MALUKUnews: Kemunculan virus corona jenis baru yang bernama SARS-CoV-2 membuat gempar dunia. Virus ini muncul akhir tahun 2019 di kota Wuhan, provinsi Hubei, Cina. Kini, organisme tak kasatmata itu telah membuat banyak perubahan di seluruh belahan dunia.

Virus corona yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang ini membuat banyak pihak kewalahan. Ukurannya yang hanya sebesar 1 per 600 satu helai rambut manusia membuat virus corona menjadi musuh yang dapat menyerang secara diam-diam.

Parahnya, gejala infeksi virus corona biasanya baru muncul 14 hari kemudian. Virus ini pun bisa menyebar dengan sangat cepat, bahkan mampu menyebabkan ribuan kematian dalam waktu sekejap.

Penanganan pasien yang terinfeksi virus corona pun tidak main-main. Kondisi tersebut membuat seorang dokter atau perawat yang bertugas di garda terdepan sering ‘berpapasan’ dengan kematian, baik dari sisi pasien maupun dirinya sendiri.

Nah, kali ini Mindok akan menceritakan pengalaman bekerja di tengah pandemi virus corona bersama dengan rekan-rekan seperjuangan lainnya. Termasuk mereka yang bertugas sebagai perawat, petugas laboratorium, hingga petugas penanganan jenazah.

Kondisi Rumah Sakit Pasien Coronavirus

Seluruh dunia termasuk Indonesia sedang mengalami beban masalah yang kurang lebih sama. Salah satu di antaranya adalah kondisi rumah sakit yang kewalahan dalam merawat pasien coronavirus (COVID-19).

Pasalnya, Mindok dan pihak rumah sakit harus siap dengan segala bentuk ‘pemisahan’. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa pasien COVID-19 tetap dapat berobat dan tertangani dengan baik, sambil memastikan seluruh personel rumah sakit tetap terlindungi.

Seperti diketahui, penanganan pasien coronavirus memerlukan kewaspadaan tingkat tinggi. Ini karena pasien tersebut dapat dengan mudah menginfeksi para tenaga medis yang menangani. Atas dasar itulah, seluruh petugas medis mesti menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).

Alat Pelindung Diri yang lengkap dan memadai meliputi pelindung mata dan pelindung wajah, masker bedah atau masker N95, baju dan sepatu pelindung. Seluruh perangkat APD ini tidak nyaman untuk digunakan, karena panas dan membatasi ruang gerak. Belum lagi, sensasi gatal atau sakit karena seluruh perangkat APD harus dipastikan ketat agar menutup seluruh bagian tubuh tenaga medis yang merawat pasien virus corona secara langsung.

Kondisi rumah sakit dirasakan semakin runyam karena pasien terduga COVID-19 terus berdatangan tanpa henti. Saat ini saja, jumlah pasien yang dirawat tidak sebanding dengan jumlah tenaga medis yang ada. Hal ini menyebabkan tenaga medis juga menjadi sangat lelah. Padahal, tenaga medis juga harus memerhatikan kesehatan dengan makan teratur dan istirahat yang cukup.

Hal tersebut tidak hanya dirasakan oleh petugas medis yang mondar-mandir ruang isolasi. Nyatanya, petugas laboratorim juga harus bekerja tanpa henti selama 24 jam untuk menegakkan diagnosis.

Tentu saja, kami para tenaga medis harus bekerja dengan menggunakan APD yang sudah pasti terbayang betapa ribetnya. Penggunaan APD memang dapat meniminalkan risiko terpapar virus corona. Namun, pakaian sangat tertutup ini membuat Mindok dan rekan-rekan yang menggunakannya kesulitan untuk makan dan minum selama 6 jam atau lebih.

Selama durasi tersebut, Mindok dan teman-teman lebih memilih untuk tidak buang air kecil atau air besar ke toilet. Ini dilakukan semata-mata karena kerepotan harus melepas dan memakai kembali APD.

Dukungan Moral dari Masyarakat

Pasien COVID-19 dengan gejala ringan perlu dengan disiplin melakukan karantina atau isolasi mandiri di rumah. Sedangkan pasien dengan gejala sedang dan berat membutuhkan bantuan medis, sehingga perlu menjalani karantina virus corona di rumah sakit.

Data yang ada saat ini mengatakan bahwa sekitar 80% pasien COVID-19 mengalami gejala ringan dan kemudian akan sembuh sendiri. Namun, terdapat sekitar 15% pasien COVID-19 yang mengalami gejala sedang hingga berat dan 5% lainnya mengalami gejala kritis. Pasien COVID-19 yang mengalami gejala sedang, berat, dan kritis membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit virus corona. Tentu saja, penanganan pasien dengan gejala tersebut bisa sangat menguras tenaga, mental, dan seluruh sumber daya di rumah sakit.

Mindok dan rekan-rekan petugas medis terus melakukan yang terbaik untuk merawat dan mengobati pasien dengan gejala berat. Tentu saja, hal ini sangat membebani fisik dan mental sehingga sesekali terbesit keinginan untuk lari dari kenyataan.

Untungnya, pemikiran negatif seperti itu hanya Mindok rasakan sesekali saja. Soalnya, di tengah beratnya beban kerja melawan pandemi COVID-19 ini, ada cukup banyak hal yang membuat hati menjadi hangat.

Masyarakat tidak henti-hentinya memberikan dukungan moral maupun material kepada tenaga medis yang sedang berjuang di lini terdepan. Berbagai donasi mulai berdatangan ke pintu-pintu rumah sakit.

Donasi APD, makanan, dan vitamin yang datang seiring doa tulus dari seluruh masyarakat membuat Mindok dan rekan-rekan petugas medis bisa tetap kuat menghadapi pandemi ini.

Mindok mengalami sendiri betapa hangat dan tersentuhnya hati ini ketika menerima donasi sekotak nasi atau masker yang tidak seberapa jumlahnya. Tapi, ini merupakan bentuk doa dan kasih sayang masyarakat untuk kami para tenaga medis.

Tak kalah hebatnya, kami para tenaga medis juga mendapatkan dukungan dari keluarga tercinta. Kerelaan dan keikhlasan mereka untuk membiarkan Mindok dan teman-teman bekerja di lini terdepan merupakan salah satu yang mendongkrak semangat untuk terus berjuang tanpa merasa tidak putus asa.

Kadang kala memang terasa begitu sepi dan menyedihkan, karena kami tidak dapat bertemu dan berpelukan dengan orang terkasih untuk sementara waktu. Kami pun harus menguatkan hati untuk bertatap muka hanya lewat layar untuk sementara waktu. Belum lagi, kecemasan yang kami rasakan lantaran risiko tertular atau menularkan kepada anggota keluarga di rumah.

Mindok dan rekan-rekan sempat down ketika mendengar kabar penolakan jenazah tenaga medis yang gugur lantaran terpapar COVID-19. Hal ini sempat membuat kami merasa putus asa, bahkan terbersit keinginan untuk berhenti berjuang.

Namun, pemikiran negatif tersebut tiba-tiba sirna ketika kami mengingat sumpah profesi seumur hidup. Kami para tenaga medis bersumpah akan melindungi kehidupan sejak dari pembuahan. Untuk itu, yang dapat membuat kami terus berjuang adalah harapan bahwa pandemi COVID-19 ini akan segera berlalu. Tuhan yang menjaga kita semua!

Sobat KlikDokter yang ada di mana saja, Mindok mohon kerja samanya. Patuhi anjuran dari pemerintah untuk tetap berada di rumah saja. Lakukan juga physical distancing, dan cuci tangan dengan sabun secara berkala. Jika memang harus keluar rumah, gunakanlah masker dan pakaian tertutup.

Ingat, virus corona adalah musuh tak kasat mata yang bisa menyerang secara diam-diam. Sekalipun tidak mengalami gejala, Anda tetap bisa menularkan virus ini ke orang-orang tercinta. (NB)

Sumber: klikdokter.com