MALUKUnews, Namlea: Mahasiswa asal Alor NTT yang datang ke Namlea bersama teman-temannya asal Buru di duga menggunakan identitas palsu.

Informasi yang dihimpun media di Namlea. Bahwa pasien PDP yang awalnya diketahui berinisial “A” ini, ternyata terungkap menggunakan ia inisial palsu. Inisial sebenarnya adalah AMM.

Onkum ini, terindikasi kuat datang ke Kabupaten Buru menggunakan identitas milik orang lain. Ia menggunakan identitas mahasiswa bernama AE alias Ansar Ekay yang beralamat di Desa Maiwal, RT/RW 003/002, Kecamatan Alor Barat Daya, Kabupaten Alor, NTT. Padahal, nama Ansar ini palsu, karena dikalangan mahasiswa selalu dipanggil AMM.

Sementara itu, beberapa oknum mahasiswa Buru dari Jakarta di media sosial facebook, antaranya Fandy Nacikit (Alfatih Putra Nacikit) menyerang media dengan menuding telah menyampaikan berita hoax terkait dengan pasein yang awalnya beridentitas A ini.

Ia juga menyalahkan Tim Gugus Tugas (Gustu) Covid -19 Kabupaten Buru karena membuka hasil Rapid Test kepada para wartawan melalui jumpa pers. Lebih para lagi, Ketua Umum HMI Komisariat Al Aqidah Cabang Jakarta, Herun Tasane yang sedang berada di Namlea melalui salah satu media online ikut menuding bahwa, ada permainan media lokal yang sangat masif terhadap mahasiswa asal NTT tersebut. Ia bahkan mengancam akan melapor ke polisi.

Dari hasil penelusuran lebih lanjut, identitas A yang pertama kali sampai ke media dan Tim Satgas Covid -19 Kabupaten Buru, ternyata palsu. Semula inisial A ini disebut sebagai Ansar Ekay, mahasiswa asal Alor NTT. Saat didata tim Satgas di lokasi karantina penginapan Senyum Bupolo Pasein PDP ini juga masih mengaku bernama Ansar.

Akibat terjadi berbeda identitas, maka sempat ditelusuri, siapa A atau AE alias Ansar Ekay yang beralamat di Desa Maiwal , RT/RW 003/002, Kecamatan Alor Barat Daya, Kabupaten Alor, Provinsi NTT. Ternyata, Ansar Ekay yang asli tidak pernah datang ke Namlea bersama mahasiswa asal Buru dari Jakarta.

Setelah terungkap saat dievakusi dan diisolasi di RSU Lala dan hasil Rapit Test menunjukan gejala positif, baru Ansar palsu ini membuka indentitasnya kalau dia berinisial AMM. Soal identitas ini sempat menjadi perdebatan. Nama pasien yang dicatat dokter dengan nama yang dicatat Tim Satgas Covid-19 Kabupaten Buru berbeda.

Akibat pengakuan berbeda-beda tadi, konon pihak Satgas Covid-19 telah menghubungi Fandy Nacikit yang telah sebulan berada lebih duluan di Namlea dan berkordinir untuk memulangkan mahasiswa Buru dari zona merah Jakarta.

“Ada Tim Satgas yang sudah telepon Fandy. Dia bicara taputar karena lindungi rekannya,” beber satu sumber terpercaya.

Karena informasi berbelit dari Fandy Nacikit itu, membuat banyak pihak, aparat keamanan, intel dan termasuk Kapolres Buru sempat mengontak Kapolres Alor guna menghubungi dan mengabari keluarga pasein A yang terakhir mengaku bernama AMM ini.

Dari berbagai upaya pencarian identitas A ini, akhirnya diperoleh identitas sebenarnya bahawa oknum A yang di kalangan rekan-rekannya mahasiswa adat Buru di Jakarta akrab dipanggil dengan nama pendek M inisial dari nama lengkapnya AMM. (Edhy)