MALUKUnews, Dobo: Sebanyak 11 orang Anak Buah Kapal (ABK) KM. Merah Delima dan KM. Jaya Baru, kabur saat mereka sedang menangkap cumi di laut Aru. Mereka kabur akibat tidak tahan diperlakukan kasar diatas kapal. Selain itu, mereka dipaksa untuk kerja dan makan makanan yang sudah bercampur dengan minyak solar.

Dua kapal ikan itu beroprasi sebagai penangkap cumi di laut Aru. Mereka mengaku kabur saat kedua kapal itu berlabuh di salah satu desa yang jauh di kepualaun Aru. Selanjutnya mereka kemudian berinisiatif menumpang kapal cepat menuju kota Dobo. Atas kaburnya ABK itu, Perwakilan PT. Lautan Inti Makmur yang berada di Dobo yang membawahi dua kapal itu, kemudian melaporkan ke-11 ABK itu ke Mapolres Aru, Kamis (05/09).

Dalam kesaksiannya, 11 ABK ini mengaku, selama berada di kapal, mereka tidak tahan dengan mekanisme kerja yang sangat menguras tenaga mereka.

Dikisahkan oleh salah satu ABK KM. Merah Delima, Adi Prawito, diatas kapal mereka makan makanan yang tidak layak seperti tempe, sayur-sauran dan air minum yang berbau solar. Selain itu, juga minimnya obat-obatan, hingga kami kesulitan jika datang sakit. " Jika ngak kerja kami dipotong 2 kg hasil tangkapan cumi," ujar Adi.

Adi menambahkan, selama mereka berlayar, tidak ada kelengkapan administrasi. Kami kerja namun tidak memiliki kontrak kerja antara perusahan dan para ABK. “ Perusahan hanya pegang kami punya KTP asli. Teman saya ABK KM. Jaya Baru, atas nama Ahmad adhitya Hendarsyah dan Ade Rahmat Hidayat, mereka berdua juga sama sekali tidak memiliki administrasi, baik kontrak kerja, buku pelaut, asuransi, buku kuning maupun administrasi lainnya,” ujarnya.

Perwakilan PT. Lautan Inti Makmur, dalam tuntutannya di Mapolres Aru, meminta supaya 11 ABK ini membayar hutang mereka dengan toleransi selama satu minggu kedepan.

Sementara di Mapolres Kepulauan Aru, polisi berusaha untuk memediasi 11 ABK itu dengan pihak perusahan. (Latif)