MALUKUnews: Merasa kecanduan media sosial terus memantaunya setiap waktu. Misalnya, saat makan, kerja, bahkan saat bersama orang lain? Apalagi sampai memengaruhi kesehatan mental? Itu salah satu tanda Anda mesti detoks media sosial.

Di tengah perkembangan teknologi yang pesat dan dinamis, pola komunikasi masyarakat pun ikut berubah. Media sosial telah menjadi salah satu bagian besar dalam perubahan tersebut.

Kini, mencari tahu kabar rekan atau sahabat lama tak lagi sulit—cukup lihat akun media sosialnya dan seketika Anda tahu kegiatannya. Selain itu, selebritas atau figur publik lainnya pun bisa dengan mudah dijangkau melalui media sosial.

Lebih jauh lagi, media sosial bertransformasi menjadi peluang bisnis, tempat mencari pekerjaan, hiburan, bahkan tempat seseorang mengaktualisasi diri.

Fungsi-fungsi media sosial yang disebutkan tadi membuat banyak orang sulit untuk tidak mengecek notifikasi media sosial yang masuk. Bahkan, tak sadar telah kecanduan.

Kecanduan di sini meliputi terus-terusan memantau media sosial; terus mengeceknya saat sedang bersama teman, pasangan, atau orang lain; hal pertama yang dicek setelah bangun tidur; atau sampai menganggap medial sosial lebih “nyata” dari kehidupan nyata.

Bila Anda mengalami tanda-tanda di atas, pertimbangkan untuk melakukan social media detox.

Detoks Media Sosial, Kapan Diperlukan?

Detoks media sosial adalah sebuah upaya secara sadar untuk membatasi penggunaan media sosial selama periode waktu tertentu. Mengapa langkah ini perlu dipertimbangkan?

Pertama, detoks media sosial bisa membantu menjaga kesehatan mental. Hubungan antara sosial media dengan kesehatan mental seseorang telah menjadi hal yang menarik untuk diteliti dan banyak ahli sudah melakukannya.

Hasilnya menunjukkan, pengguna aktif media sosial rentan mengalami gangguan kesehatan jiwa. Misalnya, cemas, kesepian, depresi, hingga gangguan fokus dan konsentrasi.

Lebih banyak akun dan jenis media sosial yang dimiliki, lebih tinggi pula risiko mengalami gangguan psikis di atas.

Hal ini diyakini terjadi karena berjejaring di dunia maya dapat menumbuhkan perasaan harus available dalam 24 jam sehari. Ini untuk merespons pesan, memberi komentar, atau sekadar mengunggah konten di media sosial.

Perasaan tersebut lama-lama akan menjadi pemicu stres dan berpengaruh pada kondisi emosi dan mental seseorang.

Kedua, detoks media sosial bisa meningkatkan kualitas tidur. Berapa banyak di antara Anda yang cek media sosial sebelum tidur? Begadang karena kelamaan menjelajah akun media sosial gosip atau selebgram favorit?

Ya, salah satu dampak buruk penggunaan media sosial adalah gangguan tidur. Banyak orang yang mengorbankan waktu tidurnya hanya untuk bermain media sosial. Padahal, tidur adalah kebutuhan tubuh dasar manusia.

Kurang tidur dapat menyebabkan berbagai penyakit di kemudian hari. Penelitian menunjukkan, gangguan tidur dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, obesitas (kegemukan), dan penyakit metabolik lainnya.

Satu lagi yang juga penting, detoks media sosial bisa mengoptimalkan produktivitas. Sebuah penelitian menunjukkan, rata-rata 60 menit per hari dihabiskan untuk bermain media sosial.

Waktu sebanyak itu sebetulnya bisa dialokasikan untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan.

Berapa Lama Efektifnya Detoks Media Sosial Dilakukan?

Tiga poin penting yang dijelaskan di atas membuat detoks media sosial dirasa perlu. Para ahli pun menyarankan para pengguna media sosial.

Khususnya, yang mulai merasa ketergantungan, bahkan kecanduan, untuk membatasi waktu penggunaannya.

Sejauh ini memang belum ada kesepakatan berapa lama waktu yang efektif atau ideal untuk social media detox. Namun, secara umum waktu yang dianjurkan adalah 30 hari.

Anda bisa memula detoks secara bertahap selama 7 hari terlebih dulu, kemudian lebih lama. Ada laporan bahwa beberapa orang ada yang berhasil melakukannya dalam waktu setahun tanpa media sosial. Wow!

Selama detoks, Anda harus benar-benar absen dari jagat dunia maya. Sulit? Ya, memang awalnya sulit. Namun, beberapa tips ini bisa membantu Anda untuk memulai perjalanan detoks media sosial.

  • Minta Bantuan

Cari rekan yang bisa diandalkan untuk mengingatkan Anda selama detoks berlangsung. Karenanya, beritahu teman, sahabat, pasangan, atau anggota keluarga lainnya bahwa Anda sedang detoks media sosial.

Minta bantuan mereka untuk rajin mengingatkan supaya Anda tidak tergoda untuk untuk membuka media sosial.

  • Hapus Aplikasi Media Sosial dari Gawai

Bila tidak dihapus, godaan untuk membuka aplikasi tersebut akan tetap ada, dan Anda akan mencari-cari alasan untuk melakukannya.

Sebagai alternatif, Anda juga bisa mengunduh software atau aplikasi tertentu di smartphone atau laptop yang bisa memblokir media sosial baik di aplikasi maupun situs web.

Tujuannya adalah supaya Anda tetap bisa fokus pada prioritas atau aktivitas utama.

  • Rencanakan Kegiatan Selama Detoks

Isi waktu dengan kegiatan lain selama periode detoks. Misalnya dengan menyelesaikan tugas, membaca buku yang sudah berbulan-bulan belum juga selesai, mendengarkan musik atau podcast, menekuni hal baru, olahraga, menulis, memperbanyak networking, dan sebagainya.

Khawatir akan tertinggal berita terkini alias fear of missing out (FOMO)? Anda bisa membaca media cetak atau membuka laman berita lewat browser.

Bila ingin tahu kabar teman-teman, alih-alih membuka media sosial, Anda bisa menanyakannya secara langsung dengan mengirim pesan atau meneleponnya. Detoks media sosial akan membantu Anda berkomunikasi secara nyata.

Sebetulnya jangan menunggu sampai merasa kecanduan untuk akhirnya memutuskan untuk social media detox. Tak ada salahnya untuk mencoba dan mengamati efeknya, baik pada fisik, mental, dan produktivitas, setelah mencoba detoks selama periode waktu tertentu.

Bila Anda punya pertanyaan seputar masalah kesehatan mental ini, coba gunakan fitur LiveChat di aplikasi KlikDokter. Selamat mencoba! (RN/AYU)

Sumber: klikdokter.com