhan masing-masing pasien.

Berikut di bawah ini adalah beberapa jenis terapi rehabilitasi pasca stroke yang bisa dilakukan.

1. Aktivitas Fisik

Terapi jenis ini meliputi:

• Latihan Fungsi Motorik

Latihan ini berfungsi untuk membantu memaksimalkan kekuatan dan koordinasi otot. Termasuk di antaranya adalah latihan berjalan dan menelan.

• Latihan Mobilisasi

Tak sedikit pasien pasca serangan stroke yang butuh alat bantu untuk mobilisasi diri akibat keterbatasannya. Alat bantu yang dimaksud bisa berupa tongkat atau kursi roda.

Fungsi dari latihan ini adalah agar pasien familier dengan alat bantunya, sehingga ia bisa mandiri dalam bergerak.

• Terapi Range of Motion

Range of motion bermakna jangkauan, dan terapi ini berfungsi untuk meregangkan ketegangan otot atau kekakuan yang kerap terjadi pada pasien pasca serangan stroke.

2. Terapi dengan Bantuan Teknologi

Jenis terapi yang bisa dilakukan antara lain:

• Stimulasi Listrik

Dalam berbagai fasilitas rehabilitasi stroke telah tersedia alat terapi stimulasi listrik untuk merangsang kontraksi otot yang melemah akibat serangan.

Terapi ini berfungsi untuk membantu memicu memori otot pasca serangan stroke.

• Teknologi Robotik

Alat bantu terapi robotik bisa diterapkan untuk membantu anggota gerak yang terdampak serangan stroke agar bisa kembali kuat, dengan cara melakukan berbagai gerakan repetitif.

Meski masih belum banyak tersedia, tetapi beberapa pusat rehabilitasi besar sudah memiliki alat terapi stroke ini.

• Terapi Emosi dan Kognitif

Pasca stroke, banyak pasien mengalami perubahan emosional dan kognitif. Terapi di bawah ini bisa membantu.

• Terapi Kognitif

Serangan stroke tak hanya memengaruhi fungsi alat gerak, tetapi juga fungsi saraf, termasuk kemampuan kognitif otak.

Misalnya, terganggunya daya konsentrasi, gangguan memori, masalah pada perencanaan dan pemecahan masalah, kebingungan, dan sebagainya.

Itu semua terjadi akibat kerusakan otak. Perlu diketahui, masing-masing bagian dari mengatur hal-hal yang berbeda.

Jika bagian otak yang bertugas mengontrol kognisi rusak akibat stroke, maka akan berdampak pada kemampuan dalam melakukan hal-hal tertentu.

Nah, terapi kognitif berfungsi untuk mengoptimalkan kembali fungsi otak untuk berpikir, mengingat, bersosialisasi, termasuk memecahkan masalah.

• Terapi Komunikasi

Fungsi lain yang juga bisa terganggu pasca serangan stroke adalah kemampuan untuk berkomunikasi, seperti berbicara dan menulis.

Pada gangguan dalam berbicara misalnya, bisa diakibatkan oleh gangguan koordinasi di otak, atau bisa juga akibat gangguan motorik di mulut dan lidah.

Cara terapi stroke ini bisa berupa terapi wicara untuk membantu pasien untuk mengembalikan kemampuan berkomunikasi pasca stroke.

• Evaluasi Psikologis

Berbagai keterbatasan fisik dan aktivitas yang dialami setelah serangan stroke bisa sangat memengaruhi kondisi psikologis.

Untuk itu, evaluasi psikologis dan manajemen bisa dilakukan, misalnya bergabung dalam support group untuk mendukung kondisi psikologis pasien.

Mendampingi Rehabilitasi Pasien Pasca Stroke

Bila kebetulan Anda merupakan kerabat atau pendamping pasien pasca stroke, ada beberapa hal yang sebaiknya diketahui untuk membantu mempermudah proses terapi dan rehabilitasi pasien tersebut, yakni:

• Kejar Rehabilitasi

Pada 3 bulan pertama, progres rehabilitasi pasien pasca stroke biasanya paling banyak mengalami kemajuan. Oleh karena itu, jangan tunda pemberian terapi segera setelah penanganan utama diselesaikan.

• Faktor-Faktor yang Memengaruhi Rehabilitasi

Ada banyak faktor yang memengaruhi tingkat kemajuan dan keberhasilan rehabilitasi pada pasien usai terkena stroke. Beberapa faktor yang kerap luput di antaranya adalah motivasi dan kondisi pasien sebelum serangan.

Ingat, rehabilitasi berfungsi untuk mengoptimalkan fungsi yang tersisa, bukan mengembalikannya seperti sebelum serangan.

• Jenis Terapi Bisa Beruba

Seiring dengan perkembangan pasien, jenis atau regimen, intensitas, dan kebutuhan terapi bisa berubah sesuai dengan kondisi terkini.

Jangan lupa untuk mengevaluasi kondisi pasien secara rutin agar pilihan terapinya bisa sesuai.

• Waspada Risiko Jatuh

Penderita stroke merupakan pasien yang berisiko tinggi untuk jatuh, sehingga perlu diperhatikan apakah area tinggal dan beraktivitas mendukung kondisi tersebut.

Sebagai contoh, perhatikan kondisi kamar mandi dengan memisahkan area kering dan basah, serta mempersiapkan pegangan di berbagai lokasi rumah untuk membantu pasien bergerak.

• Perhatikan Perubahan Tingkah Laku dan Kondisi Mental

Pasien pasca stroke rentan mengalami depresi karena keterbatasan beraktivitas yang dialami secara tiba-tiba.

Progres pemulihan yang lambat juga dapat menimbulkan rasa lelah secara mental. Ini bisa membuat pasien enggan meneruskan terapi karena merasa tak ada perubahan yang berarti.

Kondisi tersebut tak jarang mengganggu proses rehabilitasi karena timbul perasaan putus asa. Karenanya, jangan berhenti untuk mendampingi dan memotivasinya agar semangat dan positif dalam proses rehabilitasi.

• Waspadai Serangan Ulang

Meski telah mengalami serangan stroke, tetap perhatikan faktor risiko yang bisa membuat pasien mengalami serangan berulang. Faktor-faktor tersebut adalah: obesitas, hipertensi, diabetes, dan lain-lain.

Tetap jaga gaya hidup pasien dan konsumsi obat-obatan rutin agar stroke tidak kembali menyerang. Untuk menentukan terapi rehabilitasi stroke paling sesuai, pastikan ada pengawasan dan pendampingan dari dokter spesialis yang kompeten.

Pasalnya, perawatan pasca stroke melibatkan lebih dari satu departemen, seperti spesialis penyakit dalam, spesialis saraf, dan/atau spesialis rehabilitasi medik (RN/AYU)

Sumber: klikdikter.com