MALUKUnews, Ambon: Moluccas Democratization Watch (MDW) resmi mempidanakan CV. SBM dengan delik aduan “Dugaan Tindak Pidana Perusakan Lingkungan Hidup oleh PT. Sumber Berkat Makmur pada Petuanan Adat Desa Administratif Sabuai, Kecamatan Siwalalat, Kabupaten Seram Bagian Timur”.

Sebelumnya warga adat Sabuai memprotes aktivitas CV. SBM karena dianggap merusak lingkungan hidup dan situs-situs adat seperti kuburan leluhur pada areal yang menjadi aktivitasnya. Akibat protes itu, sekitar 26 warga adat Sabuai saat itu ditahan di Polsek Werinama namun kemudian dipulangkan tetapi 2 orang warga adat kemudian ditetapkan sebagai tersangka.

Setelah beberapa minggu kasus ini diproses beberapa kalangan di berbagai instansi dan tak kunjung memberi titik terang, akhirnya Lembaga Kalesang Lingkungan Maluku ini menempuh jalur hukum dengan melaporkan CV. SBM di Reskrimsus Polda Maluku, Selasa (10/03).

Koordinator Monitoring dan Advokasi MDW, Collin Leppuy, seperti dalam rilis yang diterima Malukunews.co, Selasa, malam ini, mengatakan, pelaporan pidana ini adalah bentuk respons moral dan etik lembaganya terhadap krisis ekologi yang terjadi di petuanan adat Desa Sabuai akibat dari aktivitas CV. SBM yang telah menimbulkan kerugian lingkungan dan sosial.

“Hemat kami, aktivitas CV. SBM telah menimbulkan kerugian lingkungan dan ketidakseimbangan ekologis di hutan yang menjadi petuanan adat masyarakat Sabuai. Disamping kerugian lingkungan, juga kerugian sosial karena dampaknya dirasakan warga Sabuai secara langsung seperti banjir dan longsor. Karena itu kami merespons kegelisahan masyarakat Sabuai dengan mempidanakan CV. SBM di Reskrimsus Polda Maluku”, tegas Leppuy.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa pemidanaan CV. SBM dengan delik aduan perusakan lingkungan hidup ini karena mereka (CV. SBM) beraktivitas di Petuanan Desa Sabuai tanpa adanya dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Amdal). (Red)