Oleh: Hamja Loilatu (Ketua Bidang Advokasi & Kebijakan Publik Ampera Maluku)

MALUKUnews: Melihat apa yang terjadi hari ini di negeri yang betajuk Lolik Lalen Fedak Fena, beta sebagai pemuda Buru Selatan (Bursel) sangat malu melihat persoalan yang terjadi di Kabupaten itu.

Pemda Bursel kalau dilihat dari aspek kemampuan, maka telah menampilkan ketidakmampuan di hadapan publik lewat penyediaan KM.Banawa Nusantara 66, dengan kapasitas muatan 10 ton serta kapasitas penumpang 24 orang.

Ini sungguh memalukan, dan ini adalah bagin dari ketidakmampuan lobi Pemda Bursel. Olehnya itu, kapasitas kapal KM. Banawa Nusantara 66 jika dikalkulasikan dengan jumlah masyarakat pada 6 kecamatan yang ada di Bursel, maka kapal yang disediakan oleh Pemda Bursel itu tidak mampu mengangkut penumpang dari 6 kecamatan yang ada.

Ketua DPRD Bursel pernah menanggapi masalah ini, bahwa ini adalah bantuan kapal dari pemerintah pusat. Ini lebih lucu lagi. Menurut penilain saya selaku anak daerah Bursel bahwa jangan-jangan ini adalah kapal penghinaan untuk Pemda Bursel, dengan alasan Pemda tidak mampu menangani soal transportasi laut di Bursel.

Pemerintah pusat lewat kementerian perhubungan RI menghibahkan KM. Banawa Nusantara 66 guna membantu Pemda dalam menangani keluhan masyarakat. Kemudian lewat perkembangan jaman yang sungguh pesat ini, tetapi Pemda Bursel masih menyediakan kapal seperti layaknya kita hidup di zaman dahulu kala.

Yang dipertanyakan adalah, lalu apresiasi semacam apa yang diberikan kepada Pemda Bursel ?

Logika sederhananya, kalau pemerintah pusat memberikan kapal semacam ini kepada Pemda Bursel, berarti ini menggambarkan bahwa peemerintah pusat paham betul kualitas kemampuan Pemda serta DPRD Bursel dalam melakukan lobi.

Olehnya itu, saya selaku ketua bidang advokasi dan kebijakan publik Ampera Maluku dan juga putra daerah menawarkan nutrisi segar untuk Pemda, bahwa sejatinya kapal ini ‘dibakar’ saja sehingga Pemda Bursel dinilai mahal dihadapan pemerintah pusat lewat kementerian perhubungan itu. (***)