MALUKUnews, Ambon: Walikota Ambon, Ricard Louhenapessy, memberikan pidato dalam rangka HUT Kota Ambon yang ke- 444, yang berlangsung pada sidang Paripurna DPRD Kota Ambon, Jumat (06/09), pagi.

Dalam pidatonya itu, Walikota Ricard Louhenapessy, mengatakan, ketika kita membaca sejarah panjang kota Ambon. Semenjak 7 September 1575 sampai dengan 7 September 2019, kita akan disuguhkan dengan kisah haru cengkeh dan pala yang mempesona dunia.

Kolonialisme, perjuangan heroik anak-anak negeri untuk kemerdekaan hingga akhirnya merdeka. Serta kisah kelam konflik kemanusiaann. Ada periode meletakan pondasi, membangun runtuh, lalu membangun kembali diatas puing-puing reruntuhan.

Sejarah kota Ambon tidak ada ditulis tentang kebesaran dan kemasyuran tapi juga tentang ratap tangis dan air mata.

Oleh karena itu, kata Walikota, sejarah jangan hanya dipandang sebagai pengetahaun semata-mata, tetapi sejarah harus dijadikan bahan refleksi untuk menata masa depan yang lebih baik. Dalam konteks itulah, maka pada kesempatan ini saya ingin mengingatkan kembali, bahwa, jika bercermin dari sejarah, maka kota Ambon sejak ratusan tahun yang lalu, maka secara sosial kultural, maupun sosial politik telah mengalami proses transformasi dan homogenitas kultural keheteterogenitas kultural.

Ambon bukan kristen, Ambon bukan islam, Ambon bukan katolik, Ambon bukan hindu, Ambon bukan Budha, ataupun konghucu. Ambon bukan tentang pribumi dan pendatang. Ambon bukan golongan atau etnis-etnis tertentu saja. Ambon adalah semuanya. “ Ambon adalah gabungan dan kemajemukan keberagaman. Ambon tumbuh dari barkah dan kearifan budaya orang basudara yang bernama pela gandong,” ujar Louhenapessy dalam pidatonya berapi-api itu. (Qin)