MALUKUnews: Kasus COVID-19 akibat virus corona strain baru, SARS-CoV-2, terus bertambah. Total infeksi global per Rabu (6/5) adalah 3.677.165 kasus positif. Di Indonesia sendiri, jumlahnya sudah lebih dari 12 ribu dan akan terus bertambah.

Ada temuan menarik tentang virus corona di Indonesia. Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro mengatakan, tipe virus COVID-19 yang ada di Indonesia berbeda dengan di negara lain. Penyebabnya adalah mutasi. Ini tentu saja berimbas pada pembuatan vaksin.

Genome Virus Corona di Indonesia Tak Termasuk Tiga Tipe yang Ada di Dunia

Temuan tentang perbedaan virus corona di Tanah Air ini dikemukakan oleh Bambang saat Bambang rapat dengan Komisi VI, VII, dan IX DPR.

Mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional ini mengatakan, Indonesia telah mengirimkan tiga whole genome sequencing (WGS) untuk melihat karakter COVID-19.

Ketiganya merupakan WGS pertama yang dikirimkan Indonesia ke GISAID, yaitu organisasi nirlaba yang menyediakan akses publik tentang koleksi paling lengkap data urutan genetik virus influenza, serta data klinis dan epidemiologi yang terkait lewat database-nya.

Ternyata, tipe WGS yang dikirim dari Indonesia berbeda dengan tipe utama lainnya yang ada di dunia.

"Tadi pagi kami sudah mendapat update dari Prof. Amin Subandrio, Kepala Eijkman, mengenai analisa dari 3 WGS yang dikirim ke Indonesia. Sejauh ini, dari informasi GISAID, ada tiga tipe COVID-19 yang ada di dunia, ada tipe S, tipe G, dan tipe V," kata Bambang.

"Di luar tiga tipe itu ada yang disebut sebagai tipe lain, yang belum teridentifikasi. Ternyata whole genome sequences yang dikirim Indonesia termasuk kategori yang lainnya," jelasnya.

Virus Corona di Indonesia Bermutasi

Perbedaan tipe virus corona di Indonesia bukan tanpa alasan. Menurut penjelasan Kepala Lembaga Biologi Molekular Eijkman, Amin Soebandrio, hal ini bisa terjadi karena adanya mutasi.

Mutasi suatu hal yang biasa terjadi dalam kehidupan virus sebagai cara untuk mereka bertahan.

"Semua virus itu sudah mutasi, karena kalau tidak bermutasi maka tidak berbeda," kata Amin seperti dikutip dari Detik.com.

Hal serupa juga diungkapkan oleh dr. Devia Irine Putri. Ia menegaskan bahwa banyak faktor yang menyebabkan virus bermutasi. Hanya pemeriksaan PCR yang bisa mengecek virus bermutasi atau tidak.

"Mungkin saja bermutasi. Banyak faktor yang menyebabkan virus corona bermutasi, bisa untuk bertahan diri, entah dari faktor tubuh penderitanya atau dari faktor lingkungan," ungkap dr. Devia kepada KlikDokter.

"Tapi kalau lihat mutasi harus dicek PCR untuk tahu ini berbeda dari yang virus corona awal atau tidak. Sebab, dari PCR kita bisa lihat materi genetik DNA dan RNA-nya," sambungnya.

Vaksin COVID-19 Baru Akan Ada Awal Tahun 2021

Penemuan materi genetik atau WGS ini sangat diperlukan untuk pengembangan vaksin nantinya. Menurut Menristek, vaksin virus corona kemungkinan baru tersedia paling cepat awal tahun depan.

"Mengenai waktunya masih sulit diperkirakan, meskipun Eijkman mengatakan kemungkinan paling cepat satu tahun kira-kira dari bulan Maret kemarin. Mudah-mudahan awal tahun depan sudah ada berita baik," ujar Bambang dalam rapat gabungan dengan DPR secara virtual pada hari Selasa (5/5).

Bambang juga menegaskan bahwa ada kerja sama dengan pihak luar negeri untuk mempercepat penemuan vaksin corona COVID-19. Tujuannya agar nantinya vaksin lebih efektif, terutama untuk jenis virus yang ada di Indonesia.

Menristek juga sedang meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk sedikit melonggarkan aturan peralatan medis, terutama yang buatan Indonesia, supaya Indonesia bisa cepat dalam mengatasi wabah virus corona.

Disampaikan oleh Bambang, apa yang dimintanya itu sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo agar impor alkes mulai dikurangi, bahkan distop.

"Kami mohon kepada Kemenkes, ada beberapa hal yang membutuhkan semacam relaksasi. Relaksasi tanpa mengorbankan safety," ujar Bambang.

Aturan yang dimaksud adalah Cara Pembuatan Alat kesehatan yang Baik (CPAKB) yang diatur dalam Permenkes Nomor 20 Tahun 2017.

Bambang turut berjanji bahwa relaksasi tersebut nantinya tidak akan mengorbankan kualitas peralatan kesehatan buatan dalam negeri. Katanya, hal ini sudah dibicarakan dengan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

Ia beralasan bahwa ini adalah situasi darurat, sehingga relaksasi diperlukan supaya bisa mempercepat penanganan COVID-19.

Misal, uji klinis ventilator selama ini bisa menghabiskan waktu yang cukup lama. Padahal, Indonesia sedang butuh banyak alat tersebut.

Pemerintah, baik pusat maupun daerah, tentu tengah disibukkan dengan penanganan penyebaran virus corona di Tanah Air, apalagi pada masa jelang mudik seperti ini. Anda bisa membantu menekan laju penularan dengan tetap di rumah. (RN/AYU)

Sumber: klikdokter.com