MALUKUnews, Jakarta: Kehidupan perkotaan saat ini memang rentan akan masalah dan stres, tapi cobalah untuk kendalikan stres yang Anda alami. Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa stres berlebihan di sekitar usia 40 tahun dapat meningkatkan risiko seorang wanita untuk terkena demensia.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 800 wanita Swedia, mereka yang mengalami kejadian-kejadian tertentu dalam hidup seperti perceraian atau kematian orang terdekat lebih mungkin untuk terkena demensia di usia tuanya nanti.

BMJ Open mengungkapkan bahwa semakin berat masalah dan tekanan pemicu stres yang dihadapi, maka semakin tinggi juga risiko demensia yang mungkin dimiliki oleh seorang wanita.

Para penulis penelitian tersebut mengatakan bahwa kondisi ini terjadi akibat adanya hormon stres. Hormon ini diketahui dapat memicu adanya perubahan berbahaya di otak. Hormon stres dapat menyebabkan sejumlah perubahan dan mempengaruhi hal-hal dalam tubuh seperti tekanan darah dan pengontrolan gula darah.

Salah satu peneliti yang terlibat, Dr Lena Johansson, mengungkapkan bahwa hormon stres ini bahkan dapat tetap berada pada tingkat tinggi bertahun-tahun setelah peristiwa traumatis itu terjadi, seperti dilansir BBC, Selasa (1/10/2013).

Dalam studi tersebut, 800 responden wanita menjalani serangkaian tes dan pemeriksaan ketika mereka berusia di akhir 30 tahun, pertengahan 40 tahun atau 50 tahun. Kemudian mereka diperiksa kembali pada interval yang teratur selama 4 dekade berikutnya.

Pada awal penelitian, 1 dari 4 wanita mengatakan mereka telah mengalami setidaknya 1 kali peristiwa yang membuat mereka stres, seperti ditinggal meninggal oleh suaminya atau kehilangan pekerjaan. Proporsi yang sama telah mengalami setidaknya 2 kali peristiwa pemicu stres, sementara 1 dari 5 wanita telah mengalami 3 kali peristiwa pemicu stres tersebut. Para wanita yang lain mengalami lebih dari 4 kali peristiwa atau bahkan tidak mengalaminya sama sekali.

Selama tindak lanjut, 425 responden meninggal dan 153 responden terkena demensia. Ketika peneliti melihat kembali mengenai wanita stres di usia paruh baya, mereka menemukan adanya hubungan antara stres dan risiko demensia.

Dr Lena mengatakan penelitian masa depan harus mencari tahu bagaimana manajemen stres dan terapi perilaku terbaik untuk dapat membantu mengimbangi demensia. Ia juga menjelaskan bahwa studi ini akan dilanjutkan untuk mengkonfirmasikan apakah hubungan antara stres dan demensia juga mungkin terjadi pada pria.

Dr Simon Ridley, dari Alzheimer Research UK, menyarankan bahwa jika Anda merasa stres atau khawatir tentang kesehatan Anda secara umum, maka sebaiknya segera dikonsultasikan dengan dokter. Agar apa penyebabnya dapat diketahui sedini mungkin dan tak berkembang menjadi kondisi yang serius. (Sumber: Detikcom/ajg/vta)